3 Golongan Kaum Muslimin Menurut Al-Quran

Orang yang telah bersyahadat dan memeluk agama Islam disebut muslim. Dalam pengertian lain, muslim adalah orang yang tunduk dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya. Seorang muslim yang benar pada hakikatnya adalah mereka yang senantiasa menaati perintah dan menjauhi larangan Allah dan Rasul-Nya. Bagi siapa saja yang taat, maka Allah akan memberikan balasan yang terbaik berupa surga. Sebaliknya, bagi mereka yang terus bermaksiat maka akibat dari apa yang dia perbuat adalah dosa. Berkaitan dengan muslim ini, terdapat tiga golongan yang termaktub di dalam Al-Quran.

Allah Ta’ala berfirman:

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (QS. Fathir [35]: 32).

“Allah menjadikan orang-orang yang mengamalkan Al-Quran yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya adalah orang-orang yang Allah pilih di antara hamba-hamba Kami,” Mereka adalah umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam Kemudian mereka terbagi menjadi tiga golongan. Pertama, Allah subhanahu wata’ala berfirman, “lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Q.S. Fathir [35]: 32). Yaitu, orang yang melalaikan sebagian dari pekerjaan yang diwajibkan atasnya dan mengerjakan sebagian dari hal-hal yang diharamkan. Kedua, Allah berfirman, “dan di antara mereka ada yang pertengahan.” (Q.S. Fathir [35]: 32). Yaitu, orang yang menunaikan hal-hal yang diwajibkan atas dirinya dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan, tetapi adakalanya dia meninggalkan sebagian dari hal-hal yang disunatkan dan mengerjakan sebagian dari hal-hal yang dimakruhkan. Ketiga, Allah ta’ala berfirman, “dan di antara mereka ada (pula) yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan izin Allah.” (Q.S. Fathir [35]: 32). Yaitu orang yang mengerjakan semua kewajiban dan hal-hal yang disunnahkan, juga meninggalkan semua hal yang diharamkan, yang dimakruhkan, dan sebagian hal yang diperbolehkan.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya, “Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Fathir (35): 32). Bahwa mereka adalah umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah telah mewariskan kepada mereka semua kitab yang telah Dia turunkan, maka orang yang aniaya dari kalangan mereka diampuni, dan orang-orang yang pertengahan dari mereka dihisab dengan hisab yang ringan, sedangkan orang-orang yang lebih cepat berbuat kebaikan dari mereka dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab.

Imam Tabrani meriwayatkan dari Ibnu Juraij, dari Ata, dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda di suatu hari, “Syafaatku bagi orang-orang yang mempunyai dosa besar dari kalangan umatku.” Ibnu Abbas mengatakan bahwa orang yang lebih cepat berbuat kebaikan akan masuk surga, tanpa hisab, dan orang yang pertengahan masuk surga berkat rahmat Allah, sedangkan orang yang aniaya terhadap dirinya sendiri serta orang-orang yang berada di perbatasan antara surga dan neraka dimasukkan ke dalam surga berkat syafaat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hal yang sama telah diriwayatkan dari bukan hanya seorang dari kalangan ulama salaf, bahwa orang yang aniaya terhadap dirinya sendiri dari kalangan umat ini termasuk orang-orang yang dipilih oleh Allah, sekalipun dalam dirinya terdapat penyimpangan dan kealpaan. Ulama lainnya mengatakan bahwa bahkan orang yang aniaya terhadap dirinya sendiri bukanlah termasuk umat ini, bukan pula termasuk orang-orang yang dipilih oleh Allah untuk mewarisi Al-Quran. Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan pengertian “di antara mereka ada yang berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri,” bahwa dia adalah orang kafir.

Ibnu Abu Najih telah meriwayatkan dari Mujahid, sehubungan dengan firman-Nya, “lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Fathir (35): 32). Bahwa mereka adalah orang-orang yang menerima catatan amal perbuatannya dari arah kirinya. Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam dan Al-Hasan serta Qatadah, bahwa yang dimaksud dengan orang yang menganiaya dirinya sendiri adalah orang munafik.

Pendapat yang benar mengatakan bahwa yang dimaksud dengan orang yang menganiaya dirinya sendiri dalam ayat ini adalah sebagian dari umat ini. Inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir, sebagaimana yang terbaca dari lahiriah ayat. Dan sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis-hadis dari Rasulullah yang diriwayatkan melalui berbagai jalur; yang sebagian jalurnya memperkuat sebagian yang lain. Berikut ini kami ketengahkan beberapa hadis, di antaranya:

Pertama, dari Abu Sa’id Al-Khudri ra., dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah bersabda sehubungan dengan makna firman-Nya, Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan izin Allah. (QS. Fathir (35): 32). Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Mereka semuanya berada di tempat yang sama, dan semuanya berada di dalam surga.” (H.R. Ahmad). Makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengatakan, “Dan mereka berada di tempat yang sama,” ialah bahwa mereka berasal dari umat ini dan bahwa mereka termasuk ahli surga, sekalipun di antara mereka terdapat perbedaan dalam hal kedudukannya di dalam surga.

