Hikmah Makanan Yang Diharamkan Oleh Allah

Virus Corona baru atau novel coronavirus (2019-nCoV) kini telah mewabah, bahkan tak hanya di Tiongkok, sejumlah kasus juga terkonfirmasi di negara lain, yakni Australia, Kanada, Kamboja, Prancis, Jerman, Jepang, Malaysia, Nepal, Singapura, Korea Selatan, Sri Lanka, Taiwan, Thailand, Vietnam, dan Amerika Serikat. Virus ini berawal dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, diberitakan 106 orang meninggal dunia akibatnya. Wuhan pun dikarantina. Kota itu bak kota mati. Mereka yang terjebak di dalamnya dilarang keluar.

Beberapa negara termasuk Indonesia sudah mengambil langkah untuk mencegah penyebaran virus corona. Salah satunya merawat seseorang dengan suspect virus corona di ruang isolasi. Namun demikian sampai saat ini belum ada yang dinyatakan positif terjangkit virus corona di Indonesia.

Di masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah terjadi Wabah penyakit menular. Wabah itu ialah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Ketika itu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami lepra atau leprosy. Dalam sebuah hadist, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Jangan kamu terus menerus melihat orang yang menghidap penyakit kusta.” (HR Bukhori).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memperingatkan umatnya agar tidak berada dekat wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar. Berdasarkan sabda beliau, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari).

Pada masa khalifah Umar bin Khattab juga terdapat wabah penyakit. Dalam sebuah hadits dicerikatakan, Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam lalu ia mendapatkan kabar wabah penyakit. Umar kemudian tidak melanjutkan perjalanan. Berikut haditsnya, “Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam, saat sampai di wilah bernama Sargh. Saat itu Umar mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengatakan pada Umar jika Nabi Muhammad pernah berkata, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR. Bukhari dinarasikan Abdullah bin ‘Amir).

Dugaan Kemunculan Virus Corona

Diduga Virus Corona yang menyebar di kota Wuhan Cina berasal dari kelelawar dan ular berjenis krait dan kobra, berpindah dari hewan ke manusia yang berada dalam satu area yang sama. Virus ini diduga bermula dari Pasar Wuhan yang terkenal menjual banyak sekali jenis hewan untuk dikonsumsi, salah satunya kelelawar.

Hukum Memakan Kelelawar

tidak disebutkan di dalam Al-Quran larangan memakan daging kelelawar secara eksplisit. Kalaupun ada yang mengharamkan, maka sesuatu yang haram boleh dimakan atau dipergunakan sepanjang kondisi yang dharurat. Dalam kitab at-Tibyan li Maa Yuhallal wa Yuharram min al-Hayawan karya Imam Syihabuddin asy-Syafi’i, disebutkan bahwa kelelawar menurut pendapat yang masyhur dalam mazhab Syafi’i adalah haram. Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarah Muhadzdzab 9/22 juga menegaskan haramnya kelelawar menurut mazhab Syafi’i. Dalilnya adalah hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang membunuh kelelawar (HR. Abu Dawud, dalam kitabnya al-Marasiil dari jalur ‘Ubad bin Ishaq dari ayahnya) (Lihat Imam asy-Syaukani, Nailul Authar). Berdasarkan hadits tersebut, Imam Syihabuddin menyatakan, ”Apa yang dilarang untuk dibunuh, berarti tidak boleh dimakan”.

Berobat Dengan Benda Haram

Perlu dipahami bahwa ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum berobat dengan benda najis dan haram. Termasuk dalam hal ini berobat dengan benda haram (kelelawar dan yang lainnya), ada ulama yang mengharamkannya, seperti Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,“Sesungguhnya Allah tidak menjadikan obat bagimu pada apa-apa yang diharamkankan Allah atasmu”. (HR. Bukhari dan Baihaqi). Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pula,“Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala menurunkan penyakit dan obat, dan menjadikan setiap penyakit ada obatnya. Hendaklah kalian berobat, dan janganlah kalian berobat dengan sesuatu yang haram”. (HR. Abu Dawud). Namun ada pula pendapat yang membolehkan sementara, penggunaan obat dari bahan yang haram. Tapi kebolehan ini terbatas hanya dalam keadaan darurat, sebagaimana seperti pendapat Prof. Dr. Yusuf Al-Qaradhawi.

Sederhananya, mengingatkan dan menyarankan, agar mengkonsumsi atau menggunakan obat yang telah jelas kehalalannya. Adapun sesuatu yang tidak jelas (dianggap meragukan status kehalalannya agar seyogyanya ditinggalkan. Karena mengkonsumsi yang halal itu merupakan perintah agama. Wallohu A’lam.

Hikmah Makanan Yang Diharamkan

Makanan adalah salah satu komponen utama bagi keberlangsungan hidup manusia. Makanan menyediakan sumber energi bagi tubuh (karbohidrat dan lemak), zat pembangun sel tubuh (protein) dan zat yang memperbaiki fungsi tubuh (vitamin). Oleh karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala telah menyediakan sumber makanan bagi umat manusia di bumi ini, baik dari golongan tumbuh-tumbuhan maupun hewan, baik di daratan maupun perairan. Namun bagi kaum muslimin ada panduan yang harus ditaati. Panduan tersebut dikenal dengan istilah syariah bukanlah suatu panduan yang semena-mena dari Allah. Syariat Islam telah mengatur mengenai halal-haram segala sesuatu, termasuk pula dalam hal makanan.

