Nasihat

Pentingnya Berakhlak Mulia

Akhlak dalam Bahasa Arab adalah khuluq (khuluqun) yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat [1]. Dalam Islam, akhlak adalah cerminan bagi seorang muslim yang dia perlihatkan dalam kehidupan bermasyarakat. Akhlak ini juga yang menunjukkan sejauh mana pemahaman seorang muslim terhadap Islam.

Setiap pribadi muslim sangat menjunjung nilai-nilai akhlak. Kita sangat sadar bahwa agama itu adalah akhlak yang baik dan benar. Kita pun menyadari bahwa runtuhnya agama karena akhlak para pengikutnya. Rusaknya citra agama karena pemeluknya berakhlak buruk. Dapat pula kita ibaratkan bahwa nama gelas ditentukan oleh isinya. Bila gelas itu diisi dengan kopi, kita sebut segelas kopi. Betapa pun gelas itu kita beri hiasan atau diukir dengan kaligrafi yang bagus, bila kita isi dengan racun, ya tetap kita sebut segelas racun, bukan begitu?

Umumnya, di kalangan masyarakat muslim masih sedikit mutiara akhlak yang menerangi peradaban kehidupan. Umat Islam tenggelam dalam kecanduan ritual yang berpusatkan pada mazhab-mazhab fikih yang seringkali diakhiri dengan perbedaan tafsir dan pendapat. Orientasi yang berpusat pada fikih seringkali membuat kita menjadi orang asing di tengah-tengah saudaranya sendiri sementara akhlak yang bersifat universal dikesampingkan. Padahal, hanya dengan akhlak yang mulia sajalah setiap hati muslim dapat berpaut satu sama lain [2].

Allah Swt. berfirman, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (Q.S. Al-Ahzab: 21).

Betapa Rasulullah telah memberikan keteladanan akhlak mendahului hal-hal yang bersifat ritual. Bahkan, seorang ahli ibadah tidak ada nilainya di hadapan Allah ketika akhlaknya buruk, sebagaimana diriwayatkan tentang orang yang memuji-muji seorang yang ahli ibadah dan berkata, “Tentulah si fulan itu ahli surga, karena dia senantiasa shalat tepat pada waktunya, puasa sunnah tak pernah ditinggalkannya, setiap malam Jumat dia membaca Al-Quran, dia bangun tengah malam.” Kemudian Rasulullah Saw. menjawab, “Tidak! Dia ahli neraka! Seluruh ibadahnya hancur, karena dia punya akhlak yang buruk, suka merusak orang dengan lidahnya.” Si Fulan yang menjadi ahli ibadah tersebut, menjadi penghuni neraka karena ibadahnya tidak menjadi motivasi untuk beraklak baik.

Akhlak ini yang kadang dikesampingkan bagi sebagian kaum muslimin. Mereka kurang begitu memerhatikan akhlak-akhlak ketika bersosialisasi dengan orang lain, baik itu akhlak kepada teman, orang yang lebih tua, keluarga, dan yang lainnya. Padahal, Hisyam bin Amir pernah bertanya kepada Aisyah Ra.tentang akhlak Rasulullah, kemudian Aisyah menjawab, “Akhlak Rasulullah adalah Al-Quran.” (H.R. Muslim).

Maksud hadis tersebut adalah bahwa akhlak Rasulullah sangat sesuai dengan apa yang tertera dalam Al-Quran yang Allah turunkan. Di antara akhlak Rasulullah yang sesuai dengan Al-Quran yaitu dermawan, ramah, sabar, tidak sombong, tidak munafik, memuliakan anak yatim, menyayangi binatang, jujur, menghormati tamu, dan masih banyak lagi.

Banyak muslim yang sudah bagus dalam menjalankan ibadahnya, baik itu shalat, zikir, shalawat, dan ibadah ritual. Akan tetapi, dia justru kurang baik dalam berperilaku dalam kehidupannya. Dia justru menganggap bahwa ibadah hanya dengan menjalankan shalat dan dan ibadah ritual lainnya. Padahal, ibadah tidak hanya yang bersifat mahdhah (ibadah ritual) saja, tetapi ada juga ibadah yang bersifat ghairu mahdhah (ibadah sosial).

Bisa jadi, masing-masing kita menjadi musuh tersembunyi karena perbedaan fikih. Kita telah “mempertuhankan” mazhab dan kurang mengedepankan akhlak, khususnya dalam toleransi sesama muslim. Ukuran kesalehan kita bukan hanya diukur dari nilai fikih ritual. Padahal, begitu sangat nyatanya pelajaran yang dicontohkan oleh Rasulullah, bahwa seorang ahli ibadah itu menjadi penghuni neraka, mengapa? Karena ibadahnya itu tidak melahirkan atau mempercontohkan keteladanan akhlak.

Orang yang ahli ibadah tetapi berakhlak buruk, lupa pada makna shalat yang diawali dengan takbir, sebagai lambang penyerahan diri dan persiapan rohani. Kemudian, shalat itu diakhiri dengan salam sebagai komitmen untuk membuktikan shalatnya dalam kehidupan. Takbir merupakan lambang hablum minallah dan salam merupakan lambang hablum minannas.

Oleh karena itu, mari kita tunjukan hasil dari ibadah yang kita laksanakan setiap saat melalui akhlak yang baik, karena orang cenderung akan melakukan hal-hal yang orang lain lakukan. Apabila kita berakhlak baik, insya Allah kita pun bisa menjadi contoh bagi orang lain untuk bisa berakhlak baik.

Referensi:
[1] Jamil, Akhlak Tasauf, (Medan: Referensi. 2013)
[2] Toto Tasmara, The Secret of Iman, (Jakarta: Gema Insani, 2009)

Editor: Fadil Ibnu Ahmad

Dias Lutfiana

Dias Lutfiana

Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN SGD Bandung

Leave a Reply

X