Buletin Jumat

Hujan Dalam Pandangan Islam

Hujan adalah peristiwa turunnya air dari atmosfer ke permukaan bumi. Hal ini terjadi karena titik-titik air yang terkandung di dalam awan bertambah semakin banyak sampai pada keadaan di mana awan tidak mampu lagi untuk menampungnya, maka akan dijatuhkan kembali ke permukaan bumi. Hujan terjadi karena adanya siklus air atau siklus hidrologi, tepatnya siklus hidrologi sedang. Berikut prosesnya. Sinar matahari menyinari bumi. Energi pada sinar matahari mengakibatkan terjadinya evaporasi (penguapan) di lautan, samudera, danau, sungai dan sumber air lainnya sehingga menjadi uap-uap air. Uap-uap air naik pada ketinggian tertentu dan mengalami peristiwa yang disebut kondensasi (pengkristalan butir-butir air). Peristiwa kondensasi ini disebabkan oleh suhu sekitar uap air lebih rendah daripada titik embun uap air. Uap-uap air ini membentuk awan, angin/udara yang mengalir akan membawa awan beranjak, dan awan tersebut lama-kelamaan akan menghasilkan hujan. (id.wikipedia.org)

Hujan Adalah Karunia Allah

Pada awal Februari lalu, kita sering melihat atau mendengar berita dari media sosial maupun media massa tentang bencana alam yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia khususnya. Sebagian saudara kita yang tertimpa bencana alam tersebut ada yang kehilangan harta, benda bahkan sampai korban jiwa. Contohnya saja korban longsor di kawasan Kecamatan Puncak, Cisarua dan Kecamatan Cijeruk Kabupaten Bogor mencapai 5 orang jiwa dan 4 orang hilang (tribunnewsbogor).

Pemberitaan mengenai banjir di berbagai wilayah di Indonesia menjadi headline media akhir-akhir ini. Seiring dengan datangnya musim penghujan, kita seringkali disuguhkan informasi bahwa hujan menyebabkan bencana, berbagai penyakit dan lainnya. Secara tidak sadar, ternyata perbuatan yang demikian ini merupakan sebuah kesalahan yang bisa berdampak pada ketauhidan. Meskipun terlihat sederhana, namun sesungguhnya perkara ini merupakan hal serius karena menyangkut keimanan. Hal ini bisa menimbulkan opini bahwa semua pergantian cuaca, alam dan seisinya akan dipandang sebagai kesalahan Allah . Keluhan-keluhan karena hujan tidak sepantasnya terlontar dari lisan kaum beriman. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar Rum: 41).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa sebenarnya bencana, penyakit, dan musibah yang terjadi merupakan akibat dari perbuatan-perbuatan maksiat, keserakahan serta kecerobohan manusia dalam memelihara kestabilan di muka bumi ini. Maka tidak ada alasan bagi manusia untuk menyelahkan ketentuan Allah tersebut, bahkan seharusnya mereka melakukan evaluasi diri atas segala hal yang telah diperbuat dan bertaubat.
Seorang muslim tidak sepantasnya marah, memaki, ataupun kesal hanya karena pakaian basah akibat guyuran hujan. Mengeluh karena pertemuan gagal disebabkan hujan, apalagi sampai melakukan perbuatan syirik dengan memanggil pawang untuk menangkal turunnya hujan dan lainnya. Semestinya seorang muslim menerima, menikmati, dan bersyukur atas segala rahmat pemberian Allah, termasuk hujan.

أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ . أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ

“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?” (Q.S. Al Waqi’ah: 68-69).

Bayangkan jika Allah tidak menurunkan hujan, maka pastilah sulit bagi kita untuk minum, mandi, mencuci pakaian, dan pekerjaan lainnya. Tumbuh-tumbuhan sebagai salah satu sumber makanan bagi kita layu kemudian mati, binatang ternak yang selama ini kita minum susu darinya dan kita ambil dagingnya menjadi kurus kerontang dan akhirnya menjadi bangkai. Kelaparan merajalela, manusia saling berebut air dan makanan, bahkan bisa jadi saling membunuh hanya untuk mendapatkan seteguk air dan sesuap makanan, na’udzubillah.

