Oleh-Oleh Qurban

Pelaksanaan haji dan qurban identik dengan buah tangan. Pertama bisa berupa makanan dan minuman yang siap disantap seperti air zamzam dan kurma, dan kedua berupa daging harus diolah terlebih dahulu. Itu semuanya sudah menjadi rahasia umum, bahwa keduanya memiliki oleh-oleh. Namun yang harus kita fahami bersama bahwasanya haji dan qurban merupakan ibadah yang terdapat di bulan Dzulhijjah. Banyak orang yang rela mengeluarkan modal yang besar untuk menjadi bagian daripada pelaksana ibadah ini, dan tidak sedikit orang yang tidak bisa melaksanakan ibadah keduanya karena berbagai keterbatasan yang dimilikinya.

Secara pelaksanaannya, ibadah dibedakan menjadi ibadah berupa perkataan / ucapan dan ibadah berupa pekerjaan / perbuatan. Ada bentuk ibadah yang tergolong keduanya dan ada juga salah satunya. Salah satu contohnya adalah ibadah shalat. Ulama Fikih mendefinisikan shalat dengan istilah ibadah berupa perkataan dan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam, dengan syarat-syarat dan rukun tertentu. Perkataan dan Perbuatan senantiasa menjadi bagian daripada ibadah shalat, keduanya bagian dari ibadah shalat yang tidak terpisahkan. Karena itu, ulama fikih membedakan rukun shalat menjadi dua, pertama rukun berupa perkataan; seperti membaca al-fatihah, membaca tasyahud akhir, dan membaca salam, dan kedua rukun berupa perbuatan; seperti berdiri bagi yang mampu, rukuk yang disertai tumakninah, dan lain sebagainya. Namun ada juga ibadah yang hanya perkataan saja, seperti kita membaca Subhanallah Walhamdulillah Walailaha Illallah Wallahu Akbar, maka itu sudah menjadi bagian daripada ibadah berupa perkataan.

Selain itu, ibadah juga dibedakan menjadi ibadah yang harus ada biaya dan non biaya. Banyak sekali ibadah yang dilaksanakan tanpa harus ada biaya mahal, seperti membaca al-Qur’an, shalat berjamaah, hadir di majelis ta’lim, membantu orang lain, dan tersenyum ikhlas kepada semua orang termasuk kepada ibadah tanpa biaya. Namun ada juga ibadah yang harus mengeluarkan modal, seperti berinfak harus dengan harta, berwakaf harus dengan harta, berqurban di hari raya / tasyrik harus dengan harta, dan melaksanakan ibadah haji / umroh harus dengan harta. Secara sunnatullahnya, ibadah-ibadah yang bermodal ini harus disertai modal yang cukup dalam pelaksanaannya, kecuali orang-orang yang dipilih oleh Allah menjadi bagian daripada yang mendapatkan dispensasi berupa tanggungan dari orang lain, dan itupun jumlahnya sangat kecil dan sedikit.

Dari kedua bagian di atas, dapat kita fahami bersama bahwa ibadah haji dan qurban merupakan dua ibadah yang memiliki kesamaan, yaitu sama-sama harus punya modal untuk melaksanakannya walaupun jumlahnya berbeda. Walaupun secara mendasar setiap ibadah itu harus didasarkan kepada acuan pokok yaitu mengesakan / mentauhidkan Allah dengan jalan keikhlasan dalam beramal, kerelaan dalam berkorban, dan kesungguhan dalam menjalaninya. Ini modal utama dalam setiap ibadah umat Islam, baik berupa perkataan maupun perbuatan.
Oleh-oleh kedua ibadah ini bukanlah materi saja, bukan hanya air zam-zam dan buah kurma dari Makkah, bukan hanya daging segar yang siap diolahkan, namun lebih jauh dan luar biasa daripada itu semuanya adalah pesan takwa dan keimanan dari masing-masing ibadah ini.

Ditengah kegelisahan akidah dan kecintaan umat manusia kepada harta, tidak sedikit orang yang menjadi acuan utama dalam bebagai hal adalah harta. Kesuksesan dilihat dari harta, kebahagiaan diukur dari harta, kesungguhan dalam bekerja pun parameternya harta, sehingga zaman kita saat ini dikenal juga dengan istilah materialisme yang berarti sebuah faham yang menjadi harta sebagai tujuan utama, menjadikan harta sebagai parameter dalam kehidupan, dan tidak sedikit orang yang lebih cinta kepada harta daripada cinta kepada tuhannya. Walaupun demikian, masih banyak orang yang bersungguh-sungguh untuk melaksanakan ibadah haji yang notabenenya harus dilaksanakan dengan harta yang banyak. Bahkan untuk Bandung sendiri, antrian ibadah haji sudah diatas 10 tahun. Selain itu, ibadah qurban pun tidak pernah sepi setiap tahunnya, ada yang setiap tahunnya berqurban, ada yang dilakukan dengan menyicil, ada yang dilakukan dengan patungan, dan ada juga hasil dari menabung. Ini membuktikan bahwa ibadah ini tidak membatasi setiap orang, namun sama-sama harus berusaha untuk menyiapkan modal dalam pelaksanaanya, walaupun penyediaannya beragam.

Itulah inti poin dari oleh-oleh yang ada pada keduanya, yaitu sama-sama mengeluarkan harta dalam ibadah ini. Karena itu, kita harus memahaminya dan bisa mengambil pelajaran berharga, sehingga kita bisa meneladani sikapnya walaupun kita belum bisa melaksanakan ibadah haji ataupun berqurban.

