Menolak Rasisme Untuk Menjaga Persatuan

Akhir-akhir ini kita mendengar kabar yang menyedihkan dari tanah Papua, kerusuhan dan konflik kemanusiaan telah terjadi di sana, menurut keterangan Kapolda Papua Irjen Rudolf A Rodja, yang dikutip oleh Tribunnews, kerusuhan tersebut terjadi akibat tersebarnya berita bohong, mengenai seorang guru yang mengeluarkan kata rasis, sehingga sebagai bentuk solidaritas, mereka melakukan aksi tersebut.

Rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu – bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya. Islam sangat menolak rasisme, karena dalam Islam, manusia adalah makhluk yang mulia, seluruhnya, tanpa membedakan jenis kelamin, ras, golongan, suku, dan warna kulit, hal tersebut ditulis secara jelas dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Al-Isra 17:70).

Allah telah menciptakan manusia dengan bentuk dan penampilan yang terbaik. Dalam Al-Qur’an Surat at-Tin diistilahkan dengan frasa fî ahsani taqwîm. Mayoritas ahli tafsir memaknai taqwîm di sini sebagai bentuk (syakl) dan penampilan (shûrah) lantaran struktur tubuh yang tegap, cara konsumsi yang menggunakan tangan, dan keindahan lain yang tak dimiliki kebanyakan binatang.

Yang menarik, penegasan tentang hal ini menggunakan dua huruf penguat lam dan qad (wa laqad khalaqnâl insâna fî ahsani taqwîm) yang berarti pesan ini sangat Allah tekankan. Apalagi sebelum ayat keempat ini, tiga ayat sebelumnya masing-masing merupakan redaksi sumpah, yang kian memperkokoh pernyataan tersebut. Allah sungguh-sungguh menegaskan bahwa manusia Dia ciptakan dalam bentuk terbaik. Hal ini berlaku untuk manusia secara umum tanpa membeda-bedakan antara satu sama lain.

Namun demikian, ternyata Allah pun menciptakan mereka dalam ciri yang beraneka ragam, mulai dari jenis kelamin, suku, rumpun bangsa, hingga kemampuan fisik. Pada titik inilah, manusia kemudian terkelompok-kelompokkan berdasar kesamaan yang dimiliki. Berangkat dari kondisi ini tak jarang sentiman antarkomunitas pun muncul. Ras satu menganggap diri lebih unggul dari ras yang lain, etnis satu merasa lebih baik dari yang lain. Kecenderungan tersebut lazim kita sebut dengan rasisme, yakni ketika superioritas atau keunggulan dinilai sekadar dari ciri-ciri biologis atau kedaerahan: antara kulit hitam dan berwarna, antara orang dari daerah A dan orang dari daerah B, antara pendatang dan pribumi, dan seterusnya.

Kita tentu sering mendengar kisah pembangkangan Iblis kepada Allah yang menolak bersujud hormat kepada Nabi Adam ‘alaihissalam. Faktor utama yang membuat Iblis durhaka adalah lantaran ia yang diciptakan dari api merasa lebih baik ketimbang Adam yang tercipta dari tanah. Inilah awal mula kemunculan benih rasisme di kalangan makhluk, ketika kualitas diri dihitung hanya dari pembedaan antara ras api dan ras tanah. Atas sikap takaburnya ini, Iblis dilempar keluar dari surga dan menjadi makhluk paling dilaknat.

Kesalahan pokok Iblis adalah hanya memandang Adam sebagai Adam, bukan Adam sebagai manusia ciptaan Allah yang sekaligus dimuliakan-Nya. Menganggap remeh Nabi Adam sama artinya menghina penciptanya. Apalagi secara tegas Allah berfirman, “Wa laqad karramnâ banî âdam (sungguh telah Kami muliakan manusia).” Rupanya Iblis la’natullah ‘alaih tidak hirau. Ia memilih jalur ingkar dan hingga kini terus menabur teladan buruknya itu ke seluruh umat manusia.

Lantas apa yang mesti kita perhatikan agar terhindar dari rasisme yang menjerumuskan itu? Setidaknya ada tiga poin yang harus diterapkan. Pertama, menyadari bahwa standar kemuliaan manusia bukanlah fisik melainkan ketakwaan. Pemahaman ini merujuk pada firman Allah:

“Wahai manusia! Sungguh Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS al-Hujurat: 13).

