Keagunan Do’a

Sufyan Tsauri berkata, “Wahai yang hamba-Nya paling Dia cintai adalah yang sering berdoa kepada-Nya, maka hamba-Nya memperbanyak memohon kepada-Nya. Wahai yang hamba-Nya paling Dia benci adalah yang enggan memohon kepada-Nya, dan tidak ada yang seperti itu kecuali Engkau Ya Allah”. Allah Subhanahu Wata’ala adalah Yang Maha Kuasa, Maha Pemberi, dan Dia juga Maha Dermawan, Maha Terpuji. Dia memerintahkan dan mengajarkan hamba-Nya untuk memohon hanya kepada-Nya segala apa yang hamba-Nya butuhkan, dan segala keinginannya. Ini sesuai yang tercantum di dalam hadis qudsi, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Tirmidzi, dari Abu Dzar ra, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda bahwa:

“Allah berfirman, ‘Wahai hamba-hamba-Ku sesungguhnya kalian semua dalam keadaan tersesat kecuali mereka yang Aku beri petunjuk, maka, mohonlah kepada-Ku hidayah, maka Aku akan memberikannya hidayah. Setiap dari kalian dalam keadaan kekurangan, kecuali mereka yang Aku beri kelapangan rezeki, maka mohonlah rezeki kepada-Ku nisacaya Aku akan memberinya rezeki. Dan setiap dari kalian adalah pelaku dosa, kecuali meerka yang Aku beri ampunan. Barangsiapa yang mengetahui bahwa Aku Maha Kuasa, untuk memberi ampunan, maka mintalah ampunan kepada-Ku, pasti akan Aku beri ampunan dan Aku tidak menghiraukan apapun.

Wahai hamba-hambaKu, seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari bangsa manusia dan jin, berada pada taraf ketakwaan seorang paling tinggi tingkat ketakwaannya di antara kalian, maka hal itu takkan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari kalangan bangsa jin dan manusia, berada pada taraf kedurhakaan seorang yang paling tinggi tingkat kedurhakaannya di antara kalian, maka hal itu takkan mengurangi kerajaanKu sedikit pun.

Wahai hambaKu, seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari bangsa manusia dan jin, semuanya berdiri di atas tanah yang tinggi, lalu mereka semua meminta kepadaKu, lalu Aku penuhi permintaan mereka, untuk yang demikian itu, maka itu tidaklah mengurangi apa-apa yang Aku miliki, kecuali seperti berkurangnya sebuah jarum jika dimasukkan ke dalam lautan.
Yang demikian itu karen Aku Maha Dermawan, Maha Terpuji, Aku melakukan apapun yang Aku kehendaki. Pemberian-Ku adalah kalam, Adzab-Ku adalah Kalam, sesungguhnya keadaan kekuasaan-Ku, apabila Aku menghendaki sesuatu, Aku Berfirman “Jadilah” maka ia terus menjadi.'”

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, “Mohonlah petunjuk kepada-Ku maka akan Aku beri petunjuk kepada kalian. Dia juga berfirman, Mohonlah rezeki kepada-Ku, maka Aku akan memberikannya kepada kalian.” Kemudian berfirman pula, “Mintalah ampunan kepada-Ku, maka akan Kuberi ampunan baginya, dan Aku tidak menghiraukan apapun.”

Pada hakikatnya Allah memerintahkan kita untuk meminta pertolongan dan berdoa kepada-Nya. Allah juga mengajarkan kita bagaimana dan dengan apa berdoa kepada-Nya dan menjelaskan mengapa kita diperintahkan untuk memohon hanya kepada-Nya. Allah menjamin akan menjawab dan mengabulkan doa kita, Maha Suci Allah yang Maha Kaya dan Maha Terpuji.

Allah yang Maha Terpuji memberikan nikmat kepada hamba-Nya setiap malam hari berupa ampunan apabila hamba-Nya memohon ampunan kepada-Nya. Dia menjawab permintaan hamba-Nya apabila mereka meminta kepada-Nya, seperti yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Allah Subhanahu Wata’ala turun ke langit dunia ketika telah usai sepertiga malam pertama. Kemudian Allah berkata, Aku lah yang Maha Kuasa. Aku lah yang Maha Kuasa. Barangsiapa yang berdoa, maka Aku akan jawab do’anya. Barang siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku berikan kepadanya apa yang dia minta. Barangsiapa yang memohon ampunan-Ku, maka akan Aku ampuni kesalahannya. Itu akan terus berlangsung sampai fajar datang menggantikan malam.” (H.R Muslim).

1. Hamba yang paling Allah benci adalah dia yang enggan berdoa kepada Allah

Allah membenci hamba-Nya yang menyombongkan diri serta enggan memohon pertolongan kepada Allah. Dia tidak meyakini ke-Esaan-Nya, sedangkan Allah Maha Kaya dan Maha Mencukupi hamba-Nya. Sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al-Mu’min ayat 60:

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan yang hina.”

