Inspirasi Pendidikan Anak Dari Nabi Ibrahim

Pendidikan karakter menjadi wacana yang hangat di dunia pendidikan Indonesia. Gagasan pendidikan telah membangunkan keterlenaan kita. Selama ini kita lebih asyik mengasah otak anak kita dengan iptek, otak anak kita dijejali dengan private les kimia, fisika, biologi serta matematika, namun melupakan pendidikan karakter / akhlak. Akibatnya, ilmu pengetahuan yang diperoleh adalah plus, sedangkan pendidikan karakter/ akhlak yang diiperoleh adalah minus.

Hubungan anatara pendidikan karakter dengan eksistensi atau kebangkitan suatau bangsa memiliki hubungan yang sanagat erat. Syauqi Bey, seorang pujangga Mesir bertutur, “eksistensi suatau bangsa itu karena akhlaknya.” Apabila akhlak bangsa itu telah hilang, maka hilang pula eksistensi bangsa itu. Artinya, boleh jadi perangkat dan struktur bangsa itu masih ada, tetapi tidak dianggap ada dan tidak dihormati oleh bangsa lain lantaran keterpurukan akhlaknya di mata dunia lain.

Prof. Thomas Lickona seorang guru besar pada Cortland University di Amerika, mengajukan 10 ciri/tanda zaman yang membawa suatu bangsa kepada kehancuran :

  1. Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja dan masyarakat.
  2. Penggunaan bahasa dan kata-kata yang semakin memburuk.
  3. Pengaruh peer-group (geng) dalam tindak kekerasan menguat.
  4. Meningkatnya perilaku merusak diri, seperti narkoba, alcohol dan seks bebas.
  5. Semakin kaburnya pedoman moral.
  6. Menurunnya etos kerja.
  7. Semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru.
  8. Rendahnya rasa tanggung jawab individu dan kelompok.
  9. Membudayanya kebohongan dan ketidakjujuran.
  10. Adanya rasa saling curiga dan kebencian antarsesama.

Kesepuluh faktor yang disebutkan di atas boleh jadi hasil penelitian Prof. Thomas terhadap warga negaranya, Amerika. Namun, apabila kita amati satu per satu kemudian kita layangkan pandangan kita kepada lingkungan di sekitar kita, maka semua indikasi itu benar-benar ada di tengah-tengah kita. Ini lah yang menjadi kekhawatiran kita selaku pendidik. Tantangan terhadap dunia pendidikan, termasuk pendidikan akhlak ini, bukan semakin ringan, melainkan bertambah berat. Perkembangan iptek yang didukung oleh tekhnologi informasi yang canggih bukan saja membawa hal yang positif, melainkan juga membawa hal negative, karena mengandung budaya negative yang belum tentu cocok dengan nilai-nilai ketimuran, seperti pornografi, gaya hidup, pakaian (fashion) dan lainnya. Apabila demikian halnya, maka apa yang dapat kita lakukan sebagai orang tua atau pendidik? Apakah kita akan menyerah kepada keadaan, tanpa upaya untuk berbuat sesuatu?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita selaku umatnya dalam sabdanya :

“Jika kiamat akan terjadi (esok) sementara di tangan kamu ada benih pohon yang dapat kamuu tanam sebelum kiamat itu benar-benar datang, maka tanamlah (pohon itu).”

Bercermin dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di atas maka dapatlah kita maknai, “Sekiranya dunia akan runtuh hari esok, karena berbagai gejala kehancuran sudah mulai tampak, sedangkan di samping kita ada anak didik yang dapat dibina, maka didiklah ia sebelum kehancuran itu benar-benar datang.” Inilah beberapa isu yang muncul dan menggejala akhir-akhir ini. Semua itu perlu mendapat perhatian dan kesadaran kita semua.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, seorang nabi ulul azmi, sejak muda memiliki pemikiran dan prinsip yang berbeda dengan orang-orang di sekitarnya yang menyembah berhala. Bagaimana cara Ibrahim menemukan Tuhannya dengan melihat bulan dan matahari. Bagaimana keyakinannya terhadap Allah membuat Nabi Ibrahim dibakar hidup-hidup oleh Raja Namruz yang mengaku sebagai tuhan. Ketika dakwah telah disampaikan Ibrahim dari satu tempat ke tempat yang lain, namun penolakan demi pengingkaran yang diterimanya, sementara usia Nabi Ibarahim semakin bertambah tua, padahal dakwah harus dilanjutkan, maka Ibrahim memohon kepada Allah, “Rabbi hab i minas shalihin (Ya Allah, abugerahkanlah kepadaku anak yang saleh).”

Allah menyatukan Nabi Ibrahim dalam pernikahan dengan Siti Hajar yang juga merupakan perempuan yang beriman. Dari pernikahan ini Nabi Ibrahim memiliki seorang putra. Pada saat mengandung, Siti Hajar meutupi kehamilan nya dengan stagen, demi menjaga perasaan Siti Sarah. Demikian mulia akhlak Siti Hajar kepada Siti Sarah. Hingga melahirkan Ismail, akhlak mulia ini selalu ada padanya. Kecemburuan Siti Sarah dan perintah Allah-lah pada akhirnya memaksa Nabi Ibrahim membawa Siti Hajar dan anaknya ke suatu lembah sunyi yang jauh dari Palestina tempat tinggal mereka.

