Buletin Jumat

Hikmah Shaum Ramadhan

Apa itu shaum Ramadan ?

Shaum/puasa bagi orang islam adalah menahan diri dari makan dan minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan syarat tertentu, untuk meningkatkan ketakwaan seorang muslim. Adapun Ramadan merupakan bulan kesembilan dalam kalender Hijriyah. Kata Ramadan berasal dari akar kata bahasa Arab ramiḍla atau ar-ramaḍl, yang berarti panas yang menghanguskan atau kekeringan. Bangsa Babilonia yang budayanya pernah sangat dominan di utara Jazirah Arab menggunakan luni-solar calendar (penghitungan tahun berdasarkan bulan dan matahari sekaligus). Bulan kesembilan selalu jatuh pada musim panas yang sangat menyengat. Sejak pagi hingga petang batu-batu gunung dan pasir gurun terpanggang oleh sengatan matahari musim panas yang waktu siangnya lebih panjang daripada waktu malamnya. Di malam hari panas di bebatuan dan pasir sedikir reda, tapi sebelum dingin betul sudah berjumpa dengan pagi hari. Demikian terjadi berulang-ulang, sehingga setelah beberapa pekan terjadi akumulasi panas yang menghanguskan. Hari-hari itu disebut bulan Ramadan, bulan dengan panas yang menghanguskan.

Setelah umat Islam mengembangkan kalender berbasis bulan, yang rata-rata 11 hari lebih pendek dari kalender berbasis matahari, bulan Ramadan tak lagi selalu bertepatan dengan musim panas. Orang lebih memahami “panas”nya Ramadan secara metaforik (kiasan). Karena di hari-hari Ramadan orang berpuasa, tenggorokan terasa panas karena kehausan. Atau, diharapkan dengan ibadah-ibadah Ramadan maka dosa-dosa terdahulu menjadi hangus terbakar. Dari akar kata tersebut kata Ramadan digunakan untuk mengindikasikan adanya sensasi panas saat seseorang kehausan.

Jadi, secara umum shaum Ramadhan adalah suatu amal ibadah shaum yang dilakukan dalam bulan ramadhan. Hukum shaum pada bulan Ramadan adalah wajib, ini sesuai dengan firman Allah subhanahu wata’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah : 183).

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya; menegakkan shalat; menunaikan zakat; menunaikan haji; dan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16, dari ‘Abdullah bin ‘Umar).

Wajibnya puasa ini juga sudah ma’lum minnad dini bidharurah yaitu secara pasti sudah diketahui wajibnya karena puasa adalah bagian dari rukun Islam. Sehingga seseorang bisa jadi kafir jika mengingkari wajibnya hal ini.

Bagi siapa kewajiban shaum Ramadan?

Shaum Ramadhan itu wajib bagi setiap muslim yang baligh (dewasa), berakal, dan mampu melaksanakannya. Maka bagi seorang non-muslim tidak diwajibkan baginya shaum, begitu pula anak kecil tidak wajib atasnya shaum Ramadhan. Namun disunnahkan atasnya, sebagai pendidikan/pembinaan, dan orang gila pun tidak diwajibkan baginya shaum Ramadan.

Adapun orang-orang yang mendapatkan keringanan tidak shaum, yaitu;

1. Orang yang sakit, Allah berfirman, “Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya shaum), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (Q.S. Al-Baqarah: 185). Orang sakit yang boleh tidak shaum adalah jika mendapatkan mudlarat dengan shaumnya tersebut.

2. Orang yang bersafar. Dalil seorang musafir boleh tidak shaum adalah firman Allah, “Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185). Musafir punya pilihan boleh tidak ataukah tetap shaum.

Dari Abu Sa’id Al Khudri dan Jabir bin ‘Abdillah, mereka berkata, “Kami pernah bersafar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ada yang tetap berpuasa dan ada yang tidak berpuasa. Namun mereka tidak saling mencela satu dan lainnya.” (HR. Muslim no. 1117).

Namun manakah yang lebih utama baginya, apakah berpuasa ataukah tidak? Di sini bisa dilihat pada tiga kondisi:

• Jika berat untuk berpuasa atau sulit melakukan hal-hal yang baik ketika itu, maka lebih utama untuk tidak berpuasa.

• Jika tidak memberatkan untuk berpuasa dan tidak menyulitkan untuk melakukan berbagai hal kebaikan, maka pada saat ini lebih utama untuk berpuasa. Alasannya karena lebih cepat terlepasnya beban kewajiban dan lebih mudah berpuasa dengan orang banyak daripada sendirian.

• Jika tetap berpuasa malah membinasakan diri sendiri, maka wajib tidak puasa

3. Orang yang sudah tua renta (sepuh). Selain berlaku bagi orang tua renta (sepuh) yang tidak mampu puasa, juga berlaku untuk orang yang sakit yang tidak bisa sembuh sakit lagi dari sakitnya (tidak bisa diharapkan sembuhnya). Dalil dari hal ini adalah firman Allah Ta’ala, “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al Baqarah: 184). Begitu pula yang mendukungnya adalah riwayat berikut; Dari ‘Atho’, ia mendengar Ibnu ‘Abbas membaca firman Allah Ta’ala (yang artinya), “ Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin “. Ibnu ‘Abbas berkata, “Ayat itu tidaklah mansukh (dihapus). Ayat itu berlaku untuk orang yang sudah sepuh dan wanita yang sudah sepuh yang tidak mampu menjalankan puasa. Maka hendaklah keduanya menunaikan fidyah, yaitu memberi makan kepada orang miskin bagi setiap hari tidak berpuasa.”. (HR. Bukhari no. 4505).

