Nasihat

Memperbanyak Rezeki dengan Silaturahim

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia ditakdirkan untuk hidup bersosial, yaitu selalu hidup dalam keadaan saling membutuhkan. Islam sangat memerhatikan hal ini dalam banyak pembahasan. Islam adalah agama yang menganjurkan pemeluknya untuk senantiasa berbuat baik. Amalan dalam Islam tidak hanya berupa ibadah ritual seperti shalat baik shalat, puasa, zakat dan sebagainya. Akan tetapi, untuk hal terkecil sekali pun seperti tersenyum, membantu orang lain, menyingkirkan duri dari jalan pun termasuk ibadah.

Silaturahim secara harfiah adalah menyambungkan kasih sayang atau kekerabatan yang menghendaki kebaikan. Secara istilah, makna silaturahmi antara lain dapat dipahami dari apa yang dikemukakan Al-Maraghi. Beliau menyebutkan, “Yaitu menyambungkan kebaikan dan menolak sesuatu yang merugikan dengan sekemampuan.” Sementara itu, Imam as-Shan’ani mendefinisikan bahwa silaturahim adalah kiasan tentang berbuat baik kepada kerabat yang memiliki hubungan nasab dan kerabat bersikap lembut, menyayangi, dan memerhatikan kondisi mereka.

Islam menganjurkan pemeluknya untuk memperbanyak silaturahmi, sebab dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa hidup sendiri. Silaturahim merupakan ibadah yang sangat mulia, mudah, dan berkah. Salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah:

“Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan adalah pahala orang yang berbuat kebaikan dan menghubungkan tali silaturahim, sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburukan ialah siksaan bagi orang yang berbuat jahat dan yang memutuskan tali persaudaraan.” (H.R. Ibnu Majah).

Hadis ini menerangkan makna dan hakekat silaturahmi sebagai sarana untuk menyambung tali persaudaraan dan kasih sayang.

Allah memerintahkan untuk menyambung tali silaturahim setelah perintah bertakwa pada-Nya, karena silaturahim merupakan bentuk ketakwaan kepada Allah. Hal ini pula menjadi tanda meresapnya takwa didalam hati, dan merupakan petunjuk kebenaran iman. Orang yang menyambung silaturahim merupakan orang yang paling sempurna imannnya dan paling bertakwa pada Rabbnya.

Banyak cara untuk menyambung tali silaturahim. Misalnya, dengan cara saling berziarah (berkunjung), saling memberi hadiah, atau dengan pemberian yang lain. Sambunglah silaturahim itu dengan berlemah lembut, berkasih sayang, wajah berseri, dan memuliakan. Dengan silaturahim, pahala yang besar akan diproleh dari Allah Azza wa Jalla. Silaturahim menyebabkan seseorang bisa masuk ke dalam surga. Silaturahim juga menyebabkan seorang hamba tidak akan putus hubungan dengan Allah di dunia dan akhirat.

Silaturahim tidak sebatas pertemuan biasa, melainkan menjadikan pertemuan itu sebagai sarana mendatangkan rahmat Allah. Yang paling sederhana saja dengan ucapan salam, di mana kita mendoakan orang yang kita jumpai agar mendapatkan keselamatan dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika cinta menjadi dasar, maka dengan silaturahim itu kita mengetahui keadaan saudara, membantunya jika perlu bantuan, menyelamatkannya jika mereka sedang mengarah kepada kehancuran. Tentu saja, kita bisa memanfaatkan masjid, pengajian, kegiatan amal sosial, seminar, organisasi, bahkan saat bekerja pun bisa dijadikan sebagai alat untuk bersilaturahim. Bukanlah silaturahim jika dilakukan dengan cara pesta pora, ramai-ramai membuka aurat, pergaulan lawan jenis yang tidak terbatas, dan mabuk-mabukan. Hal-hal seperti ini tidak akan pernah mendatangkan rahmat Allah. Mana mungkin rahmat didapatkan dengan jalan maksiat?

Tidaklah Islam memerintahkan sesuatu kecuali pasti ada kebaikan dan keutamaan di dalamnya, sebagaimana silaturahim ini. Di antara keutamaan silaturahmi ialah: pertama, merupakan sebagian dari konsekuensi iman dan tanda-tandanya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia menyambung hubungan silaturahim.” (HR. Al-Bukhari no. 5787).

