Masa Depan Hakiki

Masa-masa dimulainya sekolah baru, mulai dari tingkat dasar sampai dengan tingkat tertinggi, pilihan pendidikan, baik orang tua maupun anaknya, biasanya tidak akan terhindar dari tujuan kesuksesan dan masa depan yang cerah. Orang tua berani berkorban dana yang tinggi demi sekolah di lembaga yang hebat untuk sebuah nama “kesuksesan” anaknya. Hal ini merupakan sebuah tindakan yang sah-sah saja dilakukan oleh orang tua manapun, karena mereka merupakan penanggungjawab amanah anak yang diberikan Allah kepadanya. Sehinggal, mereka harus melakukan upaya yang luar biasa agar anaknya termasuk kepada orang yang berpengetahuan, karena menuntut ilmu hukumnya adalah wajib. Kewajiban menuntut ilmu itu wajib disampaikan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Menuntut Ilmu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan.”

Di sisi lain, pendidikan yang mahal belum tentu menjamin seseorang menjadi orang yang baik, memiliki karakter yang baik, dan berakhlak mulia. Tidak sedikit lembaga pendidikan saat ini hanya mengajarkan tentang keilmuan saja, bukan mengajarkan tentang keshalihan. Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dikurangi jam belajarnya di sekolah, padahal yang akan menjadi acuan dalam berprilaku adalah pendidikan agama bukan pendidikan matematika/sains. Semahal apapun sebuah lembaga pendidikan, apabila di dalamnya tidak terkandung ajaran-ajaran untuk ketaatan kepada Allah, mengamalkan Islam dengan sebaik-baiknya, dan lebih menekankan kepada kesuksesan di dunia saja, maka itu termasuk kepada masa depan yang nisbi. Karena itu, apabila ada orang tua yang hanya mementingkan kehidupan dunia saja, tanpa memperhatikan pendidikan agamanya, berarti orang tua tersebut telah salah mengambil jalan dan macam kesuksesan, yaitu kesuksesan yang nisbi saja bukan hakiki.

Setiap manusia yang hidup di dunia ini, tidak akan bertahan selamanya. Pada saatnya dia akan dijemput oleh Allah melalui malaikatnya yang bertugas mencabut nyawa. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan ukuran usia umatnya, yaitu rata-rata kebanyakan akan sampai pada usia 60 tahun sampai dengan 70 tahun saja. Selebihnya dari 70 tahun merupakan bonus dari Allah agar lebih banyak beribadah dan bertaubat. Setiap amalan yang sudah dilakukan selama hidupnya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Yang Maha Adil, Hakim Yang Maha Bijaksana, dan Tuhan sekalian alam. Dia akan menanyai setiap manusia, untuk apa ia gunakan kehidupan ini? Karena itu, kesuksesan manusia, terlebih kita umat Islam bukanlah di dunia, akan tetapi kesuksesan yang hakiki adalah kesuksesan setelah kematian. Jadi, masa depan yang hakiki untuk kita adalah hidup setelah kematian.

Bagi orang yang beriman, tidak ada negosiasi untuk beriman kepada hari akhir, dan itu termasuk kepada salah rukun iman. Setiap manusia tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi akhir zaman, namun yang pasti adalah waktu tersebut akan datang, dan pastinya setiap manusia tida bisa berbuat banyak. Dan ketika waktu itu tiba, maka akan kekal selamanya. Firman Allah dalam surat Al-A’la ayat 17.

“Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”

Kehidupan di dunia hanya sebentar saja, yang kekal adalah akhirat. Dunia bukanlah merupakan tempat tinggal melainkan tempat meninggal. Namun, banyak orang yang tertipu dengan keindahan perhiasan dunia seisinya. Tidak sedikit orang yang mengorbankan kehormatannya demi memenuhi kebutuhan duniawinya, padahal sebuah kehormatan sangat dimuliakan dalam Islam, bahkan sangat dijunjung tinggi derajatnya. Orang yang mengambil hak orang lain tanpa direstui, bisa dengan jalan mencuri, menipu, ataupun membegal, sejatinya dia mengorbankan kehormatannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Walaupun untuk kebutuhan hidup, namun perbuatan itu tetap tergolong kepada perbuatan yang melawan hukum, sehingga berhak untuk dilakukan tindakan hukum. Maka ia tergolong orang yang mengorbankan kehormatannya demi kebutuhan sesaat.

Rasulullah pernah bersabda dalam hadisnya, “Orang yang cerdas itu adalah orang yang bisa menahan nafsunya dan beramal untuk akhiratnya.” (Al-Hadits). Orang yang bisa mengelola kehidupan yang sesaat, untuk meraih kehidupan yang hakiki, maka ia telah memanaj kehidupannya untuk kesuksesan hakiki. Secerdas apapun otak manusia, apabila digunakan bukan untuk menghamba kepada Allah subhanahu wata’ala, maka masih kalah dengan cara berfikir orang biasa, namun berfikirnya selalu untuk beribadah dan meningkatkan ketakwaan kepada-Nya.

Manusia sebagai makhluk hidup dan sosial, maka harus terpenuhi beberapa keperluan mendasar agar eksistensinya senantiasa terjamin. Di antara hal tersebut adalah rezeki, ilmu, jodoh, dan lain sebagainya. Di antara kebutuhan yang mendasar yang dibutuhkan oleh setiap manusia sudah ada ukurannya, setiap manusia sudah dijamin dengen kebutuhan-kebutuhan tersebut, sehingga tidak perlu lagi dirisaukan. Kewajiban kita adalah berikhtiar dan berdoa agar hal-hal tersebut bisa terwujud.