Dengan demikian, di luar ketakwaan setiap manusia adalah setara. Tidak boleh didiskriminasi atau pun dilecehkan hak-haknya, baik karena kemiskinanannya, ketidaktahuannya, serta identitas agama, suku, atau rasnya. Bagaimana kita mengukur ketakwaan orang lain? Tidak ada parameter paling akurat kecuali Allah sendiri yang Mahatahu. Takwa seseorang lebih banyak berasal dari kedalaman hati, dan inilah yang paling diperhitungkan Allah dalam diri manusia. Selaras dengan ayat di atas adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Sesungguhnya Allah tidak memperhatikan badan dan rupa kalian, melainkan Dia memperhatikan hati kalian.”

Poin kedua, yang juga penting dicatat adalah: lebih banyaklah fokus pada kekurangan diri sendiri dari pada kekurangan orang lain. Muhâsabah atau introspeksi akan menjadikan orang lebih sibuk dengan ikhtiar memperbaiki diri ketimbang mengoreksi orang lain. Keuntungannya, yang terjadi kemudian adalah berlomba dalam kebaikan (fastabiqûl khairat; berkompetisilah dalam kebaikan!), bukan berlomba saling menjatuhkan. Menghina atau meremehkan orang lain sama sekali tak membuat diri kita semakin mulia, justru mungkin sebaliknya. Sebab, kemuliaan manusia sejatinya lebih sering tersirat daripada tampak secara kasat mata.

Syekh Muhammad Ali al-Bakri dalam Dalîlul Fâlihîn li Thuruq Riyâdlis Shâlihîn mengatakan:

“Kadang, orang ‘remeh’ di mata manusia memiliki kapasitas lebih besar di sisi Allah dari pada kebanyakan orang yang diagung-agungkan di dunia.”

Poin Ketiga, penting bagi kita untuk mengasah kepekaan terhadap nilai-nilai kesetaraan dengan memperbanyak bergaul atau berdialog dengan orang lain yang berbeda. Betapa banyak ketersinggungan, kebencian, dan tindak menyakiti orang lain dilatari komunikasi yang buntu. Dengan membuka komunikasi, kita akan terhindar dari kecurigaan, salah paham, atau perbuatan menyinggung yang (meskipun) tak disengaja. Inilah nilai utama dari potongan surat Al-Hujarat yang disebut tadi:

Lita’ârafû atau supaya saling mengenal menjadi tujuan kunci dari diciptakannya manusia yang bermacam-macam jenis kelamin, suku, dan bangsa. Semangat ini pula yang dicontohkan Nabi saat hijrah beliau sampai pertama kali di Madinah. Beliau mencairkan perbedaan kabilah dan dikotomi pribumi-pendatang dengan mempersaudarakan mereka dalam satu ikatan.

Islam sangat membenci perpecahan dan perselisihan, sampai-sampai Rasulullah memerintahkan orang yang sedang membaca Al-Qur’an agar menghentikan bacaannya apabila bacaannya itu akan mengakibatkan perpecahan. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Jundah bin Abdullah dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda, “Bacalah Al-Qur’an selama bacaan itu dapat menyatukan hati kalian, tetapi jika kalian berselisih, hentikanlah bacaan itu.”

Islam menganjurkan pemeluknya untuk selalu menjaga persatuan dan kesatuan, karena di dalamnya terdapat banyak nilai positif dan manfaat bagi kehidupa umat. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Persatuan akan memperkuat orang-orang yang lemah dan menambah kekuatan bagi orang-orang yang sudah kuat.

“Orang mukmin yang satu dengan orang mukmin yang lain seperti bangunan yang saling memperekat.” (Hadits Muttafaqun Alaihi).

2. Persatuan merupakan benteng pertahanan dari ancaman kehancuran.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Kalian harus berjama’ah karena tangan Allah (kekuasaan-Nya) bersama jama’ah. Barangsiapa melesat sendirian, maka dia akan melesat sendirian di neraka.”

Dalam hadits lain, beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam , “Sesungguhnya setan adalah serigala manusia, sedangkan serigala itu hanya memakan kambing yang lepas (dari kawanannya).”

Dari fenomena menyedihkan yang terjadi di Papua, kita dapat banyak pelajaran, untuk senantiasa menjaga persatuan, menahan diri untuk tidak menyebarkan berita yang belum pasti kebenarannya, dalam Islam dikenal dengan istilah Tabayun, mengahargai sesama manusia, dan menolak keras segala tindakan rasis yang terjadi di sekitar kita.

Mudah-mudah Allah Subhanahu Wata’ala memberikan kita hidayah dan taufiq, dan semoga Allah selalu menjaga negara kita, Indonesia. Ammiin.

Artikel oleh Ustadz Fariz Farrih Izadi, Lc.,M.H.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X