Buletin Jumat

Fitnah Perempuan: Menggali Hikmah Dari Kisah Nabi Yusuf ‘Alaihissalam

Allah ta’ala berfirman, “Yusuf berkata, ‘Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan diriku dari tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.’ Maka Rabbnya memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Yusuf (12): 33-34).

Fitnah Wanita Yang Mengancam Nabi Yusuf As.

Setelah selamat dari lubang sumur dan berpindah-tangan ke pejabat besar Mesir, kemudian Nabi Yusuf As. tinggal dalam kemewahan. Beliau ternyata diperlakukan dengan baik, bukan layaknya budak belian pada umumnya. Tatkala usianya menginjak remaja, ketampanan paras menjadi simbol yang melekat pada beliau. Dalam peristiwa Isra` Mi’râj, Rasulullah Saw. menjumpainya di langit tingkat ketiga dan beliau berkomentar: “Sungguh, ia diberi separuh ketampanan (penduduk dunia)”.

Ketampanan Nabi Yusuf As. ini telah membuat istri majikannya terpikat, dan ia pun membuat rencana untuk memperdaya dan menjerumuskan Nabi Yusuf As. ke dalam perbuatan fâhisyah (perzinaan). Namun, Allah Swt. melindungi beliau dari perbuatan maksiat tersebut. Berita tergodanya istri pembesar Mesir dengan budaknya menyebar sampai ke telinga-telinga kaum Hawa pada masa itu. Awalnya, mereka mencela istri pembesar Mesir atas kejadian tersebut. Akan tetapi, wanita istri pembesar Mesir tidak kurang akal. Ia menempuh sebuah cara supaya wanita-wanita itu membenarkan dirinya sehingga sampai terpikat dengan seorang remaja bernama Yusuf As.

Maka didatangkanlah wanita-wanita itu supaya menyaksikan sendiri ketampanan Nabi Yusuf As. Ternyata benar, mereka benar-benar tersihir oleh keelokannya. Bahkan mereka menganggapnya sebagai malaikat, lantaran sedemikian tampan paras beliau. Kekaguman ini sampai mengakibatkan mereka tidak menyadari telah mengiris jari-jemari mereka sendiri dengan pisau-pisau yang sengaja telah disediakan oleh istri pembesar Mesir, untuk membalas tipu daya wanita-wanita tersebut, yang sebenarnya juga memendam hasrat besar untuk menyaksikan keelokan wajah Nabi Yusuf As. dengan mata kepala mereka sendiri.

Selanjutnya, istri pembesar Mesir memberitahukan kepada para wanita yang hadir, mengenai kepribadian bagus yang tertanam pada diri Nabi Yusuf As. Yaitu, sifat ‘iffah (ketangguhan untuk menjaga kehormatan diri), tidak sudi menyambut ajakan berbuat tidak senonoh. Karena penolakan itu, muncullah ancaman dari mulut wanita istri pembesar Mesir itu. Yakni dijeblosankannya Nabi Yusuf As. ke dalam penjara dan hidup dalam keadaan terhina.

Nabi Yusuf As. Memohon Perlindungan kepada Allah Swt.

Saat itulah Nabi Yusuf As. berlindung diri dengan Rabbnya, dan beliau memohon pertolongan kepada-Nya dari keburukan dan tipu-daya. (Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku)… (QS. Yusuf (12): 33). Ini menunjukkan bahwa para wanita itu menyarankan Nabi Yusuf As. supaya patuh terhadap tuan putrinya, dan mengupayakan untuk memperdaya Yusuf As. dalam masalah ini. Akan tetapi, Nabi Yusuf As. lebih menyukai terkurung dalam penjara dan siksaan duniawi ketimbang kenikmatan sesaat yang akan mendatangkan siksaan pedih.

Sekaligus, ayat di atas juga mencerminkan bahwasanya istri pejabat masih saja mendesak Nabi Yusuf As. untuk mau menerima ajakannya, dan mengancamnya dengan penjara dan kurungan, bila menolak ajakan itu. Pasalnya, seandainya wanita itu tidak menekan dan melancarkan ancaman, maka mustahil membuat Nabi Yusuf As. sampai mengatakan “Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan diriku dari tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh. (QS. Yusuf (12): 33).

Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata, “Ia mengetahui kalau dirinya tidak mampu menghindarkan diri dari ajakan itu. Seandainya Rabbnya tidak menjaga dan menyelamatkannya dari makar para wanita itu, atas dasar nalurinya akan condong kepada mereka dan termasuk dalam golongan orang-orang yang bodoh. Ini merupakan indikasi kesempurnaan ma’rifat beliau kepada Allah dan dirinya (yang lemah).”

