Faidah Bersabar Dan Berysukur

Kesuksesan hidup seorang muslim bukan dilihat dari masa kehidupannya saja, namun yang hakiki adalah kesuksesan setelah kematian. Kegagalan berwiraswasta, kegagalan bekerja, kegagalan-kegagalan lainnya bersifat dunia yang dialami di dunia masih bisa mencari peluang, meminta tolong kepada kerabat, teman, dan lainnya. Namun apabila kegagalan itu dirasakan setelah kematian di akhirat nanti, tidak ada yang dapat menolong, tidak ada yang memperhatikan, semuanya sibuk dengan tanggungjawab masing-masing. Namun apabila orang muslim sukses di akhirat, maka akan bahagia dengan balasan surga yang penuh dengan kenikmatan. Karena itu, setiap muslim harus sukses di dunia terlebih lagi di akhirat yang abadi.

Sebagai manusia yang berakal sempurna, pastinya kita akan melakukan berbagai upaya untuk menyongsong hari esok yang lebih baik. Besok merupakan hari atau waktu yang belum tentu dijalani oleh setiap manusia, namun waktu besok merupakan sebuah harapan besar bagi setiap manusia sesuai dengan latar belakangnya, dan pastinya mengharapkan yang lebih baik. Bagi para pengusaha dia berharap ada peningkatan dalam keuntungan, bagi para pekerja ada peningkatan dalam kesejahteraan, bagi para pelajar ada peningkatan dalam proses belajar, dan lain sebagainya.

Islam sangat menganjurkan untuk mempersiapkan diri agar hari esok lebih baik daripada hari ini. Makna esok bisa difahami sebagai hari esok di dunia ataupun hari esok setelah kematian, yaitu hari yang kekal di akhirat. Hal ini tersurat dalam Al-Qur’an surat al-Hasyr ayat 18 berikut ini:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Hari esok dalam arti akhirat adalah tipologi dari sebuah tujuan hidup seorang muslim. Orang Islam yang tidak menjadikan akhirat sebagai tujuan hidup, maka akan mendapatinya dalam keadaan kerugian yang abadi. Karena kerugian di akhirat tidak dapat ditebus oleh apapun, kecuali amalan semasa hidupnya yang menjadi jaminan. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan kekal selamanya. Firman Allah dalam Surat Al-A’la ayat 17:

“Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”

Karena itu, dalam kehidupan kita, tidak bisa hanya melakukan untuk dunia saja. Akan tetapi akhirat adalah tujuan hidup kita sebagai muslim. Kita harus mempersiapkan diri kita dengan cara mengisi waktu-waktu dengan ibadah, karena manusia diciptakan hanya untuk mengabdi dan beribadah kepadaNya semata. Firman Allah dalam surat adz-dzariyat ayat 56:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Bentuk ibadah sangatlah berragam, ada yang wajib dan adapula yang haram. Ada yang sunnah dan ada pula yang makruh. Ibadah yang berbentuk wajib dan sunnah merupakan dua model yang boleh dilakukan dan akan mendatangkan pahala. Hanya ibadah seperti itulah yang mendapatkan reward dari Allah subhanahu wata’ala bagi para pelakunya. Adapun bentuknya ibadah, namun bertentangan dengan petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka tidak ada nilai baginya melainkan dosa saja. Seperti orang yang lagi haid kemudian shalat atau berpuasa, maka tidak mendatangkan pahala melainkan dosa yang akan didapatkan.

Ada yang lebih penting daripada hanya ritual semata, yaitu tentang keikhlasan dan kemurnian akidah. Ada orang yang melakukan amalan dengan format ibadah namun hatinya tidak tulus dan akidahnya tidak murni, maka tidak ada pahala yang didapatkan kecuali dosa dan murka Allah subhanahu wata’ala. Sebagai contoh, pelaksanaan pembacaan al-Qur’an adalah termasuk ibadah yang dianjurkan pengerjaannya. Namun dalam prakteknya apabila bukan karena Allah dan diselingi dengan kesyikiran, maka tidak ada faidah yang didapatkan kecuali murka Allah subhanahu wata’ala.

