Buletin Jumat

Hakikat Musibah dan Cara Menyikapinya

Dalam pandangan Islam, segala sesuatu yang terjadi di dunia ini telah diatur oleh Allah Ta’ala. Meskipun secara ilmu pengetahuan fenomena alam yang terjadi ada yang dapat diamati, namun ada pula yang tidak dapat diamati karena keterbatasan dan kekurangan akal manusia untuk menelitinya. Contoh kejadian gempa bumi dan tsunami di Donggala dan Palu berdasarkan analisis sementara dari para ahli tsunami di Institut Teknologi Bandung (ITB), LIPI, dan BPPT, tsunami pascagempa disebabkan oleh dua hal. Pertama, adanya longsoran sedimen dasar laut di kedalaman 200-300 meter. Kedua terjadinya tsunami di Palu, Donggala, dan sekitarnya disebabkan oleh gempa lokal. Gempa ini terjadi di bagian luar dari Teluk Palu. Namun, tidak ada seorangpun yang bisa memprediksi dan mengamati kapan bencana gempa dan tsunami akan terjadi. Dan Kabar terbaru adalah Pesawat Lion Air yang jatuh di perairan Tanjung Karawang. Hal ini merupakan rahasia Allah Ta’ala Yang Maha Mengetahui dan Berkehandak atas segala sesuatu.

Terkait dengan hal tersebut kita sebagai muslim harus mempercayai bahwa segala sesuatu yang telah terjadi dan yang akan terjadi, telah ditentukan dan ditetapkan oleh Allah Ta’ala, sejak sebelumnya (zaman azali), termasuk musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Donggla, Palu, dan daerah sekitarnya. Tragedi kemanusiaan yang sangat menyayat hati ini sekarang telah menjadi ancaman serius bagi masyarakat di bumi ini, karena ia bisa datang kapan saja dan di mana saja tanpa ada dugaan atau perhitungan sebelumnya. Tentunya dengan berkaca dari konsepsi, manusia sebagai khalifah di bumi dan dianugerahi akal untuk berpikir, mengantarkan kita untuk memberikan persepsi ataupun memaknai pesan dari musibah yang datang tersebut.

Pengertian Musibah

Musibah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti, 1) kejadian (peristiwa) menyedihkan yang menimpa, 2) malapetaka, dan 3) bencana. Makna musibah berakar dari lafadz ashaba-yushiibu, dalam lisan arab, Ibnu Mandzur memberikan arti ad-dahr (menimpa, malapetaka, bencana). Prof. Quraish Shihab lebih menggarisbawahi makna “sesuatu yang menimpa”, bisa baik atau buruk walaupun konotasinya selalu buruk. Misalnya hujan turun yang menimpa manusia, tidak selalu buruk, karena apa yang dianggap buruk adakalanya adalah terbaik bagi mereka dan sebaliknya. Menurut Ahli tafsir Muhammad Husin Tabataba’i, dalam tafsirnya al-Mizan fi Tafsir Al-Qur’an, Musibah adalah kejadian apa saja yang menimpa manusia yang tidak dikehendaki.

Kata “Musibah” dalam Al-Quran

Kata “Musibah” di dalam Al-Qur’an disebut secara eksplisit/jelas sebanyak sepuluh kali, yaitu :

1. QS. Al-Baqarah : 156, “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

2. QS. Ali ‘Imran : 165, “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

3. QS. An-Nisa : 62, “Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”.

4. QS. An-Nisa : 72, “Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa musibah ia berkata: “Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka.”

5. QS. Al-Maidah : 106, “Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan dimuka bumi lalu kamu ditimpa musibah (bahaya) kematian. Kamu tahan kedua saksi itu sesudah sembahyang (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah, jika kamu ragu-ragu: “(Demi Allah) kami tidak akan membeli dengan sumpah ini harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun dia karib kerabat, dan tidak (pula) kami menyembunyikan persaksian Allah; sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa”.

6. QS. At-Taubah : 50, “Jika kamu mendapat suatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya; dan jika kamu ditimpa oleh sesuatu musibah (bencana), mereka berkata: “Sesungguhnya kami sebelumnya telah memperhatikan urusan kami (tidak pergi perang)” dan mereka berpaling dengan rasa gembira”.

7. QS. Al-Qashash : 47, “Dan agar mereka tidak mengatakan ketika musibah (azab) menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan: “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan jadilah kami termasuk orang-orang mukmin”.