Dengan ini, Nabi Yusuf As. berarti telah mencapai kedudukan yang sempurna. Faktor-faktor yang mendukung terjadinya perzinaan, seperti usianya yang remaja dan anugerah ketampanan dan kesempurnaan pribadi, digoda oleh majikan wanita, seorang istri pejabat Mesir yang juga berwajah elok, kaya dan berkedudukan, namun keadaan seperti itu tidak menggoyahkan keteguhan hati Nabi Yusuf As. Beliau lebih memilih hidup terhina dalam jeruji penjara daripada melakukan perbuatan buruk, karena belaiu takut kepada Allah Swt.dan berharap pahala dari-Nya.

Keutamaan Ilmu di Dunia dan Akhirat

Syaikh as-Sa’di rahimahullah menyebutkan rahasia Nabi Yusuf As. dapat selamat dari keadaan genting tersebut. Yakni, (setelah taufik dari Allah Swt.), juga karena ilmu dan akal pikiran sehat yang mengajaknya untuk lebih mengutamakan kemaslahatan dan kenikmatan yang terbesar, serta lebih mengedepankan perkara yang kesudahannya terpuji.

Artinya, ketika aspek jahâlah (kebodohan) membelenggu manusia, baik masih dalam taraf yang ringan ataupun sudah pekat. Hawa nafsu manusia selalu berbisik kepada obyek yang buruk-buruk, yang tidak bermanfaat lagi membahayakannya di hari esok. Demikian ini, lantaran sisi jahâlah (kebodohan) yang menguasai jiwa tersebut. Oleh karena itu, siapa saja yang mencermati Al-Quran, maka akan berhenti pada kesimpulan bahwa faktor kebodohan menjadi pemicu terjadinya dosa-dosa dan maksiat. Tidak mengherankan bila Nabi Yusuf As., seperti yang diceritakan oleh Allah Swt. pada ayat di atas, akan menilai dirinya sebagai manusia bodoh jika menyambut ajakan wanita istri penguasa Mesir, majikannya. Nabi Yusuf As. berkata, “Dan jika tidak Engkau hindarkan diriku dari tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.”

Banyak ayat yang menjelaskan pengertian yang sama (al-jahlu) dengan ayat di atas. Di antaranya Allah Swt. berfirman saat menceritakan kaum Nabi Musa As. Bani Israil berkata, “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa ilah (berhala)”. Musa menjawab : “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Ilah).” (QS. Al-A’râf (7): 138). Juga firman Allah Swt. tentang kaum Nabi Luth As., “Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu melihat(nya)? Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu(mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)’”. (QS. An-Naml (27): 54-55).

Oleh sebab itu, siapa saja yang bermaksiat kepada Allah dan melakukan perbuatan dosa, maka orang itu adalah jâhil (bodoh), Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya.” (QS. An-Nisâ` (4): 17). Makna bi jahâlah adalah kebodohan (ketidaktahuan) pelakunya terhadap akibat buruk dari perbuatannya, yang dapat mendatangkan kemurkaan dan siksa Allah Swt. sehingga setiap orang yang bermaksiat kepada Allah Swt., maka ia bodoh ditinjau dari segi ini. Kendatipun ia mengetahui (memiliki ilmu) kalau perbuatan itu memang diharamkan; kebodohannya terhadap pengawasan Allah Swt., kebodohannya terhadap dampak maksiat yang bisa mengurangi keimanan atau menghapuskannya. As-Suddi rahimahullah berkata: “Selama seseorang masih bermaksiat kepada Allah Swt., berarti ia masih bodoh”.

Allah Swt. Mengabulkan Permohonan Nabi Yusuf As.

Allah ta’ala berfirman, “(Maka Rabbnya memperkenankan doa Yusuf) saat memanjatkan doa kepada-Nya.” (dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka): wanita itu masih saja bernafsu menggoda Nabi Yusuf As. , dan ia menempuh segala cara yang mampu ia lakukan, tetapi Nabi Yusuf As. bergeming, dan membuatnya patah arang, dan Allah pun memalingkan tipu-daya mereka dari Nabi Yusuf As. (Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar): doa Nabi Yusuf As. saat ia berdoa supaya Allah menghindarkannya dari tipu daya kaum wanita, dan doa setiap makhluk-Nya (lagi Maha Mengetahui), keinginan dan kebutuhan Nabi Yusuf As. dan setiap hal yang dapat memperbaiki kondisinya serta mengetahui kebutuhan seluruh makhluk, dan hal-hal yang dapat memperbaiki keadaan mereka.

