Buletin Jumat

Kenapa Harus Jalan Lurus?

Setidaknya setiap manusia sering berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala agar senantiasa diberikan jalan yang lurus. Doa itu tercermin dalam bacaan al-fatihah ayat 6 dan 7 yang dibaca dalam setiap raka’at shalat dan menjadi bacaan wajib bagi orang-orang yang melaksanakan shalat, baik shalat wajib maupun sunnah. Semalas-malasnya seorang muslim dalam shalat, yang hanya taat dalam shalat lima waktu saja tanpa disertai shalat sunnahnya, maka ia telah membaca al-fatihah sebanyak 17 balikan. Itu artinya ia pun telah membaca ayat ke 6 dan 7 surat al-fatihah sebanyak 17 kali yang berisi tentang permohonan kepada Allah subhanahu wata’ala. agar diberikan dan dibimbing menuju jalan yang lurus. Namun tidak sedikit orang yang tidak menyadari bahwa bacaan al-Fatihah itu mengandung do’a yang sangat luar biasa, yang dapat menyelamatkan orang muslim tersebut dari fitnah dunia dan akhirat.

Pertanyaannya kenapa kita butuh jalan yang lurus? Apa itu jalan yang lurus? Dan apa saja yang termasuk jalan yang lurus? Sebelum lebih jauh, saya ingin menjelaskan melalui sebuah ilustrasi terkait kedudukan jalan lurus bagi kemaslahatan dan keselamatan umat muslim.

Sebuah mobil yang berjalan dengan mobil yang diam adalah berbeda. Mobil yang berjalan pasti memiliki sebuah tujuan. Mobil harus mengikuti rute atau jalan yang mengarahkan ke daerah tujuan. Ia tidak boleh menempuh jalan yang berada diluar jalur yang dituju, kecuali jalur tersebut bisa menghubungkan ketempat tujuan, maka itu adalah diperbolehkan. Pada hakikatnya, mobil yang berjalan menempuh rutenya, maka ia sedang menempuh jalan yang lurus. Ketika terdapat jalan secara fisiknya adalah berbelok, baik kanan atau kiri, maka ketika mobil tersebut mengikuti jalurnya atau jalannya, maka mobil tersebut menempuh jalan yang lurus walaupun jalannya berbelok, karena dalam hal ini jalan yang lurus bagi mobil itu adalah jalan yang ditempuhnya untuk sampai ke tempat yang dituju. Ketika mobil itu berbelok, artinya ia keluar jalur dan bisa menyebabkan kendaraan ini tidak akan sampai ke tempat tujuan. Ini sebuah ilustrasi bahwa betapa pentingnya kita menjaga diri kita agar berada pada jalan yang lurus karena kita harus kembali kepada-Nya dalam keadaan suci dan bersih.

Di dalam surat al-fatihah ayat 6 & 7 Allah berfirman:

“Tunjukilah kami jalan yang lurus; (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa terdapat perbedaan pendapat ulama, baik ulama salaf maupun khalaf, terkait makna “Ash-Shirot” yang diartikan “Jalan” menurut terjemah B. Indonesia. Namun semuanya mengerucut kepada satu makna yaitu mengikuti aturan Allah dan Rasul-Nya. Makna lainnya adalah kitab Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana dalam sebuah hadis yang disampaikan dari Ali bin Abi Thalib k.w., ia berkata bahwa rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; Ash-Shirotol Mustaqim adalah “kitab Allah”. Makna lainnya dari imam ats-Tasuri dari Manshur, dari Abi Wail, dari Abdullah ia berkata bahwa shirotol mustaqim adalah kitab Allah, diceritakan juga itu bermakna “Islam”. Imam Adh-Dhahak dari Ibnu Abbas ia berkata; Jibril a.s., berkata kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Ucapkanlah “Ihdina ash-Shirotol Mustaqim”, ia berkata: Tunjukkanlah kepada kami jalan hidayah, yaitu agama Allah yang tidak ada kesesatan didalamnya.” Imam Mujahid berkata bahwa dimaksud ayat tersebut adalah al-Haqq yaitu kebenaran.

Ibnu Katsir menyimpulkan dari beberapa penafsiran dari para ahli berkaitan dengan jalan yang lurus, bahwa orang yang mengikuti dan meneladani Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat setelahnya itu berarti telah melakukan / mengikuti kebenaran / haq, dan barangsiapa yang menjalankan kebenaran maka ia mengikuti ajaran Islam, dan barang siapa yang mengikuti ajaran Islam maka ia telah mengamalkan al-Qur’an yang secara status adalah kitabnya Allah yang benar, maka semuanya merupakan satu kesatuan yang saling menguatkan.

Ath-Thabari menyebutkan bahwa ash-shirotol mustaqim adalah segala sesuatu yang ditinggalkan/dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam artinya segala sesuatu yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Berkaitan dengan ciri-ciri orang yang diberikan jalan yang lurus sebagaimana surat Al-Fatihah ayat 7. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa orang-orang yang diberikan nikmat oleh Allah subhanahu wata’ala itu tercantum di dalam surat an-Nisa ayat 69-70, yang artinya:

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugrahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.”