8. QS. Al-Hadid : 22, “Tiada suatu musibah (bencana)pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”.

9. QS. Asy-Syuura : 30, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”.

10. QS. At-Taghaabun : 11, “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

Beberapa hal yang harus dilakukan saat mendapat musibah

1. Segera bertindak disertai evaluasi diri

Jika ditimpa musibah, misalnya; terkilir, terluka, sakit atau apapun, maka bersegeralah mengambil tindakan pengobatan dengan mendatangi klinik kesehatan atau seseorang yang ahli di bidangnya. Hal ini penting karena bagian dari syariat Islam, berikhtiar menemukan solusi. Hendaknya tidak membuang momentum dengan penyesalan atau ungkapan negatif dengan menyalahkan siapapun. Jagalah lisan dari mengumpat musibah dan lebih baik semua dilakukan diiringi memperbanyak doa. Cukup kembalikan kepada Allah dengan mengucapkan “Innalillahi wainna ilayhi roji’un” sebagaimana Allah Ta’ala tegaskan di dalam Surah Al-Baqarah ayat 156. Setelah penanganan usai dilakukan, selanjutnya mengevaluasi diri (muhasabah), mengapa musibah itu bisa terjadi ? mungkin hal itu disebabkan karena ketidak hati-hatian, terburu-buru, tidak fokus dll, agar di kemudian hari lebih berhati-hati, sehingga ikhtiar menghindari kejadian buruk bisa diupayakan sedini mungkin.

2. Tetap Berpikir Positif

Sekalipun musibah adalah hal yang dibenci oleh manusia, dalam Islam musibah tak semata berkonotasi negatif, namun ia juga bisa menjadi jalan menuju kemuliaan yang amat dibutuhkan setiap insan beriman. Rasulullah Saw, “Apabila Allah menginginkan kebaikan-kebaikan hamba-Nya, maka Allah segerakan hukuman atas dosanya di dunia. Dan apabila Allah menghenndaki keburukan pada hamba-Nya maka Allah tahan hukuman atas dosanya itu sampai dibayarkan di saat hari kiamat.” (HR. Tirmidzi)

Oleh karena itu, jangan pernah berprasangka buruk kepada Allah Ta’ala dengan musibah apapun yang dialami. Rasulullah bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian itu mati, kecuali dalam keadaan dia berbaik sangka kepada Allah.” (HR. Muslim).

3. Tidak mengeluh dan mencela Musibah

Sebagai insan beriman, kita dituntun oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya untuk menyikapi musibah secara bijaksana, yakni dengan memandang hal tersebut secara proporsional. Sebab, musibah kadang menjadi pilihan Allah untuk mempercepat penempaan diri menjadi insan kamil, sekalipun sudah pasti di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Terlebih di balik musibah ada banyak kebaikan langsung dari Allah, seperti pengampunan dosa dan kebaikan-kebaikan lainnya.

“Tidak ada musibah yang menimpa umat Islam hingga sekecil duri menusuknya, melainkan Allah Azza wa Jalla akan menghapus dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Tidak ada yang menimpa seorang Muslim dari kepenatan, sakit yang menahun, kebimbangan, kesedihan, penderitaan, kesusahan, atau hanya tertusuk duri, kecuali dengan itu Allah hapus dosa-dosanya.” (HR. Bukhari).

“Janganlah engkau mencela penyakit demam, karena ia akan menghapuskan kesalahan-kesalahan anak Adam sebagaimana alat pandai besi itu dapat menghilangkan karat besi.” (HR. Muslim)

Hakikat Musibah

1. Sebagai ujian

Musibah yang menimpa orang-orang beriman yang soleh merupakan bentuk ujian iman dan keyakinannya kepada Allah Ta’ala. Jika dihadapi dengan syukur dan sabar, maka ujian tersebut akan menjadi pensuci diri dan pengangkat derajatnya di sisi Allah Ta’ala. Setiap orang beriman pasti akan diuji oleh Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-‘Ankabut : 2, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”.

2. Sebagai peringatan

Musibah yang menimpa orang-orang baik tapi terkadang masih suka lalai merupakan bentuk peringatan agar dia tidak lagi lalai, sehingga kembali ke jalan yang semestinya. Ini yang difirmankan Allah Ta’ala dalam QS. Ar-Ruum : 41, “… supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

3. Sebagai azab

Musibah yang menimpa orang-orang durhaka seperti orang kafir, musyrik, murtad, fasiq, munafiq, zalim dan Ahli Ma’siat merupakan bentuk siksa yang didahulukan di dunia, dan azab akhirat yang disiapkan jauh lebih pedih lagi. Firman Allah Ta’ala dalam QS. Az-Zumar : 26, “Maka Allah merasakan kepada mereka kehinaan pada kehidupan dunia. Dan sesungguhnya azab pada hari akhirat lebih besar kalau mereka mengetahui.”

Semoga musibah yang kita terima selama ini merupakan ujian, sekurangnya merupakan peringatan, dan bukan azab.

Allahu A’lam.

Masjid Agung Trans Studio Bandung

Masjid Agung Trans Studio Bandung

Ingin tulisan anda dimuat di web kami? Silahkan kirim tulisan anda via email ke masjid.transstudiobandung@gmail.com.

Leave a Reply

X