Buletin Jumat

Meraih Kemuliaan Dengan Takwa

Manusia adalah makhluk sosial, sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan manusia lain untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya, tidak ada manusia yang sanggup hidup tanpa bantuan dari manusia lainnya. Oleh karena manusia adalah makhluk sosial, maka manusia membuat sebuah komunitas sosial, hidup bermasyarakat untuk saling tolong menolong dalam mencapai tujuan hidupnya masing-masing.
Dalam komunitas sosial dikenal istilah “Sertifikasi Sosial”. Stratifikasi adalah pengelompokan anggota masyarakat secara vertical (bersifat hierarkis) kedalam kelompok-kelompok atas dasar kriteria tertentu. Stratifikasi sosial bersifat universal, berdasarkan adanya sesuatu dalam suatu kelompok sosial. Ciri-ciri pelapisan sosial dasar adalah ukuran dasar pembentukan pelapisan sosial, berupa sesuatu yang dianggap berharga oleh masyarakat. Umumnya sesuatu yang dianggap berharga itu berbeda-beda antara masyarakat satu dengan lainnya.

Menurut Soerjono Soekanto, sertifikasi sosial berkaitan dengan aspek kekuasaan, Pendidikan dan kekayaan, maka secara otomatis siapa yang memiliki kekuasaan, pendidikan tinggi dan kekayaan akan eksis dan dihormati dalam sebuah komunitas sosial. Sertifikasi Sosial ini tidak dapat dihindarkan dari kehidupan bermasyarakat, karena kecenderungan manusia akan menghormati dan beranggapan bahwa kemuliaan terdapat pada tiga aspek di atas, dengan adanya sertifikasi ini, banyak anggota masyarakat yang tidak beruntung memiliki pendidikan tinggi, tidak berkuasa dan tidak memiliki kekayaan akan merasa dirinya tidak eksis dan tidak memiliki kehormatan.

Allah subhanahu wata’ala memberikan kabar gembira kepada hamba-Nya yang tidak termasuk ke dalam sertifikasi sosial tersebut, bahwa sertifikasi itu hanya berlaku dalam kehidupan sosial masyarakat, tidak bagi Allah. Di sisi Allah, penggolongan hamba-Nya tidak diukur dengan kekuasaan, pendidikan dan kekayaan, namun dilihat dari Ketakwaannya. Allah berfirman dalam surat Al-Hujurat Ayat 13 :

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal satu sama lain, saling membantu dalam kehidupan, bukan untuk saling membangga-banggakan suku dan bangsa masing-masing, karena sesungguhnya kebanggan itu dinilai dari ketakwaan, dan yang paling mulia di antara manusia bukan yang dilahirkan dari keturunan yang memiliki kekuasaan, bukan juga yang memiliki kekayaan atau pendidikan yang tinggi, tapi yang paling bertakwa kepada Allah.

Di dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan dan menguatkan firman Allah di atas, untuk meyakinkan bahwa apa yang dinilai oleh manusia, belum tentu berbanding lurus dengan apa yang Allah nilai, karena manusia hanya melihat dari apa yang Dzahir, yang nampak, tidak dapat masuk ke ranah yang bersifat tersembunyi.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Abdirrahman bin Syahrin radhiyallahu ‘anhu, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim)

Islam memberikan standar yang berbeda mengenai kemuliaan seseorang, lain halnya dengan prinsip “sertifikasi sosial” yang menyandarkan kemuliaan kepada kekayaan, pendidikan dan kekuasaan. Islam melihat kemuliaan seseorang dari ketakwaannya, sehingga setiap orang memiliki kesempatan untuk meraih kemuliaan tersebut, walaupun tidak lahir dari keturunan terhormat, tidak berkuasa dan tidak kaya raya, inilah salah satu bentuk Islam yang Ramhatan lil alamin, siapa saja memiliki kesempatan dan bagian yang sama.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi)

Takwa kepada Allah subhanahu wata’ala merupakan hal pertama dan paling utama yang memasukkan seseorang kepada surga Allah selain juga ketakwaan adalah indikator kemuliaan seseorang di sisi Allah.

