Buletin Jumat

Apakah Kamu Bahagia?

Bahagia adalah hak setiap manusia, baik dewasa maupun muda, laki-laki maupun perempuan, suami atau pun istri, pedagang atau pun pengusaha, pekerja atau pun pengangguran, semuanya berhak untuk bahagia. Karena bahagia bukanlah merupakan barang yang asing. Dia sangat mudah ditemukan bagi orang-orang yang tahu tempat kebahagiaan itu, dan sulit ditemukan bagi orang-orang terbatas mengartikan sebuah kebahagiaan.

Terdapat beberapa model kebagaiaan dari manusia, ada kebahagiaan yang didasarkan kepada materi semata dan ada juga kebahagiaan yang tidak didasarkan kepada bukan materi. Kebahagiaan yang ditumpukkan kepada materi saja, maka kriterianya akan terlihat dan tidak abstrak. Orang seperti ini dikategorikan dalam tingkatan iman yang ‘am (biasa). Seperti orang yang lapar, dia akan berbahagia apabila menemukan makanan pokok, tidak cukup dengan makanan yang ada.

Bahagia yang kedua adalah bahagia yang tidak didasarkan kepada materi, berarti mereka akan bahagia cukup dengan imateri saja. Masalah materi bukanlah sebuah tujuan dan harapan, tetapi lebih dari itu, orang seperti ini akan mengharapkan yang imateri, yang tidak terlihat. Golongan seperti ini termasuk orang yang tingkatan keimanannya sudah tingkatan tinggi (khas), sehingga menganggap dunia sebelah mata. Apa pun yang dilakukannya semata-mata hanya mengharap ridha-Nya saja, tidak mengganggap imbalan dari manusia. Karena mereka anggap, apapun yang datang dari manusia atau makhluk itu semuanya sedikit, berapa pun besarannya dalam nominal tertinggi maka itu tetap dianggap sedikit, karena itu masih bisa dihitung. Akan tetapi apabila keridhaan Allah Swt yang didapatkan, walaupun sedikit jumlahnya dibandingkan dengan yang lainnya, maka itu hakikatnya lebih besar daripada apapun yang ada di bumi dan langit. Sehingga dari golongan seperti ini muncul adagium yang artinya, “Janganlah kau bahagia kecuali dengan bertambahnya ilmu atau amal shalih.”

Diantara manusia yang mendasarkan kebahagiaan kepada sebuah jumlah dalam bentuk materi, kriteria kebahagiaan pun berbeda satu sama lainnya berdasarkan latar belakang kehidupan, pekerjaan, dan sosial kulturalnya. Bagi orang yang bekerja sebagai tambal ban, ia akan mendapatkan keuntungan apabila ada orang yang ganti atau tambah ban. Apabila tidak ada orang yang ban kendaraannya kempes akibat rusak atau bocor, maka pekerja ini tidak akan mendapatkan materi, artinya tidak akan bahagia. Ketika ada orang yang bocor bannya, maka pekerja ini akan bahagia karena akan mendapatkan materi. namun di sisi lain, orang yang ban kendaraannya bocor, maka dia akan merasa sedih dan mungkin marah-marah karena dia harus mengeluarkan materi akibat bocornya ban. Namun, apabila pekerja ban ini memiliki kekuatan iman yang lebih tinggi, maka fenomena ini dianggap sebuah anugrah sebagai sarana membantu orang lain, sehingga apa yang dilakukannya mendatangkan rahmat dan ridha Allah Swt.

Tujuh Tanda Bahagia Menurut Sahabat

Ibnu Abbas r.a. adalah satu diantara sahabat Rasul yang hebat dan teladan. Dia sangat rajin menjaga dan melayani Rasulullah Saw. Ia senantiasa berada di samping Rasul untuk memberikan pelayanan semata-mata mengharapkan ridha Allah Swt. Dia pernah didoakan secara khusus oleh Rasulullah agar menjadi orang yang cerdas dalam bidang agama, sehingga dia menjadi orang yang saleh dan teladan bagi orang islam yang hidup setelahnya. Dia merupakan sahabat penghafal Al-Quran, sehingga pada usia yang 9 tahun sudah mampu mengimami yang lainnya di masjid.

