Buletin Jumat

Ujian Dari Allah Untuk Nabiyullah Ibrahim ‘Alaihissalam

Nabi Ibrahim merupakan Nabi dalam agama Samawi. Ia bergelar Khalilullah (Kesayangan Allah). Ibrahim bersama anaknya, Ismail, terkenal sebagai para pendiri Baitullah. Ia diangkat menjadi Nabi yang diutus kepada kaum Kaldān yang terletak di negeri Ur, yang sekarang dikenal sebagai Iraq. Ibrahim merupakan sosok teladan utama bagi umat Islam dalam berbagai hal. Ibadah Haji dan penyembelihan hewan kurban merupakan beberapa perayaan untuk memperingati sikap berbakti Ibrahim terhadap Allah. Allah ta’ala berfirman:

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata, ‘(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.’ Allah berfirman, ‘Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.’ Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud.’ Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian.’ Allah berfirman, ‘Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.'” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 124 – 126).

Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Manusia dengan cobaan terberat adalah para Nabi, lalu yang semisalnya, dan yang semisalnya, masing-masing diuji sesuai kadar imannya. Barang siapa kuat imannya maka berat ujiannya, dan barang siapa lemah imannya maka ringan ujiannya. Semua orang pasti akan diuji sehingga gugur dosa-dosanya.” (H.R. At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah).

Penjelasan ini memaparkan bagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memberi contoh kepada kita cara bersabar menghadapi cobaan. Pertama, ketika diperintah untuk membawa istri dan putranya (Isma’il) ke lembah tak bertuan lagi tandus, beliau laksanakan perintah itu dengan penuh keyakinan dan tawakkal kepada Allâh. Sehingga, Allâh menunjukkan jalan keluar bagi keduanya, dan menurunkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Kedua, Allâh perintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra semata wayangnya (Isma’il), yang dikaruniakan padanya setelah berusia 80 tahun. Beliau pun tunduk terhadap perintah Rabbnya. Dan sungguh ini adalah cobaan yang teramat berat, sebagaimana Allâh firmankan, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. As-shâffât (37): 106).

Kisah Nabi Ibrahim termaktub dalam firman Allâh:

Dan Ibrahim berkata,”Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku! Anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab, “Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang Nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata. (Q.S. As-shâffât [37]: 99-113).

Pelajaran Dari Kisah Nabi Ibrahim As.

Pelajaran pertama, doa memohon keturunan yang baik.

Dalam banyak ayat Allâh menerangkan kepada kita bahwa para Nabi dan orang-orang shaleh terdahulu tekun memanjatkan doa, memohon keturunan yang baik. Perhatikanlah para Nabi berikut:

1. Ketika Nabi Ibrahim meninggalkan kota asalnya, beliau berdoa kepada Allâh Azza wa Jalla agar dikarunia putra yang shaleh, lalu Allâh Azza wa Jalla kabulkan permohonannya. Allâh Azza wa Jalla berfirman: Ya Rabbku! Anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. (QS. As-shafat (37):100).

2. Nabi Zakaria yang tekun memanjatkan doa agar dikaruniai keturunan yang baik. Allâh berfirman: … “Ya Rabbku! Berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik … (QS. Âli ‘Imrân (3): 38).

3. Para hamba Allah yang shaleh, mereka juga memanjatkan doa: Dan orang-orang yang berkata, “Wahai Rabb kami! Anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqân (25): 74).

Selain memohon dikarunia keturunan yang baik, para Nabi dan orang-orang shaleh juga memohon agar Allâh menjaga dan menjadikan keturunan mereka sebagai orang-orang yang berserah diri kepada-Nya. Mereka melakukan ini dengan beberapa alasan:

1. Karena jika sang anak meninggal di usia belia, kelak pada hari kiamat akan menjadi penolong bagi kedua orang tuanya.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah dua orang muslim (suami dan istri) yang meninggal tiga orang anaknya sebelum baligh, melainkan Allâh akan memasukkan keduanya kedalam surga disebabkan kasih sayang Allâh kepada anak-anaknya, ketika mereka diseru, “Masuklah kalian kedalam surga!”, Mereka menjawab, “Orang tua kami terlebih dahulu”, Maka diseru, “Masuklah kalian beserta orang tua kalian kedalam surga.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

2. Karena anak yang shaleh senantiasa mendo’akan serta membuat hati orang tua menjadi sejuk dan tentram.

3. Karena kebaikan anak yang shaleh terus mengalir bagi orang tuanya, meskipun kedua orang tuanya sudah meninggal.

“Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apabila seseorang meninggal dunia maka terputuslah seluruh amalnya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah (yang terus mengalir), ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang mendoakannya.'” (H.R. Muslim).

Pelajaran kedua, Allâh selalu memberi jalan keluar dari setiap cobaan.

Ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissallam meninggalkan kota asal dan kaumnya dikarenakan mereka menolak dakwahnya, beliau memohon kepada Allâh agar dikaruniai keturunan yang shaleh. Permohonan beliau ini dikabulkan oleh Allâh Azza wa Jalla. Allâh Azza wa Jalla menganugerahkan putra yang sangat bijak yang diberi nama Ismail. Putra pertama beliau, sebelum kelahiran Ishaq. Belum lama sejak kelahiran putera kesayangannya, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan agar membawa anak beserta ibunya ke lembah gersang yang tak berpenghuni dan meninggalkan mereka disana tanpa bekal makan dan minum yang cukup. Dengan sebab tawakkal keduanya, Allâh Azza wa Jalla memberikan jalan keluar dan menganugerahkan rezeki. Dalam firman Allâh, yang artinya:

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, (QS. As-Shâffât (37): 102), artinya: ia dalam masa tumbuh kembang, di mana ia bisa pergi dan berjalan bersama ayahnya. Firman Allâh Azza wa Jalla, yang artinya, “Ibrahim berkata, ‘Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” (QS. As-Shâffât [37]: 102).

