Hukum Meninggalkan Shalat

Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi.

Dari Abu Hurairah, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaraka wa Ta’ala mengatakan,’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.” “Bilamana shalat seseorang itu baik maka baik pula amalnya, dan bilamana shalat seseorang itu buruk maka buruk pula amalnya.” (HR. Ath-Thabarani).

Tidak ada alasan kaum muslimin meninggalkan perintah shalat. Sayangnya, masih banyak kaum muslim yang tidak mau melaksanakan shalat karena alasan dalam perjalanan atau alasan lainnya. Padahal, Allah telah memberi keringanan (rukhsah) kepada orang yang dalam perjalanan dengan boleh menjamak atau menjamak qashar. Jika tidak bisa berdiri, seperti di dalam kereta atau bus, maka boleh menjamaknya dengan cara duduk tanpa harus memaksakan diri menghadap kiblat sebagaimana kala kita dalam keadaan muqim (menetap/tidak bepergian). Artinya, shalat sama sekali tidak boleh ditinggalkan dalam situasi dan kondisi apapun. Bahkan, jika tidak mampu duduk, berbaring pun boleh. Lebih jauh lagi, hanya dengan gerakan mata pun, shalat itu boleh asalkan memang benar-benar tidak mampu mendirikannya secara normal. Dengan kata lain, sebenarnya, sama sekali tidak ada ruang bagi seorang muslim untuk meninggalkan shalat. Karena ibadah ini bersifat mutlak, keringanan yang Allah berikan pun sangat memudahkan kita untuk tetap bisa mendirikannya dengan baik dan benar. Bagi mereka yang tidak mendirikan shalat, maka tempatnya nanti adalah Neraka Saqar.

“Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar?” Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat.” (QS. Al-Mudatstsir [74]: 42-43).

Bahkan, Rasulullah bersabda, “Perjanjian antara kita dengan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkannya, berarti ia telah kafir.” (H.R. Tirmidzi). Kemudian, Ibn Hazm menegaskan bahwa, “Tidak ada setelah kejahatan dosa yang lebih besar daripada dosa meninggalkan shalat sampai waktunya habis dan dosa membunuh seorang mukmin tanpa alasan yang dibenarkan.”

Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang tidak memelihara shalat, maka ia tidak akan bercahaya, tidak mempunyai hujjah (alasan) dan tidak akan diselamatkan. Di hari Kiamat kelak, ia akan dikumpulkan bersama Qarun, Fir’aun, Haman dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad). Dengan demikian, tidak sepatutnya seorang muslim meringankan apalagi meninggalkan shalat, baik secara tidak sengaja atau sengaja. Karena hal itu tidak akan mendatangkan, melainkan kerugian yang amat besar dalam hidup kita dunia akhirat.

Allah ta’ala berfirman, “Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. Kecuali orang yang bertaubat, beriman, dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun.” (QS. Maryam [19]: 59 – 60). Pada ayat sebelumnya, Allah ta’ala menyebutkan tentang golongan orang-orang yang berbahagia, yaitu para nabi dan para pengikutnya yang mengikuti jejak mereka dan menegakkan batasan-batasan Allah lagi menunaikan perintah-perintah-Nya serta mengerjakan semua yang difardukan-Nya dan meninggalkan semua yang dilarang oleh-Nya, lalu Allah menyebutkan dalam ayat ini, “Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek).” (QS. Maryam [19]: 59). Yakni generasi yang buruk sesudah mereka. yang menyia-nyiakan shalat. (QS. Maryam (19): 59). Apabila mereka menyia-nyiakan shalat, maka terhadap kewajiban-kewajiban lainnya lebih menelantarkan dan meremehkan lagi. Karena shalat adalah tiang agama dan pilar penyangganya serta amal yang paling baik. Mereka menjadi orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan memburu kesenangan serta rela dengan kehidupan dunia. Mereka merasa tenang dengan kehidupan dunia.

Orang-orang yang berperangai demikian kelak akan menemui kesesatan, yakni kerugian di hari kiamat. Para ulama berbeda pendapat sehubungan dengan pengertian menyia-nyiakan shalat dalam ayat ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa yang dimaksud dengan menyia-nyiakan shalat ialah meninggalkannya secara total, yakni tidak pernah mengerjakannya sama sekali. Demikianlah menurut pendapat Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi, Ibnu Zaid ibnu Aslam, serta As-Saddi; dan pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir. Karena itulah ada sebagian ulama salaf dan khalaf serta para imam mujtahid seperti yang dikatakan oleh pendapat yang terkenal dari Imam Ahmad, dan menurut suatu pendapat yang bersumber dari Imam Syafii. Mereka mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat hukumnya kafir. Pendapat mereka berlandaskan kepada sebuah hadis yang mengatakan, “Di antara seorang hamba dan syirik adalah meninggalkan shalat.” Dan hadis lainnya yang mengatakan, “Perjanjian di antara kami dan mereka adalah mengerjakan shalat, maka barang siapa yang meninggalkan shalat, sungguh ia telah kafir.” (H.R. Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i).