Di lembah Mekkah, Nabi Ibrahim meninggalkan istri dan anaknya yang selalu dinantikan kehadirannya. Tidak ada apapun di lembah sunyi tersebut. Hajar memegang baju suaminya, karena tidak mau ditinggal sendirian. Tetapi ketika dia mengetahui semua itu adalah perintah Allah, maka dengan ikhlas dia melepaskan suaminya untuk kembali ke Palestina. Begitu mulia akhlaknya. Kecintaannya kepada Allah melebihi segalanya. Keyakinan bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkannya sangatlah kuat, sehingga dia dapat menepiskan kesedihan ditinggalkan sendiri bersama anaknya di lembah yang sunyi.

Dari ayah ibu yang sangat mencintai Allah inilah Ismail dibesarkan. Ismail tumbuh menjadi anak yang begitu berbakti kepada orangtuanya. Sekalipun sang ayah tidak berada di sisinya, tetapi sang ibu selalu menunjukkan dan menceritakan kebaikan-kebaikan sang ayah. Inilah awal pembentukan karakter bagi anak yang tumbuh tanpa didampingi sang ayah. Setelah sang ibu tetap menumbuhkan rasa cinta kepada Allah. Tidak pernah sang ibu mendidik anaknya dengan memperlihatkan kesedihan ditinggalkan suaminya sendiri di tempat yang tidak ada apapun. Hal tersebut ditunjukkan Siti Hajar mulai saat pertama kali ditinggalkan Nabi Ibrahim. Dia berlari ke bukit Shafa untuk mencari air dan pertolongan. Kemudian dia berlari ke bukit Marwa, terus menerus dia lakukan hingga sampai tujuh kali. Apa yang dilakukan Siti Hajar tersebut menjadi salah satu rukun haji dan umroh yang hingga saat ini dilakukan oleh kaum muslimin. Dengan mencari keridhoan Allah. Akhirnya setelah lelah barulah ia melihat air di bawah kaki anaknya Ismail. Lalu dibuatlah kolam untuk menampung air tersebut.

Pelajaran penanaman cinta dan kasih sayang yang akhirnya melekat pada diri Ismail. Bagaimana akhlak sang ibu juga melekat pada dirinya. Karakter yang terbentuk dari keluarga. Berawal dari seorang ibu yang membentuknya. Maka tidaklah heran jika Ismail kecil penuh kepatuhan mengikuti sang ayah yang ingin menyembelihnya. Bahkan hingga dewasa, ketika sang ayah memintanya untuk menceraikan istrinya, semua ia lakukan karena sangat yakin apa yang dikatakan sang ayah adalah perintah sari Allah subhanahu wata’ala.

Faktor lingkungan yang paling utama adalah keluarga. Setelah itu masyarakat. Pendidikan karakter bukanlah sepenuhnya tanggung jawab guru di sekolah. Hal inilah yang sering kali orang tua memahami dengan salah kaprah. Terlebih lagi terhadap guru di sekolah-sekolah full day school. Dimana anak-anak telah seharian berada di sekolah. Tetapi ternyata akhlak dan perilakunya belumlah sebaik yang diharapkan. Para orangtua seringkali menyalahkan pihak sekolah ketika mendapatkan anaknya punya kelakuan yang kurang baik. Dan terkadang mereka lupa jika anak-anak tersebut tetaplah memiliki waktu yang lebih banyak di rumah daripada di sekolah.

Orang tua seharusnya menyadari bahwa peran mereka dalam membentuk karakter anak-anak memiliki porsi yang besar daripada guru di sekolah. Orangtua terutama seorang ibu adalah madrasah pertama bagi putra dan putrinya. Sebagaimana hadist Rasulullah SAW yang diceritakan Abu Hurairah Ra, berkata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kemudian kedua orantuanyalah yang akan menjadikan anak itu Yahudi, Nasrani atau Majusi. Sebagaimana ternak yang melahirkan binatang yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya?” (Hadist shohih Bukhari no 1296).

Sebagaimana keluarga Nabi Ibrahim mendidik Nabi Ismail. Peran orangtua yang luar biasa. Penanaman rasa cinta kepada Allah SWT sebagai Sang Khalik. Pencipta manusia dan seluruh alam semesta. Rasa cinta dan ketaatan ini tidaklah mungkin terbentuk dalam sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Ketaatan yang sempurna terhadap perintah Nya yang bisa melahirkan karakter yang terpuji pada diri setiap insan manusia.

Kisah keluarga Nabi Ibrahim, mengambarkan bahwa penanaman karakter baik pada diri anak dimulai dari karakter orang tua yang kuat. Kuat keimanannya kepada Allah, penanaman aqidah sejak kecil. Kecintaan dan ketaatan kepada Sang Maha Pencipta yang juga ditunjukkan oleh orangtua. Teladan perilaku yang baik dalam kehidupan yang tidak terpisah antara agama dan kehidupan. Perilaku pada akhirnya membuat seorang anak bersikap baik dimana pun dia berada.

Allahu a’lam.

Artikel oleh Ustadz Fariz Farrih Izadi, Lc.,M.H.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X