Para ahli di bidang medis dan fikih berkesimpulan bahwa pelarangan makanan yang haram di dalam Islam ditujukan untuk mencegah manusia dari terkena dampak buruk makanan tersebut sehingga Islam hanya membolehkan kaum muslimin hal-hal yang halal dan baik (thayyib) sebagai sumber makanan sehingga tubuh mendapatkan manfaat dari konsumsi makanan tersebut, baik berupa kesehatan dan tercapainya tujuan Islam, yakni kemaslahatan umat manusia. Allah Ta’ala berfirman,

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. (QS. Al-Maidah (5):3)

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-Maidah (5):90)

Berikut rincian makanan yang diharamkan pada kedua ayat sebelumnya, yaitu:

1. Khamar atau minuman keras. Secara singkat bahwa minuman keras adalah minuman yang apabila dikonsumsi dapat merusak tubuh, baik secara fisik maupun psikis sehingga Allah melarang kaum muslimin untuk mengonsumsinya.

2. Al-Maytah atau bangkai binatang. Dalam terminologi fikih, yang dimaksud dengan Al-Maytah adalah hewan yang mati dan belum sempat disembelih sesuai aturan syariat Islam sehingga dihukumi sebagai bangkai yang tidak boleh dimakan. Di dalam Al Qur’an, jenis-jenis kematian hewan yang tergolong sebagai Al-Maytah, yaitu: a) Al-Munkhoniqoh atau hewan yang mati akibat tercekik tali di lehernya; b) Al-Mawquudzatu atau hewan yang mati karena pukulan, termasuk oleh sengatan listrik; c) Al-Mutaroddiyatu atau hewan yang mati karena terjatuh; d) An-Nathihatu atau hewan yang mati ditanduk; dan e) hewan yang telah mati diterkam hewan pemangsa atau pemburu. Dalam Islam, hewan yang hendak dikonsumsi haruslah disembelih sesuai aturan syariat, yakni dengan pisau yang tajam dan memotong pada tiga urat hewan tersebut sehingga darah keluar dari hewan tersebut hingga ia mati. Hal ini dikecualikan pada hewan laut dan belalang menurut hadits shahih dari Rasulullah. Hikmah dari pelarangan bangkai hewan adalah akan menghindarkan manusia dari penyakit-penyakit yang muncul akibat kematian hewan yang bersifat mendadak/bukan disembelih, seperti antraks atau penyakit sapi gila.

3. Ad-Dam atau darah yang mengalir. Darah yang mengalir dalam tubuh suatu organisme diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun pengecualian dari larangan ini adalah: a) darah yang menempel pada daging sembelihan setelah dibersihkan; b) hati; dan c) limpa. Hikmah pelarangan darah yang mengalir adalah selain darah yang mengalir tergolong najis dalam Islam, hal ini juga dikarenakan darah merupakan media transmisi nutrisi dan juga penyakit pada suatu organisme sehingga pelarangan darah oleh syariat Islam dapat menghindarkan manusia dari bibit penyakit dalam tubuhnya.

4. Al-Khinzir atau babi. Babi dan segala jenis produk turunannya merupakan hewan yang secara eksplisit diharamkan di dalam Al Qur’an. Babi dalam banyak kebudayaan identik dengan sifat rakus, kotor dan kehinaan. Selain itu, babi juga disinyalir membawa bibit penyakit yang begitu banyak dalam tubuhnya, utamanya penyakit di jaringan otot yang diakibatkan oleh cacing Trichinella Spiralis. Oleh karena itu, pelarangan konsumsi babi dalam Islam adalah upaya untuk menjaga manusia dari keburukan babi tersebut, baik dari sisi kesehatan maupun etika.

5. Hewan yang disembelih dengan tidak menyebut nama Allah. Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu telah Allah ciptakan untuk manusia, termasuk hewan-hewan ternak yang dapat manusia konsumsi. Penyembelihan hewan adalah bentuk penggunaan nikmat Allah oleh manusia sehingga manusia harus menyembelih seekor hewan sesuai dengan syariatNya. Penyebutan nama selain Allah saat menyembelih hewan adalah bentuk ingkarnya manusia atas nikmat Allah sehingga pelarangan hewan yang tidak disebutkan nama Allah adalah bentuk penjagaan prinsip Tauhid yang menjadi asas Islam. Oleh karena itu, hendaknya seorang Muslim membeli daging yang disembelih oleh tukang daging Muslim dan membaca basmalah sebelum memakan daging tersebut.

Berdasarkan pemaparan tersebut, maka hendaknya kita, belajar memahami fikih terkait halal-haram dalam Islam, terutama dalam hal makanan. Hal ini penting karena makanan keluarga yang berasal dari zat yang haram maupun sumber yang haram dapat menghilangkan keberkahan dalam kehidupan rumah tangga dan menghambat terkabulnya doa. Selain memperhatikan halal dan haram dalam makanan, aspek adab dalam aktivitas makan juga perlu diperhatikan, seperti makan dengan tangan kanan, membaca basmalah, tidak mencela makanan dan adab lainnya. Hal ini penting sebagai bentuk penghormatan dan syukur kepada Allah atas karunia berupa makanan yang Allah berikan kepada manusia.

Artikel oleh Ustadz Muhammad Fauzi Arif, M.Kom.I.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X