Nasihat

Menyikapi Musibah yang Datang Melanda

Musibah adalah hal yang tidak dapat dihindari oleh manusia. Selain itu, musibah juga merupakan sesuatu yangtelah Allah tetapkan, meskipun kadang manusia memang memiliki andil juga dalam terjadinya suatu musibah. Musibah yang menimpa seseorang berupa sakit, kesulitan, kesusahan, kesedihan, bahkan duri yang menusuk sekalipun, memilki dua sebab, apa saja? Di antaranya merupakan hukuman dan penebus dosa. Jika merupakan hukuman, maka itu hukuman atas perbuatannya yang menyimpang dari kebenaran supaya dia sadar akan kesalahannya. Jika merupakan penebus dosa, maka musibah  tersebut sebagai pengikis dosa terhadap orang yang berbuat maksiat. Kemudian, jika dia bersabar dalam menghadapi musibah, maka di samping mendapat penghapusan dosa dia juga mendapatkan pahala atas kesabarannya. [1]. Maka dari itu, maksiat menjadi penyebab musibah-musibah yang menimpa umat. Sebagaimana firman Allah Swt.:

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍۢ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا۟ عَن كَثِيرٍۢ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Q.S. Asy-Syura: 30).

Tiada yang lebih mencintai kita daripada Allah Swt. Hanya Dialah yang mengurus kita dengan kasih sayang-Nya. Jika dosa bertumpuk, maka Dia menurunkan peringatan berupa musibah, penyakit, gundah, dan sebagainya. Semua itu adalah penghapus dosa, sebagaimana dijelaskan dalam banyak hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Dari Abu Hurairah ra., dia berkata, “Ketika turun, ‘Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu.’ (Q.S An-Nisa`: 123), kaum muslimin merasa keberatan mengenai hal itu, lalu mereka mengadukannya kepada Nabi Saw., beliau bersabda, ‘Berlaku adil dan berlaku luruslah, karena setiap (musibah) yang menimpa seorang mukmin, akan menjadi penebus (atas dosanya), bahkan tertusuk duri atau musibah yang menimpanya sekalipun.'”

Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa musibah merupakan ketentuan Allah Swt. yang harus dihadapi oleh umat manusia dengan bijak sebagai penghapus dosa dan kesalahan. Dengan adanya musibah tersebut, seseorang dapat menafakuri apa-apa yang telah diperbuatnya. Karena sesungguhnya Allah menurunkan musibah kepada umat manusia sebagai rasa kasih sayang kepada orang yang beriman, penghapus dosa, dan sebagai peringatan kepada oarang-orang yang selalu melanggar syariat Allah[2].

Musibah adalah rahmat-Nya, sebagaimana sabda Nabi Saw. bahwa setiap musibah bagi umat Nabi Saw. adalah penghapusan dosa. Sesungguhnya tak ada musibah yang abadi dan tak ada kenikmatan dunia yang abadi pula. Sungguh Allah membayar setiap kesusahan dengan limpahan anugerah berlipat ganda. Sebagaimana sabda Nabi Saw., “Barangsiapa yang wafat tiga anaknya, maka Allah haramkan orang tuanya dari neraka.” Maka para wanita bertanya, “Bagaimana kalau dua?” Maka Rasulullah menjawab, “Bahkan dua pun demikian.” (H.R. Bukhari).

Maka jelaslah bagaimana Allah tak membiarkan kesedihan yang menimpa hamba-Nya lewat begitu saja. Namun, duka mereka diganjar dengan anugerah-anugerah yang besar. Dan Allah sangat dekat pada hamba-Nya yang sedang dalam kesedihan dan duka. Firman Allah:

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌۭ مَّآ أُخْفِىَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍۢ جَزَآءًۢ بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

“Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. As-Sajdah: 17).

Apabila tertimpa musibah, sebisa mungkin kita menghadapinya dengan bijak. Bisa jadi, di balik musibah itu Allah menyiapkan sesuatu yang terbaik. Yang salah adalah ketika seseorang ditimpa suatu musibah, lalu orang tersebut seakan-akan menyalahkan Allah yang telah menimpakan musibah tersebut. Padahal apabila ditafakuri, musibah itu merupakan cobaan dari Allah untuk mengetahui sejauh mana keimanan seorang hamba tersebut kepada Tuhannya.

Seperti kata KH. Abdullah Gymnastiar, dalam satu ceramahnya beliau menyampaikan bahwa yang salah itu bukan musibahnya, tapi sikap kita yang salah dalam menyikapi musibah tersebut. Dengan demikian, kita tak perlu takut akan datangnya musibah. Yang perlu kita lakukan adalah belajar untuk menyikapi musibah tersebut dengan sabar dan semangat untuk berjuang kembali membangun apa-apa yang sudah kita ikhtiarkan. Setuju?

Allahu a’lam.

Catatan Kaki:
[1] Asy Sya’rawi, Mutawalli. “Bukti-bukti adanya Allah” 1998. Jakarta: Gema Insani
[2] Tasmara, Toto. “The Secret of Iman”. 2009. Jakarta: Gema Insani

Editor: Fadil Ibnu Ahmad

Dias Lutfiana

Dias Lutfiana

Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN SGD Bandung

Leave a Reply

X