Ketakwaan yang membuat seseorang hamba mulia di sisi Allah, tentunya tidak didapat dengan mudah, harus diiringi upaya yang istiqamah agar ketakwaan itu tumbuh di hati seorang hamba, di antaranya adalah dengan hal-hal berikut :

1. Merenungkan perkara dunia dan akhirat, membandingkan kadar nilai keduanya, karena dengan mengetahui hal tersebut akan mengarahkan manusia untuk lebih fokus mencari kesuksesan akhirat, yaitu dengan memperoleh berbagai kenikmatan surgawi dan terselematkan dari neraka. Allah memberikan kabar gembira bahwa surga disiapkan untuk hamba-hambanya yang bertakwa.

2. Salah satu perkara yang dapat menambah ketakwaan di dalam hati adalah bersungguh-sungguh dalam mentaati Allah Ta’ala karena Allah akan membalas atas usahanya tersebut dengan menambahkan hidayah dan ketakwaan. Dengan demikian, Allah membantunya untuk melaksanakan perintah Allah, membukakan pintu-pintu kebaikan dan ketaatan, serta memudahkan dirinya untuk melakukan ketaatan dan kebaikan yang sebelumnya sulit untuk dilakukan. Allah Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah akan menambah hidayah kepada mereka dan memberikan balasan ketakwaan.” (Muhammad: 17).

3. Di antara hal yang dapat mengantarkan manusia ke derajat takwa adalah bersemangat untuk melakukan dan memperbanyak puasa. Sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan keistimewaan dalam puasa yang dapat membantu hamba melakukan dan mencintai ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman tentang keutamaan puasa, “Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan puasa atas kalian sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi bertakwa.” (Al-Baqarah: 183). Demikian juga, mengingat pentingnya berpuasa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam berwasiat kepada sahabat beliau untuk berpuasa. Beliau memberi penegasan dalam wasiatnya dan memberitakan bahwa tidak ada yang semisal dengan puasa dalam memperoleh ketakwaan. Dari Abu Umamah ia berkata “Wahai Rasulullah perintahkanlah aku dengan sebuah amalan. Berkata Nabi: lakukanlah puasa karena sesungguhnya tidak ada yang sepadan dengannya. Aku berkata (lagi): wahai Rasulullah perintahkanlah aku dengan sebuah amalan. Ia berkata: lakukanlah puasa karena sesungguhnya tidak ada yang sepadan dengannya” (HR Ahmad). Hal tersebut dikarenakan puasa adalah ibadah yang paling privat, antara hamba dan Allah SWT, seseorang shalat dapat dilihat oleh orang lain, pergi umrah atau haji, orang lain akan melihat ibadah kita, namun berbeda dengan puasa, hanya diketahui oleh yang bersangkutan dan Allah SWT.

4. Termasuk juga perkara yang mengantarkan kepada ketakwaan adalah berakhlak dengan akhlak yang baik dan terpuji. Sesuai dengan sifat orang bertakwa yang telah Allah Ta’ala sebutkan di Al-Quran. Allah Ta’ala berfirman, “Bukanlah termasuk kebajikan menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, akan tetapi kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir yang memerlukan pertolongan ditengah perjalanannya, dan orang yang meminta-minta dan memerdekakan budak, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang bersabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang jujur (keimanannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (Al-Baqarah: 177).

5. Perkara yang menumbuhkan ketakwaan di dalam hati seorang hamba juga adalah berlaku adil, bersikap objektif bahkan kepada orang yang tidak kita sukai, Allah SWT berfirman : Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al-Maidah : 8)

Islam telah menyeru umat manusia untuk selalu konsisten dengan keadilan, baik dengan penguasa maupun dengan musuh. Maka, merupakan tindakan yang tidak benar kalau kebencian mengakibatkan perlakuan tidak adil. Hal itu diterapkan pada hubungan antar individu, dan hubungan antar institusi atau negara. Bersikap adil terhadap musuh diterangkan oleh al-Qur’ân secara sangat jelas, sebagai sikap yang mendekatkan diri kepada takwa. Dan kalau setiap agama mempunyai ciri khas tersendiri, maka ciri khas Islam adalah konsep tauhid dan keadilan.

Semoga Allah subhanahu wata’ala selalu membimbing kita semua untuk istiqomah taat kepada segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sehingga kita semua dapat meraih kemuliaan dengan ketakwaan.

Allahu a’lam.

Masjid Agung Trans Studio Bandung

Masjid Agung Trans Studio Bandung

Ingin tulisan anda dimuat di web kami? Silahkan kirim tulisan anda via email ke masjid.transstudiobandung@gmail.com.

Leave a Reply

X