Kedua, mendapatkan keberkahan umur dan rezeki.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang senang diluaskan rizqinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahim.’” (H.R. Bukhari no. 5986 dan Muslim no. 2557).

Riset puluhan tahun yang dilakukan Mac Arthur Foundation mengenai penuaan di AS menyimpulkan bahwa dua prediktor utama kesehatan manula adalah frekuensi silaturahim dengan sanak-keluarga dan kehadiran dalam pertemuan-pertemuan. Perjumpaan positif antar manusia dapat menurunkan kadar hormon pemicu stres epinefrin/norepinefrin dan kortisol dalam darah. Sebaliknya, hormon yang memperkuat rasa saling percaya dan ikatan emosi, oksitosin dan vasopresin, justru meningkat. Ilmuwan juga menduga bahwa silaturahim memicu dua neurotransmitter penting: dopamin, yang meningkatkan daya konsentrasi dan rasa bahagia, kemudian serotonin yang mengurangi ketakutan dan kecemasan.

Pada pertengahan tahun 1970-an, sosiolog Harvard bernama Mark Granovetter memublikasikan risetnya yang kemudian menjadi karya monumental mengenai cara orang mendapatkan pekerjaan. Apa yang ditemukannya masih valid hingga sekarang, yaitu bahwa mayoritas orang mendapat pekerjaan melalui koneksi pribadi. Namun, satu temuan yang mengejutkan Granovetter adalah bahwa koneksi tersebut umumnya bukan teman atau saudara dekat. Si penerima kerja hanya sesekali dalam setahun bertemu dengannya.

Teman atau saudara jauh tersebut efektif dalam memberi informasi pekerjaan menurut Granovetter karena dia tahu banyak orang yang tidak dikenal. Berbeda dengan kebanyakan relasi teman dan keluarga dekat yang umumnya juga dikenal. Bersilaturahimlah dengan orang yang lama tidak dijumpai, seperti kawan sekolah dulu, saudara jauh, atau mantan rekan kerja, maka peluang mendapat informasi berharga untuk bisnis atau pekerjaan ada di depan mata.

Silaturahim mengandung dua kebaikan, yaitu menambah umur dan menambah rezeki. Silaturahmi akan menambah makna umur kita karena di dalamnya ada unsur perkenalan, publikasi, belajar, dan apresiasi. Yang kedua, silaturahim dapat menambah rezeki berupa uang, makanan, persaudaraan, jaringan, pekerjaan, jodoh, pengalaman, ilmu dan sebagainya.

Dalam salah satu hadis dijelaskan bahwa silaturahim dapat memanjangkan umur dan membuka pintu rezeki.

مَن اَحَبَّ اَن يُبسَطَ لَهُ فِىرِزقِهِ وَيُنسَأَلَهُ اَثَرِهِ فَليَصِل رَحِمَه

“Barang siapa yang ingin dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan umrurnya maka hendaklah ia menyambung silaturahim.” (H.R. Mutafaq Alaih dari hadis Anas bin Malik. Al-Bukhari 10/348, Muslim 2557, Abu Dawud 1693).

Ketiga, salah satu penyebab utama masuk surga dan jauh dari neraka.

Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya seorang laki-laki berkata, “Ya Rasulullah, ceritakanlah kepadaku amalan yang memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkan aku dari Neraka.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan menyambung tali silaturahim.” (H.R. Bukhari No. 1396 dan Muslim No. 13).

Keempat, merupakan amalan yang paling dicintai Allah dan paling utama.

Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, amalan apa yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Beriman kepada Allah.” Dia bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, “Kemudian menyambung silaturahmi.” (Shahih At-Targib wa at-Tarhib No. 2522).

Oleh karena itu, tetap sambungkanlah tali silaturahmi. Berhati-hatilah dari memutuskannya. Masing-masing kita akan datang menghadap Allah dengan membawa pahala bagi orang yang menyambung tali silaturahmi. Atau kita menghadap dengan membawa dosa bagi orang yang memutus tali silaturahim, na’udzubillah. Semoga Allah memudahkan kita untuk senantiasa bersilaturahim dengan saudara-saudara yang kita cintai.

Allahu A’lam.

Referensi:
almanhaj.or.id/2658-betapa-penting-menyambung-silaturahmi.html

Editor: Fadil Ibnu Ahmad

Nanin Nuryani, S.Sy.

Nanin Nuryani, S.Sy.

Alumni Jurusan Siyasah UIN SGD Bandung

Leave a Reply

X