4. Wanita hamil dan menyusui. Dari Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah meringankan separuh shalat dari musafir, juga puasa dari wanita hamil dan menyusui.“ (HR. An Nasai no. 2274 dan Ahmad 5/29)

Kapan pelaksanaan shaum Ramadan ?

Dalam hal ini ada dua pembahasan: 1) ditinjau dari sejarah, 2) penentuan awal bulan Ramadan. Ditinjau secara sejarah ibadah shaum Ramadan pertama kali diwajibkan kepada kaum muslimin pada bulan Sya’ban tahun kedua hijriyah. Para ulama sepakat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shaum sebanyak sembilan kali Ramadan. adapun ibadah shaum diwajibkan dengan tiga tahapan:

1. Diwajibkan shaum Asyura. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk shaum Asyura.

2. Diwajibkan shaum Ramadan akan tetapi dengan pilihan antara shaum atau membayar fidyah. Allah berfirman, “Dan atas orang-orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajiakan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 184).

3. Diwajibkan shaum tanpa pilihan. Allah berfirman, “Bulan Ramadhan adalah bulan yang didalamnya diturunkan Al Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang bener dan yang batil). Karena itu, barangsiapa diantara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah.” (QS. Al Baqarah: 185). Hikmah dalam tahapan pensyariatan ini adalah bahwa shaum padanya terdapat beban bagi jiwa, maka ia diwajibkan secara bertahap.

Adapun persoalan menentukan awal bulan Ramadan dilakukan dengan salah satu dari dua cara berikut: 1) melihat hilal ramadhan 2) menggenapkan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Dasar dari hal ini adalah firman Allah Ta’ala, “Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan tersebut.” (QS. Al Baqarah: 185). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Apabila bulan telah masuk kedua puluh sembilan malam (dari bulan Sya’ban). Maka janganlah kalian berpuasa hingga melihat hilal. Dan apabila mendung, sempurnakanlah bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.”

Mengapa diwajibkan shaum Ramadan?

Perintah puasa bukan merupakan hal yang baru dan khusus bagi umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini telah diperintahkan dan telah dilakukan juga oleh umat-umat terdahulu. Kita tidak mengetahui secara persis tata cara berpuasa yang dilakukan oleh orang-orang di masa lalu, tetapi kita bisa menemukan beberapa cuplikan tentang puasa ini di dalam Alkitab misalnya.

Merujuk pada Alkitab (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) disebutkan adanya perintah berpuasa baik yang dilakukan pada bulan tertentu atau pun puasa yang secara khusus dilakukan untuk mendekatkan diri padaTuhan. Di dalam Hakim-Hakim 20: 26 misalnya disebutkan: “Kemudian pergilah semua orang Israel, yakni seluruh bangsa itu, lalu sampai di Betel; di sana mereka tinggal menangis di hadapanTuhan, berpuasa sampai senja pada hari itu….” Di bagian lain, pada masa pemerintahan Daud (‘alaihis salam), disebutkan bahwa mereka “berpuasa sampai matahari terbenam” (2 Samuel 1: 12).

Ayat yang lain lagi menyebutkan bahwa masyarakat Yerusalem dan sekitarnya diperintahkan untuk berpuasa pada bulan kesembilan (Yeremia 36: 9). Umat Islam pada hari ini juga berpuasa pada bulan Ramadhan yang merupakan bulan kesembilan dalam penanggalan hijriah. Mereka dahulu diperintah berpuasa antara lain untuk “membuka belenggu-belenggu kelaliman” (Yesaya 58: 6). Amalan puasa juga terus dipraktekkan hingga ke masa Yesus (Nabi Isa ‘alaihissalam) dan juga dipraktekkan oleh beliau sendiri (lihat misalnya Matius 3: 1-2).

Jadi amaliah puasa merupakan hal yang sudah dijalankan sejak lama oleh umat manusia. Bahkan sebenarnya bukan hanya manusia, hewan-hewan pun banyak yang melakukan puasa pada momen-momen tertentu hidupnya yang kadang menjadi sebuah proses transformasi pada hewan-hewan ini. Adapun ibadah shaum memiliki faidah yang banyak, di antaranya:

1. Ibadah shaum merupakan salah satu ketaatan yang sangat agung. Ia adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabbnya. Dan ia adalah tujuan dalam melaksanakan amanat.

2. Shaum mengandung makna sabar dengan ketiga jenisnya sekaligus: sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dari kemaksiatan kepada Allah dan sabar dalam menanggung takdir Allah yang tidak disukai.

3. Orang yang melaksanakan shaum dapat merasakan sulitnya lapar sehingga ia dapat mengingat nikmat-nikmat Allah yang terus-menerus atas dirinya dan ia pun dapat mengingat saudara-saudaranya yang merasakan kelaparan terus-menerus.

4. Pada shaum terdapat faidah kesehatan; shaum dapat mengistirahatkan lambung, memberinya kesempatan untuk tidak beroperasi sehingga dapat memulihkan kekuatannya.
Maka, shaum adalah ibadah yang sangat agung. Terdapat banyak sekali macam kebaikan padanya. Sekaligus menjauhkan macam-macam keburukan. Oleh karena itu, Allah juga mewajibkan shaum atas umat-umat terdahulu.
Semoga pada tahun ini kita masih diberikan kesempatan oleh Allah swt untuk dipertemukan dengan bulan Ramadan, serta dapat melakukan berbagai macam aktivitas ibadah di dalamnya dengan sebaik-baiknya. Amin.

Editor: Fadil Ibnu Ahmad

Masjid Agung Trans Studio Bandung

Masjid Agung Trans Studio Bandung

Ingin tulisan anda dimuat di web kami? Silahkan kirim tulisan anda via email ke masjid.transstudiobandung@gmail.com.

Leave a Reply

X