Suatu hari, Ibnu Abbas r.a ditanya oleh para tabi’in prihal yang dimaksud dengan kebahagiaan. Karena banyaknya versi bahagia menurut manusia, dan itu merupakan sebuah kewajaran, terlebih lagi semakin bertambahnya zaman maka kemudahan pun semakin terasa, dan barangkali ambisi terhadap keduaan pun akan lahir. Ia menjawab, bahwa ada tujuh tanda kebahagiaan bagi seseorang yang hidup di dunia, yaitu:

Hati yang bersyukur

Seseorang yang akan selalu bahagia atas setiap karunia-Nya maka ia akan bersyukur. Hati yang senantiasa mengingat Allah itu berarti hari yang bersyukur. Ketika hati selalu terkoneksi dengan Allah dengan jalan syukur, maka ia akan selalu terkontrol, hatinya ada dalam pengawasn-Nya, sehingga ia akan bahagia. Dan hati yang bersyukur ini adalah sebaik-baiknya hati. Memiliki jiwa yang bersyukur berarti menerima semua ketetapan yang Allah tetapkan bagi manusia. Manusia itu hanya bisa berusaha dan berrencana, hanya Allah yang menetapkan. Apa pun yang terjadi, orang berencana tidak bisa memastikan rencananya sesuai dengan hasil akhirnya, tetapi semua itu ditakdirkan oleh Allah Swt.

Orang yang bersyukur senantiasa dalam hatinya terkontrol iman, dan orang seperti ini akan merasa kebahagiaan yang tidak ada habis-habisnya. Selain bersyukur itu merupakan sebuah printah Allah, yang mana Allah berjanji akan menambahkan rezekinya bagi setiap hamba yang bersyukur, juga Allah akan memberikan ketenangan dan kebahagiaan hidup di dunia. Firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 7.

“Dan Ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, maka pasti akan aku tambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azabku sangat pedih.’”

Seseorang yang pandai bersyukur niscaya ia termasuk orang yang cerdas memahami kasih sayang Allah swt kepadanya. ia selalu menerima keputusan dan takdir Allah dengan positif. Apapun yang terjadi seuamnya akan menjadi kebaikan.

Pasangan yang saleh

Dalam sebuah pendapat disebutkan bahwa kecantikan luar, kekayaan, dan kecantikan hati (beriman), kedudukannya tidaklah sama. Ada orang yang menyukai pasangannya karena kecatikan / ketampanannya, ada juga yang disebabkan karena kekayaan yang dimilikinya, dan ada juga yang didasarkan kepada akhlak dan keimanannya. Dari ketiga komponen tersebut, ada diantara hal yang menjadi pokok utama yang bisa menjadi sumber kebahagiaan. Peneliti menyebutkan bahwa 2/3 dari kebahagiaan itu muncul dari inner beauty / akhlak dan keimannya. Adapun kekayaan dan kecantikan luarnya hanya 1/3 sebagai sumber kebahagiaan. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad Saw. tentang kebiasaan wanita dipersunting, yaitu:

Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Muhammad Saw, beliau Bersabda, “Wanita dinikahi karena 4 hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya, maka pilihlah agamanya engkau akan beruntung / bahagia.” (Muttafaq ‘Alaih).

Rasulullah menegaskan bahwa orang yang menikah dengan memilih agama sebagai pilarnya, maka ia akan menjadi keluarga yang bahagia. Namun apabila pilihannya jatuh kepada selain agama, mungkin kebahagiaan akan sulit terwujud karena bisa jadi keduanya akan saling bersikeras, sehingga tidak ada kesepakatan dari tujuan rumah tangga.

Anak-anak yang saleh

Anak-anak merupakan perhiasan dalam keluarga dan menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri. Keberadaan anak menunjukkan keluarga yang berhasil, karena salah satu tujuan menikah adalah untuk mendapatkan keturunan. Tidak adanya keturunan yang dapat dilahirkan dari rahim seorang istri itu menjadi alasan yang disahkan dalam Kompilasi Hukum Islam tentang kebolehan untuk menikah kembali untuk yang kedua kalinya / poligami. Anak adalah amanah Allah Swt dan merupakan kewajiban bagi kedua orangtuanya untuk memasukkan kedalam surganya Allah swt. Apabila anak-anak kita soleh, maka hidup sekeluarga akan bahagia.

