Buletin Jumat

Fikih Qurban Dan Keutamaannya

Hari Senin, 13 Agustus 2018 ditetapkan oleh pemerintah RI sebagai hari yang bertepatan dengan tanggal 1 Dzulhijjah 1439 H., dan hari ini adalah Jum’at, 17 Agustus 2018 yang bertepatan dengan tanggal 5 Dzulhijjah 1439 H. Itu artinya kita sudah memasuki bulan haji dan kurban, bulan berbagi dan simpati, dan bulan beramal dan memaksimalkan kepekaan sosial atas nama Allah Swt. Masih banyak saudara-saudara kita muslim, dalam kehidupan sehari-harinya makan seadanya, jarang sekali makan daging dan makanan bergizi lainnya. Sehingga pada bulan ini kita diarahkan untuk berbagi makanan yang yang bergizi, yaitu daging kurban.

Qurban dalam bahasa arab dikenal dengan istilah Udhhiyyah, yang berarti hewan tertentu yang disembelih pada hari Nahr (10 Dzulhijjah) dan hari-hari Tasyriq (11-13 Dzulhijjah) dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt. Hewan ternak banyaklah ragamnya, mulai dari yang terbesar sampai dengan yang terkecil itu ada, seperti ternak udang laut, hewan laut yang kecil, kelinci, ayam, kambing, sapi, dan lain sebagainya. Dari kesekian ternak yang bisa dimakan oleh manusia khususnya umat Islam, hanya sebagian kecil saja yang dapat digunakan sebagai hewan qurban. Sayyid Sabiq dalam kitab Fikih Sunnah menyebutkan tiga jenis hewan yang dapat diqurbankan adalah Unta, Sapi, dan Kambing. Selain hewan tersebut tidak bisa diqurbankan.

Qurban merupakan ibadah yang disyariatkan oleh Allah Swt. Karena ibadah ini disyariatkan, maka ada ketentuan-ketentuan yang sudah ditetapkan. Hal ini sebagaimana firman-Nya didalam al-Qur’an surat al-kautsar ayat 1-2.

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak (1) Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah (2)…”

Rasulullah Saw pun pernah melaksanakan qurban yang disembelih oleh dirinya sendiri yang selanjutnya dibagikan kepada kaum muslimin. Sebagaimana Anas bin Malik r.a. menyampaikan, bahwasanya ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban dengan dua domba yang berwarna putih yang ada hitamnya, dan bertanduk, beliau menyembelihnya dengan tangannya, menyebut nama Allah dan bertakbir, dan meletakkan kakinya di atas samping kambing. “ ( HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hukum berqurban

Qurban memiliki derajat hukum sebagai Sunnah Muakkadah yang berarti kesunnahan yang sangat dianjurkan bagi setiap muslim untuk melaksanakannya. Walaupun sunnah, setiap muslim harus mengupayakan untuk mengikuti sunnah ini, yaitu dengan cara berqurban. Bagi orang-orang yang enggan melaksanakan ibadah ini, atau bahkan membangkang terhadap kesunnahan ibadah ini (inkarussunnah) maka nyata-nyata dia telah berdosa dan tidak akan diakui sebagai ummatnya Rasulullah Saw.

Qurban bisa menjadi wajib hukumnya apabila dia menyandingkan ibadah ini dengan kata-kata atau niat yang lainnya. Sayid Sabiq menuliskan bahwa setidaknya ada dua sebab qurban ini menjadi wajib, yaitu:

1. Bagi orang-orang yang berniat nazar melaksanakan Qurban, maka pelaksanaannya menjadi wajib. Merupakan sebuah perbuatan dosa apabila telah bernazar tetapi tidak menunaikan niat nazarnya, yaitu dengan meninggalkan kewajiban berqurban. Bagi orang-orang seperti ini akan terus menjadi kewajiban apabila nazarnya belum ditunaikan sampai nazar tersebut ditunaikan.

2. Seseorang yang berkata bahwa “Binatang ini adalah untuk Allah Swt” atau “Binatang ini untuk Qurban”. Orang yang memelihara kambing atau hewan qurban dari kecil kemudian dia berkata bahwa hewan ini untuk qurban, maka haram baginya menjual hewan tersebut kecuali menyembelihnya untuk berqurban. Atau ada orang yang membeli hewan ternak yang bisa diqurbankan, maka hewan tersebut harus disembelih untuk berqurban.

