Jagalah Shalat

Ada suatu nasihat yang pernah disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada sahabat junior, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum, berikut potongan hadis tersebut yang penuh makna:

“Jagalah hak Allah, niscaya Allah akan menjagamu.” (H.R. Tirmidzi, no. 2516 dan Ahmad, 1:293).

Disebutkan dalam Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam (1:462), yang dimaksud menjaga hak Allah di sini adalah menjaga batasan-batasan, hak-hak, perintah, dan larangan-larangan Allah. Yaitu seseorang menjaganya dengan melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan tidak melampaui batas dari batasan-Nya (berupa ,perintah maupun larangan Allah). Inilah yang disebutkan dalam firman Allah, “Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada Setiap hamba yang selalu kembali“ (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya), (yaitu) orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan Dia (datang dengan hati yang bertaubat.” (Q.S. Qaaf: 32-33).

Salah satu dari bentuk menjaga hak Allah Ta’ala adalah dengan menjaga shalat. Shalat adalah tiang agama, jika tiang ini rusak atau roboh maka perkara agama lainnya tidak berarti apa-apa. Oleh karena dalam kesempatan ini akan dibahas beberapa hal yang berkaitan tentang shalat.

Pengertian Shalat

Shalat secara bahasa artinya do’a. Menurut istilah dibagi ke dalam 2 pengertian: 1) lahir, 2) hakiki. Secara lahir berarti beberapa ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam yang dengannya kita beribadah kepada Allah menurut syarat-syarat yang telah ditentukan. Secara hakiki berarti berhadapan hati (jiwa) kepada Allah, dengannya mendatangkan takut kepada-Nya serta menumbuhkan di dalam jiwa rasa kebesaran-Nya dengan penuh kekhusyukan diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Berdasarkan pengertian tersebut, maka shalat pada prinsipnya merupakan suatu rangkaian ibadah kepada Allah Ta’ala dengan berbagai macam ucapan dan perbuatan yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam berdasarkan syarat-syarat dan rukun-rukun yang telah ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kewajiban Shalat Lima Waktu

Kewajiban shalat lima waktu memang baru muncul setelah Isra’ Mi’raj, tapi bukan berarti sebelum itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mengerjakan shalat. Sebetulnya kewajiban shalat sudah ada sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj. Shalat diwajibkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak awal ia diangkat sebagai nabi dan menerima wahyu pertama. Dalam hadis riwayat Ahmad dan Ad-Daraquthni bahwa, “Jibril datang kepada Rasul ketika menyampaikan wahyu pertama dan mengajarkan Rasul wudhu dan shalat.” Sebagian ulama mengatakan, kewajiban shalat pertama kali adalah 2 rakaat di waktu subuh dan 2 rakaat sore hari. Berdasarkan keterangan Qatadah – seorang tabiin, muridnya Anas bin Malik – “Puasa pertama kali yang diperintahkan adalah puasa 3 hari setiap bulan, dan shalat 2 rakaat di waktu pagi dan 2 rakaat di waktu sore.” (Tafsir At-Thabari, 3/501).

Bagaimana cara beliau shalat? Imam Ibnu Utsaimin mengatakan, “Allahu a’lam, yang jelas beliau shalat. Bisa jadi tata caranya dengan ijtihad mereka atau berdasarkan wahyu. Jika tata cara shalat yang beliau kerjakan ketika itu, berdasarkan wahyu maka statusnya telah mansukh (dihapus) dengan tata cara shalat yang saat ini.” Jika berdasarkan ijtihad, syariat telah menjelaskan tata cara shalat yang benar.

Tentang shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menjadi imam nabi-nabi yang lain pada saat peristiwa isra mi’raj. Shalat apakah yang beliau lakukan?

“Dari Anas bin Malik radhiyallahu‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kejadian Isra’ Mi’raj, di antara penggalannya, ‘Kemudian aku masuk masjid (Al-Aqsa) dan aku shalat 2 rakaat.'” (H.R. Muslim 162).

Syaikh Athiyah Shaqr berpendapat dalam kitab Al-Mawahib Al-Laduniyah:

  1. Sebagian ulama mengatakan shalat wajib, berdasarkan keterangan An-Nu’mani, dan sebagian mengatakan, shalat sunah.
  2. Jika itu sunnah, sebagian ulama berpendapat itu adalah sholat tahiyyatul masjid
  3. Jika itu shalat wajib maka shalat apa ? Sebagian berpendapat, yang mendekati itu shalat subuh, bisa juga shalat isya. Ada yang mengatakan itu terjadi sebelum mi’raj (naik ke langit) dan ada yang mengatakan terjadi sesudah mi’raj.

Setelah cukup detail membawakan rincian perselisihan, beliau mengakhiri dengan nasehat, “Apapun itu, perselisihan dalam kasus semacam ini, tidak memiliki manfaat yang bisa diamalkan.”

Urgensi Shalat 5 Waktu

1. Shalat adalah Tiang Agama

Kedudukan shalat adalah sebagai tiang agama, Jika tiangnya lemah maka lemah pula agamanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pokok urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, sedangkan puncaknya adalah jihad.” (H.R. At-Tirmidzi).

