Uncategorised

Membangun Masyarakat Marhamah

Seorang ilmuwan yang pernah tinggal di Bandung, M.A.W Brouwer (1923-1991), pernah mengatakan, “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum.” Ungkapan ini ditujukan untuk menggambarkan keramahtamahan penduduknya. Dahulu mereka hidup saling tolong-menolong, silih asih, silih asah,  dan silih asuh. Akan tetapi saat ini, jika ia dapat hidup lagi dan berkunjung ke Indonesia, khususnya Bandung, maka ia tentu akan terheran-heran, dan bertanya-tanya. Mengapa terjadi banyak perubahan di negeri ini? Mengapa ada tawuran antarpelajar, tawuran antarmahasiswa, tawuran antarkampung, kekerasan terhadap anak, kekerasan terhadap pembantu, kekerasan terhadap supporter klub sepakbola, dan kekerasan lainnya?

Pertanyaan imajiner di atas sebenarnya adalah pertanyaan kita semua. Apakah sudah menipis kah rasa kasih sayang di masyarakat kita? Apakah masyarakat kita sudah mati rasa, sehingga menjadi kehilangan kepekaan rasa terhadap manusia lain? Di bawah ini merupakan satu hadis yang mudah-mudahan menjadi dasar/landasan untuk menyingkap akar masalah yang terjadi di masyarakat kita.

Abu Salamah Ibnu Abdurrahaman, bahwa Abu Hurairah ra. meriwayatkan, “(suatu hari) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencium Al-Hasan Ibn Ali. Peristiwa itu disaksikan oleh Al-Aqra’ Ibn Habis al-Tamimi. Lalu Al-Aqra berkata dan menceritakan dirinya, ‘Saya memiliki sepuluh anak, tetapi tidak seorang pun yang aku cium.’ Setelah melihat Al-Aqra’ sejenak, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda, ‘Barang siapa tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi (Allah).’ (HR Bukhari).

Pada versi hadis kedua, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkomentar, ”(kalau begitu) Aku tidak kuasa menahan kamu, sekiranya Allah subhanahu wata’ala mencabut rasa kasih sayang dari hatimu.”(H.R. Bukhari).

Berdasarkan kedua hadis di atas, kita dapat mengatakan,”jangan-jangan kasih sayang telah hilang dari masyarakat kita.” na’udzubillahi min dzalik.

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendirian tanpa bantuan orang lain. Sebagai makhluk sosial, individu memerlukan bantuan pihak lain. Oleh karena itu, manusia membentuk masyarakat untuk mewujudkan kepentingannya masing-masing. Perbedaan status sosial dan ekonomi tidak boleh membuat manusia menjadi jauh dari pihak lain. Malah sebaliknya, mereka harus saling membantu untuk mewujudkan kepentingan bersama. Ini diisyaratkan dalam firman Allah sebagai berikut:

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Q.S. Az-Zukhruf [43]: 32).

Masyarakat yang dicita-citakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah masyarakat yang sarat dengan kasih sayang, damai, dan tolong menolong, sebagaimana sabdanya:

Dari Nu’man Ibn al-Basyir, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Perumpamaan orang mukmin dengan lainnya dalam hal kasih-sayang dan sikap lembutnya, bagaikan satu jasad. Jika salah satu anggota badannya sakit, maka anggota lainnya pun ikut merasakan sakit.’” (H.R. Thabrani).

Di dalam perjalanan hidupnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah membangun masyarakat Madinah yang dilandasi kasih sayang. Ini tampak dari penjelasan Allah subhanahu wata’ala dalam surat Al-Hasyr ayat 9 berikut ini:

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshoa) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.”

Dari rangkaian ayat di atas, terselip sebuah kisah inspiratif tentang indahnya Islam jika diamalkan di dalam kehidupan. Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki dari kelompok Muhajirin datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengadukan persoalan kesulitan hidupnya (untuk menutup rasa laparnya). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengutus seseorang untuk mendatangi isteri-isterinya guna membantu orang tersebut. Ternyata, isteri-isteri beliau pun tidak memiliki makanan. Kemudian Rasul menawarkan kepada sahabatnya, barangkali ada yang mau menjamu tamu beliau. Maka, tampil lah Abu Thalhah dengan kesiapannya untuk membantu. Dia meminta isterinya untuk menyiapkan makanan untuk tamu Rasul. Sang isteri mengatakan bahwa dirinya juga tidak memiliki makanan lebih, lantaran makanan yang ada pun akan diberikan kepada anak-anaknya. Abu Thalhah meminta isterinya untuk membuat anak-anaknya tidur, sehingga makanan itu bisa diberikan kepada tamunya. Kemudian di saat makan tersedia, sang isteri diminta untuk memadamkan lampu, sementara dirinya berpura-pura ikut makan bersama mereka. Keesokan harinya, Rasulullah memuji kebaikan keluarga Thalhah karena telah menjamu tamunya. ”Allah sungguh merasa takjub kepada si fulan dan si fulanah yang tadi malam telah menjamu tamu rasul-Nya.” Atas kejadian tersebut, Allah menurunkan ayat di atas. (Al-Maraghi, Juz 28: 40).