Makna besok perspektif duniawi pun harus kita perhatikan, tidak boleh dikesampingkan begitu saja. Sebuah pribahasa menyebutkan, dimana kita berpijak disana langit dijunjung, artinya kita sedang hidup di dunia maka kita pun harus mempersiapkan bekal dunia. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam surat al-Qasas ayat 77:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Mencari untuk akhirat adalah utama, karena tujuan hidup kita bukan untuk dunia. Dunia hanya tempat berteduh untuk mencari bekal di kehidupan yang abadi. Namun demikian, Allah subhanahu wata’ala mengingatkan kita bahwa jangan dilupakan kehidupan dunia yang kita jalani. Dengan dunia yang kita miliki akan bisa mengantarkan kepada akhirat yang penuh dengan kemenangan dan keberuntungan.

Sungguh keliru orang-orang yang hanya mencari bekal akhirat dengan ibadah dan melupakan bekal duniawinya. Kecuali orang-orang yang sudah dipilih oleh Allah dengan tingkat keimanan yang tinggi, sehingga mereka memandang dunia dengan sebelah mata saja. Namun bagi orang yang biasa-biasa saja, tidak bisa kita meninggalkan kerja dan menyandarkan kebutuhan kehidupannya kepada bantuan orang lain, maka ini adalah konsep yang keliru. Islam justru mengajarkan agar kita menjadi orang yang bertakwa dan berlimpah harta, sehingga bisa menjamin keturunan yang ada setelahnya dengan keadaan yang tercukupi. Hal ini bisa dilihat dalam surat an-Nisa ayat 9:

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Sabar dan Syukur Kunci Kesuksesan

Siapa yang tidak kenal dengan Uwais al-Qarni. Nama yang satu ini dikenal di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia termasuk orang sholeh dan berbakti kepada orang tuanya. Taat dan patuh pada setiap ajaran Allah tanpa sedikitpun menyepelekan orang tuanya yang sudah sakit-sakitan, sehingga namanya sangat terkenal di langit, sehingga ia dikenal dengan orang yang viral di langit dan dibanggakan oleh penduduk langit. Siapa penduduk langit itu? Yang pastinya adalah makhluk Allah yang tunduk dan patuh terhadap perintah-Nya.

Uwais al-Qarni termasuk salah satu orang yang mengamalkan sifat Sabar dan Suykur dalam kesehariannya. Ia bersyukur terhadap karunia dan kenikmatan dari Allah subhanahu wata’ala, diantaranya syukur terhadap jiwa raga dan akal yang sehat, serta karunia yang utama yaitu masih diberikan orang tua yang masih hidup walaupun hanya ibunya saja. Ia senantiasa bekerja untuk menyambung hidup, dan juga bersedia menjaga ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Dalam aktifitasnya ia senantiasa bersabar dalam menghadapi cemoohan tetangganya, karena ia diberikan penyakit di sekujur tubuhnya, serta ia bersabar dalam mengabdi dan mengurus ibunya tersebut. Dengan kedua sifat ini, ia lahir menjadi orang yang kuat dalam iman, kuat dalam fisik, kuat dalam fikiran dan akal, dan kuat dalam segalanya. Sehingga ia menjadi orang yang viral di tengah-tengah malaikat yang mulia.

Kalaulah Uwais al-Qarni tidak memiliki kedua sifat ini, maka ia tidak akan menjadi orang yang muttaqin, pandai bersyukur, pandai bersabar, dan orang yang taat kepada orang tuanya. Sehingga Uwais al-Qarni lulus dari segala ujian dari Allah subhanahu wata’ala, ia menjadi orang yang bermartabat dan mendapatkan derajat yang mulia di hadapan Allah subhanahu wata’ala.

