Kewajiban Persatuan Dalam Islam

Sasaran kerja para pendakwah dan aktivis Islam adalah persatuan, ta’liful qulub, kerapian, dan kekokohan barisan. Mereka harus menjauhi perselisihan dan perpecahan serta menghindari segala hal yang dapat memecah belah persatuan. Perselisihan menimbulkan kerusakan pada hubungan baik sesama masyarakat dan melemahkan agama, umat, dan dunianya. Islam mengajak kepada persaudaraan yang terwujud dalam persatuan dan solidaritas, saling menolong, membantu, serta mengecam perpecahan dan perselisihan.

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”. Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya. (Q.S. Ali Imran 3 : 100-107).

Al-Hafidz As-Suyuthi di dalam Ad-Durrul Mantsur menyebutkan sejumlah riwayat tentang sebab turunnya ayat-ayat tersebut. Di antara riwayat yang paling rinci adalah riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Ishaq, Ibnu Jurair, Ibnu Mundzir, Ibnu Abi Hatim, dan Abu as-Syaikh dari Zaid bin Aslam, ia berkata, “Syas bin Qais, seorang tokoh dan gembong kekafiran pada masa jahiliyah yang sangat memusuhi dan membenci kaum muslimin, pernah berjalan melewati majelis yang terdiri atas beberapa sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari suku Aus dan Khazraj, kedua suku ini saling bermusuhan di masa jahiliyah. Melihat persatuan dan keakraban yang dibina di atas landasan Islam ini, timbullah kedengkiannya, kemudian berkata, ‘Para tokoh Bani Qilah telah bersatu di negeri ini. Demi Allah, kami tidak akan membiarkan mereka bersatu di negeri ini.’”

Syas bin Qais kemudian memerintahkan seorang pemuda Yahudi dengan pesannya, “Pergilah dan duduklah di majelis mereka kemudian ingatkanlah mereka akan peristiwa Bu’ats dan peristiwa-peristiwa sebelumnya. Selanjutnya, bacakanlah kepada mereka syair-syair yang pernah dibacakan pada peristiwa tersebut.”

Peristiwa Bu’ats adalah pertempuran yang terjadi antara suku Aus dan Khazraj (pada masa jahiliyah) yang dimenangkan oleh suku Aus.

“Selanjutnya pemuda Yahudi itu pun melakukannya sehingga timbullah kegaduhan di antara mereka. Masing-masing pihak saling membanggakan dirinya. Salah seorang dari mereka menantang temannya, seraya berkata, “Jika kalian suka, Demi Allah, sekarang juga kami sanggup melakukan kembali sebagaimana dulu (dalam peristiwa Bu’ats). Beranglah kedua belah pihak hingga mereka berkata, “Kita pernah melakukan, keluarkan senjata, kita kumpul di lapangan!” Mereka pun keluar menuju lapangan, akhirnya berkumpullah masing-masing dari suku Aus dan Khazraj dengan slogan-slogan sebagaimana pada masa jahiliyah dahulu. Berita tentang kejadian ini sampai pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Akhirnya, bersama beberapa orang Muhajirin, Rasulullah segera datang kepada meraka lalu bersabda, “Wahai kaum muslimin, Takutlah kepada Allah! Takutlah kepada Allah! Apakah seruan-seruan jahiliyah muncul lagi, sedangkan aku masih ada di antara kalian? Apakah setelah Allah menunjukkan kalian kepada Islam, memuliakan kalian, menghapuskan cara jahiliyah dari kehidupan kalian, menyelamatkan kalian dari kekufuran, dan melembutkan hati kalian, kalian kembali lagi kepada kekufuran?”

Akhirnya, mereka sadar bahwa apa yang baru saja dilakukan adalah tipu daya setan dan musuh-musuh mereka. Mereka lalu meletakkan senjata, seraya menangis dan saling berangkulan satu sama lain. Mereka pulang kembali bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan penuh ketaatan.

Dengan demikian Allah memadamkan api tipu daya yang ditiupkan oleh musuh Allah: Syas bin Qais, kepada mereka. Berkenaan dengan perbuatan Syas bin Qais ini, Allah subhanahu wata’ala menurunkan firman-Nya:

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha menyaksikan apa yang kamu kerjakan?” Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan?”. Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Ali Imran [3]: 98-99).

Adapun untuk kaum Aus dan Khazraj, Allah menurunkan firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Q.S. Ali Imran [3]: 100 – 105).

Ayat-ayat tersebut merupakan ajakan serius kepada persatuan pandangan hidup dan kesatuan barisan Muslim di atas landasan Islam. Ayat-ayat tersebut mengandung pengertian sebagai berikut:

  1. Peringatan agar berhati-hati terhadap intrik-intrik orang di luar Islam karena isu dan intrik yang mereka lontarkan tidak lain hanyalah untuk memurtadkan kaum Muslimin;
  2. Mengungkapkan bahwa persatuan merupakan buah keimanan, sedangkan perpecahan adalah buah kekafiran;
  3. Berpegang teguh kepada tali Allah, bagi semua pihak merupakan asas persatuan dan kesatuan kaum Muslimin. Tali Allah adalah Islam dan Al-Qur’an;
  4. Mengingatkan bahwa Ukhuwah Imaniyah, persaudaraan atas landasan keimanan setelah beraneka permsuhan dan peperangan jahiliyah merupakan nikmat terbesar sesudah nikmat Iman;
  5. Sejarah adalah catatan berbagai pelajaran dan pemberi nasihat yang baik bagi manusia. Sejarah telah mencatat bahwa orang-orang sebelum kita telah berpecah belah dan berselisih dalam masalah agama, kemudian mereka binasa.

Perselisihan yang tidak beralasan, karena terjadi setelah mereka mendapatkan ilmu pengetahuan dan penjelasan dari Allah. Karena itu Allah memperingatkan dalam ayat-Nya:

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Q.S. Ali Imran [3]: 105).

Demikianlah Al-Qur’an telah menegaskan bahwa kendatipun kaum muslimin berbeda jenis, warna, negeri, bahasa dan tingkatan, mereka adalah satu umat, umat pertengahan, yang dijadikan oleh Allah saksi atas manusia. Umat yang disebut Al-Qur’an dengan, “engkau adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah.

Semoga kita semua dapat menjaga ikatan suci persaudaraan dan persatuan sesama umat Islam, tidak mudah terhasut dan terpecah belah, sehingga kita memiliki keunggulan dan Izzah. Ammiin.

Artikel oleh Ustadz Fariz Farrih Izadi, Lc.,M.H.
Editor: Fadil Ibnu Ahmad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X