Imam Ibnu Katsir berkata, “Firman Allah Subhanahu Wata’ala (sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku ) makna beribadah di sini adalah berdoa kepada-Ku dan meng-Esakan-Ku, ( akan masuk neraka jahannam dalam keadaan yang hina) maknanya dalam keadaan yang terhina dan tercela.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Nu’man bin Basyir RA, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Do’a adalah ibadah.” Kemudian Rasulullah membacakan ayat, “Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan yang hina.”

2. Doa adalah faktor penyebab turunnya rahmat Allah dan cara meraihnya

Doa adalah faktor penyebab turunnya rahmat Allah dan cara untuk meraihnya, sesuai dengan firman Allah:

“Katakanlah kepada orang-orang musyrik, Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan karena ibadahmu, padahal kamu sungguh telah mendustakannya-Nya, karena itu, kelak adzab pasti akan menimpamu.” (Q.S Al-Furqan 25 : 77).

Ibnu Katsir berpendapat, “Firman Allah Subhanahu Wata’ala, ‘Katakanlah kepada orang-orang musyrik, Tuhanku tidak mengindahkan kamu’ bermakna ‘Allah tidak akan menghiraukan dan tidak mengkhawatirkan kalian, jika kalian tidak menyembah-Nya. Sebab, sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala menciptakan makhluk agar tumbuh keinginan beribadah kepada-Nya, meng-Esakan-Nya dan bertasbih kepada-Nya siang dan malam.'” Ini Sesuai dengan apa yang ditegaskan oleh Makhul Rahimahullah, yaitu:

Empat perkara yang apabila ada pada diri seseorang, maka dia akan mendapatkan manfaat dari keempat perkara tersebut. Empat perkara tersebut adalah syukur, iman, doa, dan istighfar. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, “Allah tidak akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman.” (Q.S An-Nisa, 4 : 147), “Dan Allah tidak akan menghukum mereka, sedang mereka masih memohon ampunan” (QS Al-Anfal, 8 : 33), “Katakanlah kepada orang-orang musyrik, Tuhanku tidak mengindahkan kamu.” (QS Al-Furqan, 25 : 77).

3. Keberkahan do’a diharapkan dapat diraih di setiap tempat/keadaan

Imam Ibn Rajab Al-Hambali menulis sebuah bab di dalam bukunya At-Takhwif Minan-Nar dengan judul Orang yang Berbuat Maksiat Mendapatkan Manfaat dari Do’a di dalam Neraka. Dituliskan di sana sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Ada empat golongan penghuni neraka yang akan dikeluarkan dari neraka. Salah seorang dari mereka ada yang berdoa kepada Allah di dalam neraka, maka Allah mengabulkannya.”

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra., Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Akan keluar dari neraka empat golongan, kemudian mereka dihadapkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Salah satu dari mereka menoleh dan berkata kepada Allah, “Ya Allah, Engkau telah mengeluarkanku dari neraka, maka jangan kembalikan aku ke dalamnya, maka Allah selamatkan dia dari neraka.” (H.R. Muslim).

4. Doa dijamin akan dikabulkan, dengan beberapa ketentuan

Allah menjamin bahwa doa-doa yang kita panjatkan akan dikabulkan oleh-Nya. Allah berfirman, “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kuperkenankan bagimu,'” (Q.S Al-Mu’min [40]: 60) dan firman Allah “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasannya Aku dekat. Aku mengambulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia memohon kepadaKu. Maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.S Al-Baqarah [2]: 186).

Apabila seorang ingin doanya dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, ada beberapa hal yang harus dia jaga, di antaranya adalah adab dalam berdoa. Misalnya, tidak memohon kepada Allah hal-hal yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh manusia biasa, memohon menpadatkan hal-hal yang diharamkan (maksiat), atau memohon untuk diputuskan tali silaturahim, dan lain sebagainya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah bahwa Abdullah Ibn Mughaffal mendengar anaknya berdoa, “Ya Allah aku meminta Engkau berikan kepadaku kerajaan megah berwarna putih yang dibangun di samping surga jika aku kelak memasukinya.” Kemudian dia berkata kepada anaknya, “Wahai ananda, mintalah kepada Allah agar dimasukkan ke dalam surga dan mintalah pertolong dari-Nya agar dijauhkan dari neraka. Sebab, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ‘Akan datang sebuah kaum, yang selalu berlebih-lebihan dalam berdoa dan bersuci.’” (H.R. Ibnu Majah).

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S Al-‘Araf [7]: 55-56).

Demikian pula, seorang hamba tidak diperkenankan untuk tergesa-gesa dalam memohon jawaban/pengkabulan doa-Nya. Sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., “Doa seorang hamba akan dikabulkan Allah selama dia tidak memohon kemaksiatan, memutuskan tali silaturahmi, dan selama dia tidak tergesa-gesa ketika memohon doanya agar dikabulkan.” Ada salah seorang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan tergesa-gesa di sini?” Rasulullah menjawab, “Seorang berkata, ‘Aku sudah berdoa tetapi Allah belum mengabulkan doaku.’ Akhirnya dia berputus asa dan meninggalkan doanya.” (HR Muslim).

Allahu A’lam.

Artikel oleh Ustadz Fariz Farrih Izadi, Lc.,M.H.
Editor: Fadil Ibnu Ahmad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X