Al-Auza’i telah meriwayatkan dari Musa ibnu Sulaiman, dari Al-Qasim ibnu Mukhaimirah sehubungan dengan makna firman-Nya, “Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat.” (QS. Maryam [19]: 59). Makna yang dimaksud ialah sesungguhnya mereka hanya menyia-nyiakan waktu-waktu shalat; karena seandainya mereka menyia-nyiakan shalat, tentulah perbuatan itu merupakan perbuatan orang kafir. Dikatakan kepada Ibnu Mas’ud, bahwa mengapa Allah banyak menyebut masalah shalat di dalam Al-Quran yang antara lain ialah firman-Nya, “(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (Q.S. Al-Ma’un [107]: 5). Juga firman-Nya, “Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya.” (Q.S. Al-Ma’arij [70]: 23). Dan firman Allah lainnya, yaitu, “Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (Q.S. Al-Ma’arij [70]: 34). Maka Ibnu Mas’ud menjawab bahwa yang dimaksudkan dengan memelihara ialah memelihara waktu-waktunya, yakni mengerjakannya pada waktunya masing-masing. Mereka yang bertanya mengatakan, “Menurut kami, makna yang dimaksud tiada lain meninggalkan shalat.” Ibnu Mas’ud menjawab, “Yang demikian itu adalah perbuatan kafir.”

Masruq mengatakan bahwa seseorang yang tidak memelihara shalat lima waktunya, maka ia dicatat termasuk orang-orang yang lalai. Menelantarkan shalat lima waktu menyebabkan kebinasaan, dan menelantarkannya berarti menyia-nyiakan dari waktunya masing-masing. Al-Auza’i telah meriwayatkan bahwa Umar ibnu Abdul Aziz membaca firman-Nya, “Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam [19]: 59). Kemudian Umar ibnu Abdul Aziz mengatakan bahwa yang dimaksud dengan menyia-nyiakannya bukanlah meninggalkannya, melainkan menyia-nyiakannya dari waktu-waktunya.

Abu Sa’id Al-Khudri mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu álaihi wasallam bersabda, “Kelak akan ada generasi pengganti sesudah enam puluh tahun; mereka menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. Kemudian akan muncul pula pengganti lainnya yang pandai membaca Al-Quran, tetapi tidak sampai meresap ke dalam hati mereka. Saat itu yang membaca Al-Quran ada tiga macam orang, yaitu orang mukmin, orang munafik, dan orang durhaka. Basyir mengatakan bahwa ia bertanya kepada Al-Walid tentang pengertian dari ketiga macam orang tersebut, “Siapa sajakah mereka itu?” Maka Al-Walid menjawab, “Orang mukmin adalah orang yang beriman kepada Al-Qur’an; orang munafik adalah orang yang kafir kepada Al-Qur’an; sedangkan orang yang durhaka ialah orang yang mencari makan (nafkah) dengannya.”

Ka’bul Ahbar mengatakan, “Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar menjumpai sifat orang-orang munafik di dalam Kitabullah, bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat suka meminum kopi, suka meninggalkan shalat lima waktu, suka bermain dadu, suka tidur meninggalkan shalat isya, suka menyia-nyiakan shalat subuh, dan suka meninggalkan shalat berjamaah.” Kemudian ia membacakan firman-Nya, “Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Q.S. Maryam [19]: 59).

Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa mereka menelantarkan masjid-masjid dan menetapi perbuatan yang sia-sia. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Uqbah ibnu Amir mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya aku mengkhawatirkan dua perkara atas umatku, yaitu Al-Qur’an dan Al-Laban (air susu).” Al-Laban menurut salinan Makkiyyah, sedangkan menurut salinan Al-Amiriyah disebutkan Al-Kuna, bukan Al-Laban. Yang dimaksudkan dengan Al-Laban ialah mereka mengikuti hal yang batil, memperturutkan hawa nafsunya, dan meninggalkan shalat. Adapun yang dimaksud dengan Al-Quran ialah orang-orang munafik mempelajarinya, lalu mereka jadikan sebagai senjata untuk mendebat orang-orang mukmin.

Kemudian pada penghujung ayat 59 ini Allah ta’ala berfirman, “maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam [19]: 59). Ali ibnu AbuTalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud dengan ghayyan ialah kerugian. Sedangkan menurut Qatadah yang dimaksud ghayyan ialah keburukan. Sufyan As-Tsauri, Syu’bah, dan Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Abu Ishaq As-Subai’i, dari Abu Ubaidah, dari Abdullah ibnu Mas’ud sehubungan dengan makna ghayyan adalah nama sebuah lembah di dalam Neraka Jahanam, letaknya sangat dalam dan baunya sangat busuk. Al-A’masy telah meriwayatkan dari Ziyad, dari Abu Iyad bahwa ghayyan adalah nama sebuah lembah di Neraka Jahanam yang berisikan nanah dan darah.

Kemudian pada ayat selanjutnya Allah ta’ala berfirman, “Kecuali orang yang bertaubat, beriman, dan beramal saleh.” (Q.S. Maryam [19]: 60). Kecuali orang yang bertaubat, tidak meninggalkan shalat lagi, dan tidak lagi memperturutkan hawa nafsunya; maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya dan menjadikan baginya akhir yang baik, serta menjadikannya sebagai salah seorang yang berhak menghuni surga yang penuh dengan kenikmatan. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan: Maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun (QS. Maryam [19]: 60). Dikatakan demikian karena taubat itu menghapuskan dosa-dosa yang sebelumnya. Di dalam hadis yang lain disebutkan, “Orang yang bertaubat dari dosa, sama halnya dengan orang yang tidak punya dosa. Karena itulah mereka yang bertaubat tidak dikurangi dari amal kebajikan mereka barang sedikit pun, tidak pula dibandingkan dengan dosa yang sebelumnya yang menyebabkan amal perbuatan sesudahnya dikurangi. Demikian itu karena dosa yang telah dilakukannya dianggap sia-sia dan dilupakan serta dihapuskan sama sekali, sebagai karunia dari Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Penyantun terhadap hamba-hamba-Nya yang bertaubat.”

Allahu A’lam.

Editor: Fadil Ibnu Ahmad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X