Hal ini sejalan dengan sebuah hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam riwayat Imam Muslim:

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin, sesungguhnya seluruh urusannya akan adanya baginya menjadi baik, dan ini tidaklah didapati oleh orang-orang selain orang mukmin, yaitu apabila ia mendapatkan kesenangan, kemudian ia bersyukur terhadap kesenangan itu, maka itu akan menjadi kebaikan baginya. Dan apabila ia mendapatkan kesusahan, kemudian ia bersabar, maka itu akan menjadi kebaikan pula baginya.” (HR. Muslim).

Setiap manusia pasti akan ada masanya mendapatkan kebahagiaan dan juga mendapatkan keburukan. Keduanya merupakan sunnatullah yang dapat dirasakan oleh setiap manusia dengan berbagai latar belakang keluarga. Baik orang kaya maupun orang miskin, baik orang pandai maupun orang bodoh, baik laki-laki maupun perempuan, semuanya akan merasakan takdir yang membawa kepada bahagia dan takdir yang mengarah kepada kesedihan. Oleh sebaba itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan jalan yang akurat dalam menghadapi dua keadaan itu, yaitu bersyukur terhadap kebahagiaan dan bersabar terhadap keburukan.

Terdapat banyak kisah yang menginspirasi ummat Islam, baik yang berhubungan dengan kesabaran, kesyukuran, ketabahan, dan lain sebagainya. Para sahabat Rasulullah yang berhijrah / muhajirin ke madinah, mereka meninggalkan rumah dan harta yang ada di dalamnya, meninggalkan perniagaan, meninggalkan tanah-tanah dan ternak mereka, mereka berhijrah bersama Rasulullah untuk menyelamatkan akidah yang diyakini. Setelah mereka berada di Madinah, harta kekayaannya dirampas oleh kaum kafir di Makkah, dan harta yang lainnya pun dimusnahkan. Namun berkat kesabaran yang tinggi, sehingga mereka termasuk kepada muslim-muslim yang menjadi teladan sepanjang masa.

Istri Fir’aun, bernama Asiah yang dikenal dengan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah, menjadi salah satu figur yang Allah rekomendasikan untuk ditiru oleh umat Islam setelahnya, karena kesabarannya dalam menjalani ujian, sehingga ketakwaannya meningkat dan menjadi orang yang dijanjikan surga oleh Allah subhanahu wata’ala. Kalaulah bukan karena kesabarannya yang baik, sulit kiranya untuk Asiah Allah pun mengabadikannya dalam surat At-tahrim ayat 11.

“Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.”

Dalam keadaan terbatas, lingkungan yang kafir, bahkan Firaun sendiri mengaku sebagai tuhan, hal itu tidak menyurutkan semangat Asiah untuk bertauhid kepada Allah subhanahu wata’ala. Ia bersabar dan berusaha agar keimanannya dibawa sampai ia meninggal. Dan ternyata Allah mengabulkan permohonannya. Ini merupakan buah daripada kesabaran.

Berkaitan dengan bersyukur, banyak kisah dari orang-orang yang bersyukur terhadap harta yang dimilikinya, sehingga Ia menjadi tambah kaya. Utsman bin Affan dalam berkorban untuk agama tidak pernah tanggung-tanggung, Abdurrahman bin Auf juga demikian bahkan ia tidak menginginkan kaya. Namun ketika ia bersyukur malah harta tersebut datang kembali dan kembali. Karena janji Allah bagi orang yang bersyukur adalah kelimpahan balasan dari Allah subhanahu wata’ala. Sejalan dengan firmanNya dalam surat Ibrahim ayat 7:

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Fikih amal: Agar bisa bersabar dan bersyukur

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam al-Qur’an surat an-Nahl ayat 53:

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.”

Yakinlah bahwa setiap nikmat itu dari Allah dan setiap takdir yang tidak baik akan menjadi pahala bagi orang yang bersabar, karena manusia itu tidak bisa menentukan sebuah keadaan. Manusia hanya berrencana dan Allah yang menentukan, karenanya marilah bersabar dan bersyukur agar hidup kita sukses dunia akhirat. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X