Saat ruh manusia ditiupkan kedalam calon bayi dalam rahim ibunya, malaikat atas perintah Allah akan mencatat takdir-takdir yang akan didapatkan oleh bayi tersebut, mencakup besaran rejeki yang dapat diterimanya, batasan usianya, bahagianya dan celakanya. Semuanya pasti akan didapatkan oleh orang tersebut. Hal ini tergmbar dalam hadis Rasulullah berikut ini:

“Dari Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud ra.a, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan, ‘Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan diperintah untuk ditetapkan empat perkara, yaitu rejekinya, ajalnya, amalnya, dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selainnya. Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dengan surga tinggal sehasta. Akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia kedalam ahli neraka. Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dengan neraka tinggal sehasta, akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga, maka masuklah dia ke dalam surga.'” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Dari keterangan di atas dapat kita sadari bahwa rezeki dan ajal adalah termasuk hal yang sudah gariskan oleh Allah bagi setiap manusia. Ketaatan manusia merupakan salah satu upaya untuk menjadikannya selamat di dunia dan akhirat. Serta kemaksiatan manusia juga merupakan salah satu jalan kesengsaraan di dunia dan akhirat, namun keduanya bisa jadi bertolak belakang apabila Allah menghendaki lain. Hal yang menjadi perhatian kita adalah, kita jangan terlalu percaya diri menganggap takdir di akhir ajal kita baik, sehingga kita isi waktu-waktu yang ada dengan kemaksiatan dan kedurhakaan kepada-Nya. Tidak ada sedikit pun waktu digunakan untuk beribadah. Maka ini adalah konsep yang salah, karena kita semuanya belum tahu bagaimana akhir hayat kita. Karena itu, kita harus mengisi waktu-waktu kita dengan beribadah dan berdoa, agar waktu-waktu kita dipenuhi dengan keberkahan dan rahmat dari-Nya. Dengan upaya seperti ini, mudah-mudahan akhir hayat kita dalam keadaan baik dan husnul khatimah. Amin.

Rezeki bukanlah hal yang pokok, bahkan menjadi kegelisahan manusia, mengapa demikian? Karena rezeki sudah dijamin oleh Allah subhanahu wata’ala, manusia hanya diperintahkan untuk berikhtiar dan berdoa agar rezeki bisa datang dan berlimpah. Ketentuan rezeki yang menjadi jaminannya disampaikan Allah dalam surat Fathir ayat 3:

“Wahai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?”

Surat Hud ayat 6:

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi, melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhil Mahfudz).”

Ibnu Katsir di dalam tafsirnya menyebutkan bahwa Allah subhanahu wata’ala mengabarkan kepada manusia bahwa Dialah yang menjamin rezeki setiap makhluk-makhluknya dari segala penjuru bumi, dari makhluk terkecil sampai terbesar, dan dari daratan sampai lautan.

Bekal Untuk Akhirat

Manusia sudah dibekali oleh Allah dengan berbagai panca indera dalam menjalani kehidupan yang sebentar ini. Mulai dari yang terlihat sampai dengan yang tersembunyi dalam setiap jiwa manusia, seperti mata, telinga, hidung, mulut, tangan, kaki, dan hati serta akal. Semuanya merupakan anugerah yang Dia berikan kepada setiap hamba-Nya dengan cuma-cuma, serta tidak perlu dengan permohonan terlebih dahulu. Semuanya sudah didesain sedemikian rapi oleh-Nya agar kita bisa menjalani kehidupan dengan selamat.

Firman Allah dalam surat al-Insan ayat 2:

“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu kami jadikan dia mendengar dan melihat.”

Allah subhanahu wata’ala telah melengkapi setiap manusia dengan pendengaran, penglihatan, hati dan fikiran untuk mencari jatidiri kita agar menjadi bagian orang yang lulus ujian dunia. Ujian sekolah itu adalah gambaran kecil bagaimana seseorang bisa lebih meningkat kelasnya, karena mereka telah lulus ujian. Manusia yang bisa lulus dari ujian hidup, maka keimanan mereka akan semakin baik, meningkat dan meningkat, dan apabila tidak meningkat minimal ada pada batasan yang normal.

Sebuah kesalahan besar apabila yang menjadi kebingungan setiap orang tua hanya kesuksesan duniawi saja tanpa memikirkan kesuksesan hakiki di akhirat. Kesuksesan yang didapatkan di dunia bisa menjadikan hamba tersebut sombong dan bahkan berdosa apabila tidak disertai dengan iman dan ilmu. Namun kesuksesan yang memadukan antara dunia dan ukhrawi akan menjadikan orang tersebut matang, kalaupun dia sukses di kehidupan fana ini, maka akan menjadi fasilitas penunjang untuk mendapatkan kesuskesan yang hakiki. Karena kesuksesan yang hakiki bagi setiap manusia adalah bisa mendapat ridhanya Allah subhanahu wata’ala.

Fikih Amal

Allah subhanahu wata’ala telah mengingatkan kita semua agar meningkatkan keimanan untuk membentuk ketakwaan yang baik. Selain itu memperhatikan hari esok yang pasti akan datang bagi setiap manusia. Hal ini menunjukkan bahwa masa depan yang hakiki, yaitu hidup setelah kematian kita. Hal ini tergambar dalam firman-Nya dalam surat al-Hasyr ayat 18:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Mengajarkan ketauhidan kepada anak merupakan salah satu misi yang baik agar mereka mendapatkan kesuksesan hakiki. Kurangi pergaulan mereka dengan handphone, perbanyak interaksi dalam keluarga agar mereka terbina dan terarahkan menjadi pribadi yang saleh dan salehah, sehingga mereka mendapatkan kesuksesan yang hakiki di akhirat. Amin.

Artikel oleh Ustadz Encep Abdul Rojak, S.H.I.,M,Sy.
Editor: Fadil Ibnu Ahmad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X