Ibadah Qurban termasuk kedalam kategori ibadah maliyah, yaitu suatu ibadah yang bisa dilakukan apabila ada penunjang utama yaitu adanya harta. Orang yang tidak memiliki harta untuk berqurban, misalnya tidak ada uang untuk membeli hewan qurban, atau bahkan ada uang tetapi didaerah tersebut tidak ada hewan qurbannya, maka bagi orang seperti ini tidak ada dosa ketika tidak melaksanakan qurban.

Berqurban pada bulan Dzulhijjah tidak memiliki waktu yang panjang. Ibadah sunnah ini dibatasi oleh waktu, yaitu selama 4 hari, 1 hari raya tanggal 10 Dzulhijjah , dan 3 hari tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah). Selama waktu ini masih ada, maka seseorang bisa menunaikan qurban kapan pun yang dikehendakinya, bisa pada tanggal 10 dzulhijjah ataupun diakhir waktu berqurban yaitu pada tanggal 13 dzulhijjah. Namun bagaimana kalau seandainya ada perbedaan hari antara Indonesia dengan Saudi Arabia. Antara kedua negara ini memiliki waktu yang berbeda. Indonesia yang terletak lebih timur dari Saudi Arabia mengalami waktu lebih awal daripada Saudi Arabia, dengan jumlah selisih 4 Jam. Pada tahun 2018 ini, fenomena ini terjadi yaitu Arab Saudi lebih awal dalam berhari raya, yaitu selisih 1 hari. Bagi kita yang berada di Indonesia apakah bisa berqurban pada tanggal 9 Dzulhijjah versi Indonesia? Jawabannya tidaklah bisa. Kita bisa melakukan ibadah ini apabila secara penanggalan lokal Indonesia sudah memasuki tanggal 10 sd 13 Dzulhijjah.

Adab orang yang berqurban

Ummu Salamah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:

“Apabila kalian melihat hilal Dzulhijjah dan seorang dari kalian ingin berqurban, maka hendaklah ia tidak memotong rambut dan kukuk-kukuknya” (HR Muslim).

Sebagai ibadah yang mendapat contoh langsung dari Rasulullah Saw, ada beberapa adab yang semestinya dilakukan oleh muslim yang akan berqurban. Diantara adabnya yaitu menjaga kebersihan lahir bathinnya. Diantara kebersihan lahiriyah yaitu menjaga kebersihan kukuk kaki dan tangan, menjaga kerapihan rambut dengan cara tidak mencukurnya. Selain itu menjaga keperibadiannya agar senantiasa bersih dari sifat-sifat yang tercela, seperti sifat riya, sifat sum’ah, sifat ujub, dan beberapa penyakit hati lainnya.

Hewan Qurban yang disembelih semata-mata sebagai alat atau wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan menyembelihnya pada hari Qurban, kemudian dibagikan kepada fakir miskin. Daging dan darah bukanlah jaminan sebagai amalan yang diterima Allah Swt, dengan penyembelihan itu dipastikan qurbannya diterima, bukanlah seperti itu. Namun yang menjadikan qurban itu diterima Allah Swt adalah kebersihan hati yang menjadikan ibadah qurban ini diterima Allah Swt. Oleh karena itu, menjaga hati dalam beribadah adalah hal yang utama.

Firman Allah Swt dalam surat al-Hajj ayat 37.

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya bahwa sesungguhnya Allah Swt mensyariatkan penyembelihan hewan qurban pada hari raya qurban semata-mata untuk mengingat-Nya pada saat penyembelihan hewan qurban tersebut. Karena pada dasarnya Allah Swt sebagai Pencipta, Pemberi Rizki, dan pemelihara jagat raya ini tidak membutuhkan sedikitpun dari daging dan darah yang keluar dari hewan qurban tersebut, karena Dia maha kaya dan tidak ada yang menyerupainya.