Namun tidak sedikit sebuah keluarga ketika telah hadir di tengah-tengah mereka anak-anak yang sempurna badannya dan akalnya tidak diarahkan baik oleh keluarganya. Mereka jatuh ke dalam lubang kemaksiatan dan kehinaan. Pernah penulis bertemu dengan orang-orang jalanan, yang setiap harinya mereka melakukan ngamen dan mengemis, dan hasilnya digunakan untuk membeli lem. Lem ini fungsinya bukan untuk merekatkan benda yang pecah atau sobek, tetapi mereka gunakan untuk dihirup dan dihirup sampai habis. Pernah saya tanyakan, kenapa sampai terjadi seperti ini, ada sebagian yang menjawab bahwa ayah dan ibu nya bertengkar dan bercerai.

Lingkungan yang baik

Lingkungan merupakan sebuah komponen yang utama dalam membentuk karakter dan akhlak keluarga. Lingkungan yang baik, yang selalu mengarahkan kepada perbuatan yang sholeh, ibadah kepada allah nyaman, penih dengan kebaikan, maka hidup akan nyaman dan bahagia. namun apabila kita hidup berada dalam lingkungan yang tidak kondusif, mengarah kepada kemaksiatan, maka hidup akan selalu dihantui dengan kecemasan dan cenderung tidak bahagia.

Harta halal

Setiap rupiah yang kita miliki saat ini, itu akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah Swt. Kita sebagai orang mukmin harus menyadari hal tersebut, karena apabila harta tersebut didapatkan dari usaha yang tidak halal, maka hasilnya akan tetap tidak halal. Apabila harta tersebut haram, maka kita yang menanggung akibatnya di dunia dan akhirat.

Allah Swt berfirman dalam al-Qur’an surat an-Nisa ayat 29:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil, keculai dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan cara suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, Seungguhnya Allah maka penyayang kepadamu.”

Belajar agama

Rasulullah Saw. pernah menyampaikan, barangsiapa yang menghendaki dunia, maka harus dengan ilmu, barang siapa yang menghendaki akhirat, harus dengan ilmunya, dan barangsiapa yang menghendaki keduanya, juga harus dengan ilmunya. Semakin bertambah ilmu kita dalam agama, maka akan semakin sedikit menyalahkan orang lain, dan semakin tentram dalam beribadah, karena apa yang kita lakukan sudah kita yakini kebenarannya, dan ketika kita melakukannya merupakan sebuah amalan yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab.

Keberkahan usia

Usia setiap manusia tidaklah sama. Ada orang yang meninggal karena sakit dan ada juga yang tidak diawali karena sakit. Jadi sakit dan sehat bukanlah sebuah kriteria utama dalam batasan ajal seorang manusia. Ada juga orang yang sudah dewasa yang wafat, dan ada juga yang masih baru dilahirkan, ternyata tidak tertolong. Itu artinya usia bukan merupakan sebuah parameter utama dalam batasan usia. Yang pasti orang yang hidup itu adalah orang yang masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk memperbaiki amalannya sebagai wahaya bekal hidup di alam keabadian, yaitu alam akhirat. Karena usia manusia itu beda-beda, jadi panjang dan pendeknya usia bukanlah sebuah ukuran untuk berbuat kebaikan, tetapi kebaikan itulah yang harus mewarnai usia kita. Usia yang diwarnai kebaikan dan selelu diarahkan kepada perbuatan positif, maka itu artinya usianya berkah. Karena para ulama menyampaikan definisi berkah adalah “bertambah-tambahnya kebaikan.”

Mari sama-sama kita meraih tujuh poin bahagia menurut sahabat mulia Ibnu Abbas r.a. agar hidup yang kita jalani diberikan ketenteraman jiwa oleh Allah subhanahu wata’ala.

Masjid Agung Trans Studio Bandung

Masjid Agung Trans Studio Bandung

Ingin tulisan anda dimuat di web kami? Silahkan kirim tulisan anda via email ke masjid.transstudiobandung@gmail.com.

Leave a Reply

X