Imam Adh-Dhahak dari Ibnu Abbas menjelaskan bahwa orang-orang yang diberikan nikmat oleh Allah subhanahu wata’ala dikarenakan keta’atannya, ibadahnya, dari malaikat Allah, para Nabi-Nya, orang-orang yang benar, syuhada, dan sholihin. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat an-Nisa ayat 69.

Abu Ja’far dari ar-Rabi’ bin Anas menyebutkan bahwa yang tergolong mendapatkan kenikmatan adalah para Nabi. Ibnu Juraij dari Ibnu Abbas, ia berkata bahwa golongan ini adalah orang-orang mukmin. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam menyebutkan bahwa golongan yang diberikan nikmat adalah mereka para nabi, dan orang-orang yang bersama mereka yang melakukan kebaikan. Mereka ini adalah orang-orang yang mendapatkan hidayat, istiqomah dalam kebaikan, dan taat akan perintah Allah dan rasul-Nya, menjauhi segala bentuk larangan yang sudah diatur dalam Islam, baik kejahatan untuk dirinya maupun kedzaliman kepada orang lain.

Di samping itu, kita memohon kepada Allah subhanahu wata’ala untuk dipalingkan dari orang-orang yang meniti jalan kesesatan. Orang yang tergolong tersesat dan menyesatkan adalah mereka yang tahu tentang kebajikan dan kebenaran namun dia tidak pernah melakukan kebenaran itu. Dari ayat tersebut disebutkan dua kelompok yaitu pertama golongan orang yang dimurkai dan yang kedua golongan orang yang tersesat. Ibnu katsir menjelaskan bahwa jalan yang lurus, yang dinantikan oleh orang-orang yang beriman adalah jalan yang yang mencakup antara ilmu tentang kebenaran / haq dan pengamalan itu menjadi satu kesatuan, tidak hanya teoritis di akal saja, dan amal tanpa ilmu. Namun bagi golongan Yahudi yang disebutkan sebagai orang yang dimurkai karena mereka adalah orang-orang yang berilmu tapi tidak beramal. Dan golongan yang disebut sebagai orang tersesat adalah mereka yang tergolong kedalam nashroni. Kelompok nashroni adalah mereka yang tidak memiliki pengetahuan.

Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang siapa yang termasuk “al-Magdhubi ‘Alaihim” kemudian Rasulullah mengisyaratkan kepada golongan Yahudi, dan “Adh-Dhollin” kemudian Rasul mengisyaratkan bahwa mereka adalah Nashrani. (H.R. Al-Jariri).

Banyak ayat-ayat yang menjelaskan orang-orang yang dimurkai akibat kesesatan yang ada pada mereka, seperti firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 90, sebagaimana artinya:

“Alangkah buruknya (Hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah Swt. menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendakinya diantara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.”

Dalam surat lainnya, Allah Swt. menjelaskan orang-orang yang tersesat beserta sikapnya, seperti surat al-Maidah ayat 60, 78-79.

Fikih Aplikatif

Kita sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah Swt. dan akan kembali kepadanya, dan setiap makhluk hidup akan dikembalikan kepadanya, pertanyaan dasarnya bahwa kita mau dikembalikan kepadanya dengan keadaan seperti apa, apakah dalam keadaan baik atau buruk? Semua itu kita sendiri yang akan menjawabnya.

Kalau perumpamaan di awal tentang mobil, ketika mobil itu tidak pernah belok dari jalurnya, maka ia akan sampai pada tujuannya dengan selamat dan bahagia. Namun apabila mobil itu pernah belok kiri / kanan yang berarti keluar jalurnya, maka ia mungkin pernah jatuh, pernah tersenggol, pernah tersalip, dan lain sebagainya yang bernilai negatif. Maka ia pasti akan sampai kepada tujuannya namun dalam keadaan kotor, dalam keadaan tidak selamat dan tidak bahagia.

Pelajaran dari surat an-Nisa ayat 69 dan 70, bahwa orang-orang yang tergolong mendapatkan kenikmatan dari Allah Swt. adalah mereka yang menaati Allah dan rasul-Nya yang disingkat menjadi taqwa. Ketika manusia bisa mentaati perintah Allah Swt. dan mengikuti jejak rasulnya maka dia akan mendapatkan jalan yang lurus, jalan kebenaran, jalan yang penuh dengan kenikmatan dunia dan akhirat, sebagaimana kenikmatan yang diberikan kepada para nabi Allah Swt., orang-orang shalih, orang-orang yang jujur, para syuhada, dan orang-orang yang cinta kepada Allah Swt. melebihi dunia seisinya. Karena dengan hidup seperti itu saja, kenikmatan menjalani hidup akan terasa, kenikmatan berkeluarga akan indah dan bertambah, kenikmatan bekerja akan mendatangkan berkah, kenikmatan berteman menjadikan waktu-waktu itu indah. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama berusaha untuk meningkatkan kwalitas iman dan taqwa kita agar kita menjadi muttaqin dan selalu berada pada jalan yang lurus. Amin ya Allah.

Encep Abdul Rojak, S.H.I., M.Sy.

Encep Abdul Rojak, S.H.I., M.Sy.

Tim Asatidz Pusat Dakwah dan Takmir Masjid Agung Trans Studio Bandung, Dosen Ilmu Falak, Fakultas Syariah UNISBA

Leave a Reply

X