Fenomena Petir dan Suara Guruh Dalam Pandangan Islam

Petir atau halilintar adalah gejala alam yang biasanya muncul pada musim hujan di mana di langit muncul kilatan cahaya sesaat yang menyilaukan biasanya disebut kilat yang beberapa saat kemudian disusul dengan suara menggelegar sering disebut guruh atau geledek. Perbedaan waktu kemunculan ini disebabkan adanya perbedaan antara kecepatan suara dan kecepatan cahaya. Cahaya merambat lebih cepat (186.000 mil/detik atau 299.338 km/detik) bila dibandingkan suara (sekitar 700 mil/jam atau 1.126 km/jam, tergantung temperatur, kelembapan dan tekanan udara). Sehingga, suara gemuruh biasanya terdengar beberapa saat setelah kilat terlihat.

Petir merupakan gejala alam yang bisa kita analogikan dengan sebuah kapasitor raksasa, di mana lempeng pertama adalah awan (bisa lempeng negatif atau lempeng positif) dan lempeng kedua adalah bumi (dianggap netral). Seperti yang sudah diketahui kapasitor adalah sebuah komponen pasif pada rangkaian listrik yang bisa menyimpan energi sesaat (temporary energy storage). Petir juga dapat terjadi dari awan ke awan (intercloud), di mana salah satu awan bermuatan negatif dan awan lainnya bermuatan positif.

Petir terjadi karena ada perbedaan potensial antara awan dan bumi atau dengan awan lainnya. Proses terjadinya muatan pada awan karena dia bergerak terus menerus secara teratur, dan selama pergerakannya dia akan berinteraksi dengan awan lainnya sehingga muatan negatif akan berkumpul pada salah satu sisi (atas atau bawah), sedangkan muatan positif berkumpul pada sisi sebaliknya. Jika perbedaan potensial antara awan dan bumi cukup besar, maka akan terjadi pembuangan muatan negatif (elektron) dari awan ke bumi atau sebaliknya untuk mencapai kesetimbangan. Pada proses pembuangan muatan ini, media yang dilalui elektron adalah udara. Pada saat elektron mampu menembus ambang batas isolasi udara inilah terjadi ledakan suara. Petir lebih sering terjadi pada musim hujan, karena pada keadaan tersebut udara mengandung kadar air yang lebih tinggi sehingga daya isolasinya turun dan arus lebih mudah mengalir. Karena ada awan bermuatan negatif dan awan bermuatan positif, maka petir juga bisa terjadi antar awan yang berbeda muatan. (id.wikipedia.org)

Dalam Al-Quran, kata kilat dan guruh terdapat pada surat Al-Baqarah ayat 19. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ ۚ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ

“Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.” (Q.S. Al-Baqarah: 19).

Untuk kilatan petir dan geledek ada tiga istilah yaitu Ar-Ra’du, Ash-Shawa’iq, dan Al-Barq. Ar-Ra’du adalah istilah untuk suara petir atau geledek. Sedangkan Ash-Shawa’iq dan Al-Barq adalah istilah untuk kilatan petir, yaitu cahaya yang muncul beberapa saat sebelum adanya suara petir (Rasysyul Barad Syarh Al-Adab Al-Mufrad, hal. 381).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, dalam hadits riwayat At Tirmidzi dan selainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang Ar-Ra’du, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

مَلَكٌ مِنْ الْمَلَائِكَةِ مُوَكَّلٌ بِالسَّحَابِ مَعَهُ مخاريق مِنْ نَارٍ يَسُوقُ بِهَا السَّحَابَ حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ

”Ar-Ra’du adalah malaikat yang diberi tugas mengurus awan dan bersamanya pengoyak dari api yang memindahkan awan sesuai dengan kehendak Allah.” (H.R. Tirmidzi no. 3117).

Disebutkan dalam Makarimil Akhlaq karya Al-Khara-ithi, ’Ali pernah ditanya mengenai Ar-Ra’du. Beliau menjawab, ”Ar-Ra’du adalah malaikat. Beliau ditanya pula mengenai Al-Barq. Beliau menjawab, ”Al-Barq (kilatan petir) itu adalah pengoyak di tangannya.” Dan dalam riwayat lain dari Ali juga, ”Al-Barq itu adalah pengoyak dari besi di tangannya.”

Kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan lagi, ”Ar-Ra’du adalah mashdar (kata kerja yang dibendakan) berasal dari kata ra’ada, yar’udu, ra’dan (yang berarti gemuruh). Namanya gerakan pasti menimbulkan suara. Malaikat adalah yang menggerakkan (menggetarkan) awan, lalu memindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya. Dan setiap gerakan di alam ini baik yang di atas (langit) maupun di bawah (bumi) adalah dari malaikat. Suara manusia dihasilkan dari gerakan bibir, lisan, gigi, lidah, dan dan tenggorokan. Dari situ, manusia bisa bertasbih kepada Rabbnya, bisa mengajak kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Oleh karena itu, Ar-Ra’du (suara gemuruh) adalah suara yang membentak awan. Dan Al-Barq (kilatan petir) adalah kilauan air atau kilauan cahaya.” (Majmu’ Al-Fatawa, 24/263-264).

Ketika menafsirkan surat al Baqarah ayat 19, As-Suyuthi mengatakan bahwa Ar-Ra’du adalah malaikat yang ditugasi mengatur awan. Ada juga yang berpendapat bahwa Ar-Ra’du adalah suara malaikat. Sedangkan Al-Barq (kilatan petir) adalah kilatan cahaya dari cambuk malaikat untuk menggiring mendung (Tafsir Jalalain).

Amalan-Amalan Ketika Turun Hujan

1. Bersyukur kepada Allah

Apabila Allah memberi nikmat hujan, dianjurkan bagi seorang muslim dalam rangka bersyukur kepada-Nya untuk membaca do’a:

اللَّهُمَّ صَيِّباً ناَفِعاً

“Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat.”

Itulah yang Nabi shallallahu ’alaihi wasallam ucapkan ketika melihat turunnya hujan. Hal ini berdasarkan hadis dari Ummul Mukminin, ’Aisyah radhiyallahu ’anha:

إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ : اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

Sesungguhnya Nabi shallallahu ’alaihi wasallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, “Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat.” (H.R. Bukhari no. 1032, Ahmad no. 24190, dan An-Nasai no. 1523).

Ibnu Baththol mengatakan, ”Hadis ini berisi anjuran untuk berdo’a ketika turun hujan agar kebaikan dan keberkahan semakin bertambah, begitu pula semakin banyak kemanfaatan.”

2. Berdo’a

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni mengatakan, ”Dianjurkan untuk berdo’a ketika turunnya hujan, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ ثَلَاثٍ : عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ, وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ ، وَنُزُولِ الْغَيْثِ

“Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan: [1] Bertemunya dua pasukan, [2] Menjelang shalat dilaksanakan, dan [3] Saat hujan turun.” (Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shohihul Jaami’ no. 1026).

Begitu juga terdapat hadis dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَ تَحْتَ المَطَرِ

“Dua do’a yang tidak akan ditolak: [1] do’a ketika adzan dan [2] do’a ketika ketika turunnya hujan.” (H.R. Al-Hakim dan Al-Baihaqi.” (Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shohihul Jaami’ no. 3078).

3. Jika Terjadi Hujan Lebat

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suatu saat pernah meminta diturunkan hujan. Kemudian ketika hujan turun begitu lebatnya, beliau memohon pada Allah agar cuaca kembali menjadi cerah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a:

اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan.” (H.R. Bukhari no. 1014).

4. Janganlah Mencela Hujan

Setiap yang seseorang ucapkan, baik yang bernilai dosa atau tidak bernilai dosa dan pahala, semua akan masuk dalam catatan malaikat. Allah Ta’ala berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Q.S. Qaaf: 18).

Dalam sebuah hadis qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman:

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ ، يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ ، بِيَدِى الأَمْرُ ، أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

“Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.” (H.R. Bukhari no. 4826 dan Muslim no. 2246, dari Abu Hurairah).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

لاَ تَسُبُّوا الرِّيحَ

”Janganlah kamu mencaci maki angin.” (H.R. Tirmidzi no. 2252, dari Abu Ka’ab. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Dari dalil di atas terlihat bahwa mencaci maki masa (waktu) dan angin adalah sesuatu yang terlarang. Begitu pula halnya dengan mencaci maki makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa, seperti mencaci maki angin dan hujan adalah terlarang.

Allahu A’lam.

Oleh: Ust. Muhammad Fauzi Arif, M.Kom.I.
Editor: Fadil Ibnu Ahmad

Masjid Agung Trans Studio Bandung

Masjid Agung Trans Studio Bandung

Ingin tulisan anda dimuat di web kami? Silahkan kirim tulisan anda via email ke masjid.transstudiobandung@gmail.com.

Leave a Reply

X