Demikian gambaran masyarakat marhamah yang fondasinya dibangun sejak beliau hijrah ke Madinah. Beliau memersaudarakan kaum Muhajiran dengan Anshar, memberikan contoh dan teladan kepada umat tentang tolong menolong, dan berbagi kepada orang yang membutuhkan bantuan.

Pada dasarnya manusia itu memiliki rasa kasih sayang di dalam dirinya. Sebab, Allah telah membagi kasih sayang-Nya menjadi 100 bagian. Satu bagian dari rahmatNya itu diturunkan ke bumi. Di antara bukti rahmat yang satu bagian itu adalah terjalinnya kasih sayang di antara makhluk-Nya, termasuk kasih sayang sang induk hewan kepada anaknya. Demikian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan.

Untuk membangun sebuah masyarakat marhamah diperlukan syarat-syarat sebagai berikut:

1) Setiap individu dari anggota masyarakat memiliki kesiapan untuk mengasihi/memberi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan melalui sabdanya:

Dari Aisyah ra, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Berbagi hadiahlah di antara kalian, karena ia dapat menghilangkan kedengkian.”

Berbagi hadiah merupakan salah satu media untuk dapat menjalin kasih sayang. Hadiah juga dapat menjadi wasilah/alat untuk menghilangkan kedengkian di kalangan masyarakat.

2) Ada kemauan untuk menyayangi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Orang-orang yang menyayangi akan disayang oleh Allah Yang Maha Penyayang. Maka, sayangilah penduduk bumi, maka penghuni langit pun akan menyayanginya.” (H.R Al-Darimi).

Pengertian “ahl al-ardhi” (penduduk bumi) sebenarnya tidak hanya manusia. Ada makhluk bumi selain manusia, yaitu hewan dan alam lingkungannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan, bahwa ada yang berdosa diampuni dosa-dosanya lantaran telah berpayah-payah menolong anjing yang kehausan. Sahabat kaget dengan riwayat beliau, sehingga bertanya tentang alasan ampunan-Nya kepada orang yang berdosa tersebut. “Memberi pertolongan kepada makhluk yang masih hidup adalah berpahala (ampunan),” jelas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Apabila menyayangi hewan/binatang saja sedemikian besar balasannya, maka apalagi jika kasih sayang itu ditujukan kepada manusia?

Selain itu, Nsbi memberi teladan kepada kita bagaimana sayangnya kepada anak-anak. Beliau menyampaikan salam kepada mereka. Bahkan, ketika salat pun beliau mempercepat bacaannya lantaran mendengar seorang bayi yang menangis. Beliau melakukan itu karena sayang kepada bayi itu yang ingin segera bertemu dengan ibunya.

3) Ada kemampuan untuk saling menolong

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barang saiapa memberi kelapangan dari kesulitan dunia, niscaya Allah akan memberi kelapangan dari kesulitan akherat. Barang siapa menutup aib Muslim, maka Allah akan menutup aibnya dari pandangan orang lain di dunia dan akherat. Allah akan menolong seorang hamba, selama ia mau menolong orang lain.”

Di dalam kehidupan nyata, tidak semua orang memiliki sesuatu untuk diberikan pada orang lain. “Faqid al-syai laa yu’thi”, demikian pepatah Arab. Apabila demikian adanya, setiap muslim masih bisa berbuat dengan perbuatan baik dalam bentuk lain:

Apabila belum dapat membahagiakan orang lain, (paling tidak) ia menyusahkan orang lain.
Apabila belum bisa memberi, sekurang-kurangnya ia tidak mengambil hak orang lain.
Apabila belum dapat membantu orang lain, sekurang-kurangnya ia tidak mengganggu orang lain.

Itulah sikap Muslim yang pasif. Ia kurang dapat memberi manfaat yang banyak bagi muslim yang lain. Sebaliknya, jika seseorang masih juga keras hatinya, sehingga tak memberikan manfaat kepada orang lain, maka hadist berikut ini perlu diterapkan sebagai berikut:

Dari Abu Hurairah, ia menjelaskan bahwa seorang laki-laki datang mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hatinya yang keras/tidak lembut. Rasul bersabda kepadanya, ”Jika hatimu ingin lembut, maka berilah makan orang yang miskin dan belailah kepala anak yatim (sebagai wujud kasih sayang kepadanya).” (HR Ahmad).

Begitu indahnya jika keteladanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kita tiru dalam setiap kehidupan bermasyarakat untuk saling menyayangi satu sama lain. Karena rasa kasih sayang akan melenyapkan kebencian yang ada di dalam diri kita sebagaimana air yang memadamkan api.

Allahu a’lam.

Masjid Agung Trans Studio Bandung

Masjid Agung Trans Studio Bandung

Ingin tulisan anda dimuat di web kami? Silahkan kirim tulisan anda via email ke masjid.transstudiobandung@gmail.com.

Leave a Reply

X