Di antara kebiasaan pada masa Jahiliyah yaitu berqurban, bahkan mereka berlomba-lomba untuk berqurban sapi dan ternak lainnya diantara para kabilah di Makkah. Ayahanda nabi akhir zaman, Abdullah bin Abdul Muthalib termasuk manusia yang hampir mati karena hendak dikorbankan oleh Ayahnya sendiri di hadapan Kakbah. Namun hal itu tidak terjadi karena permohonan dari saudara-saudaranya, yang kemudian digantikan oleh hewan ternak berupa unta. Kebiasaan jahiliyah setelah berkurban dilakukan, darahnya dilumuri kepada kakbah serta dagingnya dibiarkan didepan kakbah. Namun setelah Islam datang, kebiasaan itu dihilangkan, bahkan yang menjadi sebab diterimanya amalan ini adalah dari hati yang bersih bukan dari hewannya itu sendiri. Namun jangan pula dinafikan kwalitas daripada hewan qurban. Keikhlasan hati itu hanya allah saja yang tahu, sehingga tidak bias melegitimasi kwalitas hewan yang diqurbankan. Dengan demikian, hewan yang akan diqurbankan pun harus terjaga kwalitasnya, sehat, serta dihasilkan dengan cara yang halal dan berkah.

Qurban itu hebat

Rasulullah Saw pernah bersabda:

Tidak ada suatu amalan yang paling dicintai oleh Allah Swt dari Bani Adam ketika hari `Idul-Adha selain menyembelih hewan qurban. Sesungguhnya hewan itu akan datang pada hari kiamat (sebagai saksi) dengan tanduk, bulu dan kukunya. Dan sesungguhnya darah hewan qurban telah terletak di suatu tempat di sisi Allah sebelum mengalir di tanah. Karena itu, bahagiakanlah dirimu dengannya.”

Keterangan di atas menjelaskan kepada kita bahwa berqurban adalah amalan yang sangat dicintai Allah Swt pada hari Idul Adha. Pada hari-hari itu disebut juga ayyamul akli wasysyurbi (hari untuk makan dan minum), yang artinya diharamkan untuk berpuasa. Walaupun seseorang bernazar untuk berpuasa pada hari idul adha dan hari tasyriq, maka hukumnya haram. Tidak fear apabila pada hari yang dinyatakan sebagai hari pesta, tetapi ada diantara orang muslim yang merasa kesedihan karena kekurangan makanan. Oleh karena itu, orang yang bisa mengorbankan hewan qurban bagi saudaranya maka itu adalah amalan yang paling baik.

Tidak sedikit orang yang sudah diberikan kecukupan dan kelebihan harta, namun masih enggan untuk berqurban. Hal ini dikarenakan kelemahan iman dan kekurang tahuan tentang hakikat dan hikmah berqurban. Padahal hakikat daripada berqurban adalah investasi akhirat, menabung harta untuk dibawa mati, dan bekal amalan baik untuk hidup yang abadi, namun masih banyak yang enggan untuk berqurban. Dilain pihak, banyak juga orang yang secara ekonomi tergolong kurang cukup, tetapi mampu berqurban, karena hal ini dilandasi keimanan yang kuat serta usaha yang mantap, sehingga dia bisa berqurban untuk sesama.

Fikih Amal

Kita diharuskan untuk meningkatkan ketakwaan dengan derajat taqwa yang sebaik-baiknya. Diantara bukti ketakwaan kita adalah melaksanakan setiap perintahnya, baik yang sunnah ataupun yang wajib. Diantara ibadah sunnah itu adalah berkurban. Bagi kaum muslimin yang belum berkurban tapi ada niatan yang kuat untuk melaksankannya, bisa dilakukan upaya berikut ini:

1. Niatkan yang mantap dan Tekadkan yang bulat bahwa tahun depan akan berqurban.
2. Ikutlah menabung qurban baik di masjid yang menfasilitasi kegiatan tersebut ataupun di lembaga keuangan.
3. Senantiasa berdo’a agar diberikan rizki yang halal untuk berqurban.

Semoga amalan kita diterima Allah Swt dan menjadikan kita termasuk ahli surganya Allah Swt. Amin.

Masjid Agung Trans Studio Bandung

Masjid Agung Trans Studio Bandung

Ingin tulisan anda dimuat di web kami? Silahkan kirim tulisan anda via email ke masjid.transstudiobandung@gmail.com.

Leave a Reply

X