2. Shalat adalah media komunikasi hamba dengan Allah Ta’ala. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam telah bersabda:

“Sesungguhnya apabila seorang hamba mengerjakan shalat, maka ia sedang bermunajat kepada Rabb-nya…” [HR. Al-Bukhari no. 531]

“Keadaan yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah saat sujud, maka dari itu perbanyaklah berdoa (saat itu).” (Shahih Muslim no. 482).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, “Aku membagi shalat (yaitu surat Al-Fatihah, pent.) untuk-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Dan untuk hamba-Ku sesuai dengan apa yang dia minta.” Ketika hamba berkata (yang artinya), “Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam”; Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku memujiku.” Ketika hamba berkata (yang artinya), “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”; Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku menyanjungku.” (sanjungan yaitu pujian yang berulang-ulang, pent.) Ketika hamba berkata (yang artinya), “Yang menguasai hari pembalasan”; Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku memuliakanku.” Dan terkadang Allah berfirman, “Hamba-Ku memasrahkankan urusannya kepada-Ku.” Ketika hamba berkata (yang artinya), “Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan”; Allah Ta’ala berfirman, “Ini adalah antara Aku dan hamba-Ku. Dan untuk hamba-Ku apa yang dia minta.” Dan ketika hamba berkata (yang artinya), “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”; Allah Ta’ala berfirman, “Ini adalah untuk hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku sesuai apa yang dia minta.” (H.R. Muslim no. 395)

3. Shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab

“Amalan seorang yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat adalah shalat. Jika baik shalatnya maka baik pula seluruh amalannya. Namun jika buruk shalatnya maka buruk pula seluruh amalannya.” (H.R. Thabrani).

4. Shalat adalah pembeda muslim dengan kafir

Para sahabat berijma’ (bersepakat) bahwa meninggalkan shalat adalah kafir. Terdapat beberapa hadis yang membicarakan masalah ini:

Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 257).

Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu -bekas budak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam-, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pemisah Antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia melakukan kesyirikan.” (HR. Ath Thabari dengan sanad sahih).

Sebagaimana ditegaskan dalam salah satu hadis riwayat Ibnu Abi Hâtim dalam kitab Sunan, dari Ubâdah bin Shâmit radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasalullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah berwasiat kepada kita, ‘Janganlah kamu berbuat syirik kepada Allah sedikitpun, dan janganlah kamu sengaja meninggalkan shalat, barangsiapa yang benar-benar dengan sengaja meninggalkan shalat maka ia telah keluar dari Islam.’”

Imam Ahmad –rahimahullah- juga mengatakan, “Setiap orang yang meremehkan perkara shalat, berarti telah meremehkan agama. Seseorang memiliki bagian dalam Islam sebanding dengan penjagaannya terhadap shalat lima waktu. Seseorang yang dikatakan semangat dalam Islam adalah orang yang betul-betul memperhatikan shalat lima waktu. Kenalilah dirimu, wahai hamba Allah. Waspadalah! Janganlah engkau menemui Allah, sedangkan engkau tidak memiliki bagian dalam Islam. Kadar Islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar shalat dalam hatimu.“ (Lihat Ash-Shalah, hal. 12).

5. Shalat adalah dzikir paling besar dan sempurna

Shalat yang lebih utama yaitu shalat yang di dalamnya terdapat dzikir pada Allah dengan hati, lisan, dan badan. Karena Allah Ta’ala menciptakan makhluk untuk beribadah, maka ibadah yang paling utama adalah shalat. Sebagaimana dimaklumi bahwa dalam shalat terdapat ibadah dengan seluruh jawarih (anggota badan) yang tidak terdapat pada ibadah lainnya. Oleh karena itu disebut dalam ayat dengan wa ladzikrullahi akbar, yaitu shalat lebih utama dari ibadah lainnya. Allah Ta’ala berfirman:

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Ankabut: 45).

Orang Shalat Masih Maksiat?

“Ibnu Mas’ud pernah ditanya mengenai seseorang yang biasa memperlama shalatnya. Maka kata beliau, ‘Shalat tidaklah bermanfaat kecuali jika shalat tersebut membuat seseorang menjadi taat.’” (HR. Ahmad dalam Az Zuhd, hal. 159 dengan sanad shahih dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 13: 298 dengan sanad hasan dari jalur Syaqiq dari Ibnu Mas’ud).

Al Hasan berkata, “Barangsiapa yang melaksanakan shalat, lantas shalat tersebut tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia hanya akan semakin menjauh dari Allah.” (Dikeluarkan oleh Ath-Thabari dengan sanad yang shahih dari jalur Sa’id bin Abi ‘Urubah dari Qotadah dari Al-Hasan).

Abul ‘Aliyah pernah berkata, “Dalam shalat ada tiga hal di mana jika tiga hal ini tidak ada maka tidak disebut shalat. Tiga hal tersebut adalah ikhlas, rasa takut dan dzikir pada Allah. Ikhlas itulah yang memerintahkan pada yang ma’ruf (kebaikan). Rasa takut itulah yang mencegah dari kemungkaran. Sedangkan dzikir melalui Al-Quran yang memerintah dan melarang sesuatu.” (Lihat Tafsir Al-Quran Al-Azhim, 6: 65).

Semoga kita menjadi hamba-hamba Allah yang selalu menegakkan shalat serta menjaganya dengan sebaik-baiknya. Dan semoga Allah selalu memberikan taufik berikut inayah-Nya kepada kita. Wallahu A’lam.

Artikel oleh: Ustadz M. Fauzi Arif, M.I.Kom.
Editor: Fadil Ibnu Ahmad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X