Bersyukur: Ibadah yang Seringkali Dilalaikan

Syukur merupakan salah satu bentuk ibadah yang agung dalam Islam. Akan tetapi, meskipun ibadahnya begitu spesial, masih banyak di antara kaum muslimin yang seringkali lalai dalam melaksanakannya. Bahkan, justru kita malah sering mengomel kepada Allah atau tidak menerima takdir yang Allah tetapkan kepada kita selaku hamba-Nya. Begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita selaku makhluk-Nya. Akan tetapi, dari sekian banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada seluruh mahluk-Nya di bumi ini, sedikit sekali orang yang memang benar-benar bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan.

Allah Swt. memberikan kita nikmat yang tiada terhingga setiap harinya. Hanya saja, kita tidak menyadari hal tersebut. Setiap napas yang kita hirup, setiap tubuh yang kita gerakan, itu semua merupakan nikmat yang Allah berikan tanpa kita sadari. Kita hanya menganggap nikmat itu berupa harta, jabatan, dan sebagainya. Padahal, nikmat itu bukan hanya yang terlihat oleh mata saja, bukan begitu?

Kita kurang bersyukur atas nikmat-nikmat non-fisik yang Allah berikan. Padahal, nikmat non-fisik dari Allah yang dianugerahkan kepada kita merupakan nikmat yang lebih besar. Apabila kita sadar akan nikmat tersebut, mungkin kita tidak akan henti-hentinya bersyukur atas nikmat Allah yang berikan. Salah satunya adalah nikmat ketenangan hati di setiap keadaan.

Allah Swt berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌۭ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Q.S. Ibrahim: 7).

Sikap bersyukur itu bagaikan tali yang menarik nikmat lain yang belum datang kepada kita. Apabila kita bersyukur, maka sikap kita tersebut akan mengikat nikmat yang sudah ada dan mengundang atau menarik nikmat-nikmat lainnya yang belum datang sehingga menghampiri kita[1]. Tidak perlulah kita risau dengan nikmat-nikmat yang belum datang. Tidak perlu juga kita khawatir tidak akan mendapatkan nikmat-nikmat lain yang telah didapatkan oleh orang lain. Akan tetapi, takutlah jika kita tidak mensyukuri nikmat-nikmat yang sudah kita terima dari Allah Swt. Apabila kita tidak mensyukuri nikmat yang telah didatangkan Allah, maka akan lepaslah nikmat itu dari genggaman kita. Jika nikmat tersebut sudah terlepas dari genggaman kita, bagaimana dia bisa mengundang nikmat lain untuk datang kepada kita? Malah yang akan muncul adalah malapetaka sebagai akibat sikap kita yang tidak bersyukur.

Jika ada selang, jangan pernah berharap ada air keluar dari selang, berharaplah sumber air memancarkan air. Meskipun selangnya banyak, jika sumber airnya tidak memancarkan air, maka percuma saja selang-selang itu hadir. Daripada kita memperhatikan selang, akan lebih baik kita memperhatikan bagaimana mata air bisa memancarkan air[2].

Tidak perlu gelisah atas nikmat yang belum kita dapatkan. Sikap seperti itu tidaklah penting dan tidak akan memberikan efek positif pada diri kita. Sikap yang penting kita lakukan adalah mensyukuri nikmat yang sudah Allah Swt. berikan. Sedangkan, sikap kufur atau tidak bersyukur akan menggerus nikmat yang sudah kita miliki dan menjauhkan kita dari nikmat yang belum kita punyai.

Posisi seorang hamba ketika merasa kekurangan adalah dengan melihat kondisi orang lain yang kurang baik dibandingkan dengan kondisinya. Rasulullah Saw. mengajarkan, “Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, itu membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (H.R. Bukhari & Muslim). Hadis tersebut menjelaskan bahwa kita harus melihat kepada orang-orang tidak mampu dalam masalah harta dan keadaaan. Karena semiskin-miskinnya kita, kita masih diberi nikmat oleh Allah berupa tubuh yang sehat dan kesempatan untuk bertaubat melalui umur yang panjang. Tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk tidak bersyukur kepada Allah Swt. Nikmat dari Allah yang mana yang bisa kita dustakan? Semoga kita termasuk hamba-Nya yang pandai bersyukur.

Allahu a’lam.

Catatan Kaki:
[1] Tasmara, Toto. “The Secret of Iman”. 2009. Jakarta: Gema Insani.
[2] Gymnastiar, Abdullah. “Asy Syakur Allah Yang Maha Mensyukuri”. 2012. Bandung: SMS Tauhiid.

Editor: Fadil Ibnu Ahmad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X