Dalam konteks ini, sudah tentu Nabi Yusuf As. masuk dalam kandungan hadits tujuh golongan yang meraih naungan Allah Swt.pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya. Rasulullah Saw. bersabda: Ada tujuh golongan, Allah akan menaungi mereka dengan naungan-Nya pada hari tiada naungan kecuali naungan dari-Nya. (Salah satunya disebutkan): Seorang lelaki yang diajak seorang wanita yang memiliki kedudukan dan paras elok (untuk berbuat zina), akan tetapi ia mengatakan: “Saya takut kepada Allah”. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Wanita: Ujian Terberat bagi Lelaki

Rasulullah Saw. telah mengabarkan kepada kaum lelaki, bahwa fitnah wanita merupakan fitnah terberat yang dirasakan seorang lelaki. Rasulullah Saw. bersabda: Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalkan sebuah fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki melebihi fitnah wanita. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Bahkan sejumlah ulama menyimpulkan, bahwasanya makar dan tipu daya wanita lebih berbahaya dari pada tipu daya setan. Yaitu dengan membandingkan penjelasan Allah Swt.tentang tipu daya setan dengan tipu daya wanita dalam surat ini. Firman Allah Swt.tentang tipu daya setan: Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (QS. An-Nisâ` (4): 76). Sedangkan mengenai tipu-daya wanita, Allah Swt.berfirman: Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah diantara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar.” (QS. Yusuf (12): 28).

Hikmah yang Bisa Dipetik Dari Kisah Nabi Yusuf As.:

  1. Nabi Yusuf As. lebih memilih menghuni penjara daripada berbuat maksiat. Demikianlah seharusnya seorang mukmin, bila di hadapkan pada dua pilihan ujian: berbuat maksiat atau hukuman duniawi, maka ia memilih sanksi duniawi ketimbang melakukan perbuatan dosa yang mendatangkan hukuman berat di dunia dan akhirat.
  2. Nabi Yusuf As. memilih bahaya yang lebih ringan. Ini merupakan kaidah syar’iyyah yang telah dipakai oleh ulama-ulama terdahulu, untuk menghindari bahaya yang lebih berat.
    Menghuni penjara tidak selalu menjadi petunjuk bahwa orang itu berkelakukan buruk. Sebab, seperti dicontohkan, Nabi Yusuf As. Bahkan masuk penjara bisa menjadi tonggak awal bagi masa depan yang lebih baik.
  3. Jika seorang hamba menyaksikan sebuah tempat yang mengandung fitnah dan faktor-faktor penggoda untuk berbuat maksiat, semestinya ia bergegas pergi dan menjau darinya.
  4. Mewaspadai bahaya khalwat, yaitu berduaan dengan wanita (laki-laki) asing, yang dikhawatirkan menimbulkan fitnah.
  5. Hasrat yang muncul pada Nabi Yusuf As. terhadap wanita tersebut, yang kemudian ia singkirkan karena Allah, menjadi salah satu tangga yang mengangkatnya kepada Allah menuju kedudukan yang dekat dengan-Nya. Seorang hamba, seharusnya selalu mencari perlindungan kepada Allah dan bernaung di bawah pemeliharaan-Nya ketika berhadapan dengan pemicu-pemicu maksiat.
  6. Allah tidak akan menyia-nyiakan keteguhan iman dan usaha seorang hamba. Seseorang yang sudah tercelup keimanan pada hatinya, ia adalah seorang yang ikhlas karena Allah pada semua perbuatannya.
  7. Kisah ini menunjukkan keindahan batin Nabi Yusuf As., yaitu sifat iffah (penjagaan kehormatan diri) yang besar dari godaan maksiat.
  8. Sesungguhnya ilmu yang benar dan akal yang sehat akan membimbing pemiliknya kepada kebaikan dan menahannya dari kejelekan. Sebaliknya, kebodohan akan menjerumuskan seseorang selalu memperturutkan bisikan hawa nafsunya, walaupun merupakan maksiat yang berbahaya bagi pelakunya.

Allahu A’lam.

Editor: Fadil Ibnu Ahmad

Sandy Rizki Febriadi, Lc., M.A.

Sandy Rizki Febriadi, Lc., M.A.

Koordinator Tim Pusat Dakwah & Takmir Masjid Agung Trans Studio Bandung

Leave a Reply

X