Kedua, dari Abu Darda ra. yang mengatakan, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda sehubungan dengan makna ayat berikut, “Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan izin Allah.” (QS. Fathir (35): 32). Bahwa adapun orang-orang yang lebih cepat berbuat kebaikan, mereka adalah orang-orang yang dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab; dan orang-orang yang pertengahan ialah mereka yang mengalami hisab, tetapi hisab yang ringan. Adapun orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri adalah orang-orang yang ditahan di sepanjang Padang Mahsyar menunggu syafaat dariku, kemudian Allah memaafkan mereka dengan rahmat-Nya; mereka adalah orang-orang yang mengatakan seperti yang disitir oleh firman Allah subhanahu wata’ala, “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu.” (Q.S. Fathir [35]: 34 – 35).

Ketiga, dari Abu Darda ra. yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah membaca firman-Nya, “Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Fathir (35): 32). Lalu Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Adapun orang yang menganiaya dirinya sendiri, maka ia ditahan sehingga mengalami kesusahan dan kesedihan, kemudian dimasukkan ke dalam surga.”

Keempat, Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui hadis Sufyan Ats-Tsauri, dari Al-A’masy yang telah mengatakan bahwa Abu Sabit masuk ke dalam masjid, lalu duduk di sebelah Abu Darda ra. Maka Abu Sabit berdoa, “Ya Allah, hiburlah diriku dalam kesendirianku dan belas kasihanilah aku dalam keterasinganku, dan mudahkanlah bagiku mendapat teman duduk yang saleh.” Maka Abu Darda berkata, “Jika engkau benar, berarti aku lebih berbahagia daripada kamu. Aku akan menceritakan kepadamu sebuah hadis yang kudengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan aku belum pernah menceritakannya sejak aku mendengarnya. Aku mendengar beliau membaca ayat berikut, “Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih cepat berbuat kebaikan.” (QS. Fathir (35): 32). Bahwa adapun orang yang lebih cepat berbuat kebaikan-kebaikan, maka ia memasuki surga tanpa hisab. Orang yang pertengahan, maka ia hanya mendapat hisab yang ringan. Dan orang yang aniaya kepada dirinya sendiri, maka ia mengalami kesedihan dan kesusahan di tempat pemberhentiannya. Yang demikian itu disebutkan oleh firman-Nya, “Dan mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami.’” (Q.S. Fathir [35]: 34).

Kelima, dari Usamah ibnu zaid r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya, “lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan izin Allah.” (Q.S. Fathir [35]: 32), hingga akhir ayat. Usamah ibnu Zaid melanjutkan, bahwa Rasulullah telah bersabda sehubungan dengan makna ayat ini, “Mereka semuanya berasal dari umat (ku) ini.”

Para ulama dari kalangan umat ini merupakan orang-orang yang paling diprioritaskan mendapat nikmat ini, dan mereka adalah orang-orang yang lebih utama untuk mendapat rahmat ini. Sehubungan dengan hal ini Imam Ahmad meriwayatkan dari Qais ibnu Kasir, yang mengatakan bahwa seorang lelaki dari kalangan penduduk Madinah datang kepada Abu Darda ra. yang saat itu berada di Dimasyq, maka Abu Darda bertanya, “Apakah yang mendorongmu datang ke mari, hai saudaraku?” Lelaki itu menjawab, “Suatu hadis yang ada berita sampai kepadaku bahwa engkau telah menceritakannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Abu Darda ra. bertanya, “Bukankah engkau datang untuk berdagang?” Lelaki itu menjawab, “Bukan.” Abu Darda bertanya, “Benarkah engkau datang hanya untuk mencari hadis tersebut?” Lelaki itu menjawab, “Ya.” Abu Darda berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, Allah akan membawanya menempuh suatu jalan menuju ke surga. Dan sesungguhnya para malaikat benar-benar menaungkan sayap-sayapnya karena rela kepada penuntut ilmu, dan sesungguhnya semua makhluk —baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi— benar-benar memohonkan ampunan bagi orang yang alim, sehingga ikan-ikan yang ada di air (memohonkan ampun pula buatnya). Dan keutamaan orang alim atas seorang ahli ibadah (yang tidak alim), seperti keutamaan rembulan di atas semua bintang lainnya. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi, dan sesungguhnya para nabi itu tidak meninggalkan dinar dan tidak pula dirham, melainkan yang ditinggalkan mereka hanyalah ilmu; maka barang siapa yang mengambilnya, berarti ia telah mengambil bagian yang berlimpah.”

Disebutkan hadis Tsa’labah Ibnul Hakam ra., dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah bersabda, “Allah subhanahu wata’ala berfirman di hari kiamat kepada para ulama, ‘Sesungguhnya Aku tidak sekali-kali menaruh ilmu dan hikmah-Ku pada kalian melainkan Aku bermaksud akan memberikan ampunan bagi kalian dengan segala dosa yang ada pada kalian, tanpa Kupedulikan lagi.’”

Dari pembahasan dan penjelasan ayat di atas terdapat beberapa pelajaran yang dapat diambil, antaranya:

  1. Tingginya kemuliaan umat Muhammad dengan memperoleh anugerah kitab Al-Qur`an yang memuat kebenaran dan hidayah kitab Injil dan Taurat.
  2. Luasnya rahmat Allah Azza wa Jalla bagi umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. Kaum muslimin terbagi menjagi tiga golongan dalam beramal.
  4. Pentingnya berlomba-lomba dalam kebaikan.
  5. Orang yang berbuat dosa selain kufur dan syirik tidak kekal di neraka.

Semoga kita termasuk ke dalam orang-orang yang selalu bersegera dalam melakukan amal shalih. Allahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X