Dalam ayat ini, Nabi Ibrahim As. memberitahukan mimpi tersebut kepada putranya adalah agar ujian tersebut terasa lebih ringan saat dijalani, juga untuk menjajaki seberapa kuat kesabaran dan kepatuhan sang anak kepada Allâh serta orang tuanya. Firman Allâh Azza wa Jalla berikutnya menyebutkan jawaban anak yang shaleh tersebut, “Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (As-Shâffat (37): 102). Artinya aku akan bersabar dan mengharap pahala dari-Nya. Dan Nabi Isma’il benar-benar memenuhi janjinya. Kejadian selanjutnya, diabadikan dalam firman Allâh Azza wa Jalla :

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya),” (Q.S. As-Shâffat [37]: 103).

Artinya, keduanya berserah dan patuh, Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allâh dan Nabi Ismail menaati Allâh dan ayahnya. Nabi Ibrahim membaringkan anaknya dengan ditengkurapkan dan akan disembelih di tengkuknya, agar tidak melihat wajahnya, agar lebih ringan bebannya.

Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma mengatakan, “Ketika Nabi Ibrahim diperintah menyembelih Ismail, syaitan datang menghalangi jalan, namun beliau berhasil mendahuluinya. Lalu Malaikat Jibril membawanya ke jumrah ‘Aqabah, syaitan kembali menghalangi sehingga beliau melemparnya dengan tujuh buah batu kerikil sampai pergi. Lalu syaitan kembali menghalangi beliau di jumrah Wustha dan Nabi Ibrahim melemparinya lagi dengan tujuh biji batu (sampai ia pergi). Setelah itu Nabi Ibrahim menengkurapkan Ismail yang mengenakan pakaian serba putih, Dia berkata, “Ayahku, tidak ada kain lain yang nanti bisa engkau jadikan kafanku selain yang aku kenakan ini, maka lepaslah baju ini dan jadikan sebagai kafanku.” Saat Nabi Ibrahim Alaihissallam hendak melepaskan baju Ismail, terdengar suara dari belakangnya, “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (Q.S. As-shaffât [37]: 104-105), Nabi Ibrahim menoleh dan ternyata telah ada seekor domba putih bertanduk yang bermata hitam lebar. (H.R. Ahmad).

Pelajaran ketiga, berbakti kepada ayah merupakan akhlak para nabi.

Dalam masalah berbakti kepada orang tua, Nabi Ismail Alaihissalam memberikan contoh terbaik.

1. Ketika ayahnya berkata kepadanya, ‘Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” (Q.S. As-Shâffât [37]: 102). Sebagai anak yang berbakti, Nabi Ismail Alaihissallam menjawab, “Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (Q.S. As-Shâffat [37]: 102).

2. Ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissallam datang menjenguk Nabi Ismail, namun beliau ‘alaihissallam tidak bertemu dengannya, lalu berpesan kepada istrinya, “Sampaikan salamku untuknya dan katakan kepadanya agar mengganti kayu palang pintunya!” maka saat Nabi Ismail Alaihissallam menanyakan prihal lelaki itu dan pesannya. Istrinya menjawab, “Dia menitipkan salam dan menyuruhmu mengganti kayu palang pintumu.” Ismail berkata lagi, “Itu ayahku, dan ia menyuruhku untuk menceraikanmu. Sekarang, pulanglah ke keluargamu!”

Nabi Ismail menceraikan istrinya. Ini adalah bentuk baktinya kepada sang ayah.

3. Ketika Nabi Ibrahim datang menjenguknya lagi dan tidak menemukannya juga. Sepulangnya, Nabi Ismail menanyakan lagi pesannya dan melaksanakan pesan itu sebagai bentuk bakti kepada orang tua. Pesan itu berisi agar tidak menceraikan istrinya itu.

4. Ketika Nabi Ibrahim Alaihissallam mendatanginya sementara Nabi Ismail sedang meraut anak-anak panah di bawah naungan pohon besar dekat dengan sumur Zamzam. Ketika melihat ayahnya ia berdiri menyambutnya, bersikap selayaknya seorang anak kepada bapaknya, dan sebaliknya. Kemudian Ibrahim berkata, “Wahai Ismail! Sesungguhnya Allâh memerintahkanku untuk melakukan sesuatu.” Nabi Ismail Alaihissallam berkata, “Laksanakanlah apa yang Rabbmu perintahkan!” Nabi Ibrahim berkata, “Engkau akan membantuku?” Kata Nabi Ismail, “Ya, aku akan membantumu.” Nabi Ibrahim berkata, “Sesungguhnya Allâh memerintahkan kepadaku untuk membangun Rumah-Nya di sini.” Lalu Nabi Ismail mulai membawakan batu dan Nabi Ibrahim mulai membangun, sampai bangunan selesai. Ini juga di antara bentuk bakti Ismail kepada bapaknya.

Allahu a’lam.

Sandy Rizki Febriadi, Lc., M.A.

Sandy Rizki Febriadi, Lc., M.A.

Koordinator Tim Pusat Dakwah & Takmir Masjid Agung Trans Studio Bandung

Leave a Reply

X