Perintah untuk berqurban disandingkan bersamaan dengan perintah Shalat. Kedua perintah ini tidak semata-mata amalan yang harus ditunaikan oleh setiap muslim dengan tangan hampa, tetapi Allah subhanahu wata’ala terlebih awal menegaskan bahwa Dia telah memberikan bekal untuk menjalankan tugas mulia tersebut, yaitu berupa kenikmatan yang banyak. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam surat al-Kautsar ayat 1-3 sebagai berikut:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.”

Alhamdulillah, dengan kenikmatan yang Allah berikan kepada kita, kita bisa melaksanakan tugas dengan baik, bisa menyapa orang-orang yang berada di sekitar kita, bisa menunaikan janji-janji kita, dan bisa beramal baik dan soleh termasuk bisa membaca al-Qur’an, biletin, dan baca berita langsung dari HP kita. Semuanya itu tidak terlepas dari kenikmatan yang Allah berikan kepada kita. Karena itu, Allah memberikan pesan untuk melaksanakan shalat dan berqurban ini begitu indah, tidak ada manusia yang bisa menyangkal dan menghindar dari amalan ini, karena kita ternyata sudah Allah berikan bekal agar kita berusaha dan memaksakan diri kita untuk shalat setiap saat dan berqurban di hari raya iedul adha. Hakikat sebuah kenikmatan adalah mutlak pemberian dari Allah. Tidak ada satupun kenikmatan yang bukan bersumber dariNya. Firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 53:

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.”

Diceritakan bahwa pernah ada seorang ulama yang menyampaikan bahwa apabila kalian ingin bermaksiat kepada Allah dipersilahkan, asalkan engkau sudah bisa keluar dari kenikmatan yang Allah berikan. Apakah itu bisa? Jawabannya dengan tegas TIDAK. Manusia tidak akan bisa keluar dari kenikmatan dari Allah, karena tidak ada yang bisa memberikan nikmat kecuali Dia. Hal ini bisa kita lihat dalam surat Fatir ayat 3:

“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?”

Berkaitan dengan kenikmatan, apabila kita ukur-ukur kenikmatan yang telah Allah berikan kepada kita, mungkinkah kita bisa menghitungnya? Berapa kertas yang harus kita siapkan? Berapa ribu pulpen yang harus kita beli untuk menuliskan kenikmatan yang telah kita rasakan sejak lahir ke dunia, bahkan ketika kita berada dalam kandungan pun, Allah sudah memberikan nikmat yang luar biasa bagi setiap calon bayi yang ada di kandungan ibunya. Maka jelaslah sudah, bahwasanya kita semua adalah manusia yang fana, tidak punya apa-apa, semuanya adalah pemberian dari Allah, jadi kenapa kita masih membanggakan diri dari harta titipan itu? Karena kita semua tidak akan bisa menghitung kenikmatan-kenikmatan tersebut. Firman Allah dalam al-Qur’an an-Nahl ayat 18:

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Oleh-oleh Qurban

Qurban diartikan sebagai pengorbanan seorang muslim dari harta yang dimilikinya semata-mata untuk mengharapkan ridhoNya. Secara bahasanya, qurban dalam bahasa arab bermakna mendekatkan, yaitu mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala dengan mengeluarkan sebagian harta yang dimilikinya.

Kesungguhan

Seberapa besar manusia itu berkorban, maka sebesar itu pula kesungguhan dalam kecintaan dan ketaatan. Tidak sedikit orang yang banyak harta, tetapi tidak mau bergabung mengeluarkan harta untuk berkorban. Dan tidak sedikit juga orang yang terbatas dengan harta, mereka mampu mengeluarkan harta yang dimilikinya untuk berkorban di jalanNya. Ada orang yang secara pekerjaan sebagai pemulung, namun mampu memberikan harta yang dikumpulkannya untuk berkorban di hari raya ini. Ini menunjukkan kesungguhan dalam ketatan kepadaNya.

Loyalitas

Kita sering mendengar, sebuah perkumpulan biasanya akan ada iuran, terlebih lagi perkumpulan yang bergengsi, maka iurannya pun akan semakin besar. Rata-rata setiap anggota akan membayar iuran tersebut sebagai tanda kesetiannya. Atau misalkan kita lihat sejarah, ketika sebuah kerajaan yang ditaklukan akan membayar upeti kepada tuannya, dan itu menunjukkan keloyalitasannya, namun ketika tidak dibayar upetinya, maka dianggap membangkang. Semakin rajin dia membayar dan memberikan hadiah, maka ia semakin loyal kepada tuannya. Ketika orang yang berkorban memberikan sebagian hartanya, berarti dia termasuk orang yang loyalitasnya tinggi. Karena itu, kita yang belum bisa berqurban pun harus loyal kepada Allah walaupun tidak dengan harta.

Keyakinan

Sikap optimis akan mempengaruhi kesungguhan dalam berusaha. Kenapa kegiatan berjudi tidak pernah ada hentinya, padahal sebagian besarnya adalah orang yang kalah. Kegiatan mabuk-mabukan tidak pernah musnah, padahal mereka sangat dirugikan dengan kehilangan kesadaran, menurunya kesehatan, serta harta yang dikeluarkan menjadi sia-sia, dan masih banyak lagi yang lainnya. Kenapa hal itu bisa terjadi, jawabannya karena mereka yakin akan tujuannya. Banyak yang melakukan perbuatan pidana demi mendapatkan harta untuk membeli minuman keras. Banyak yang memuja, bertapa, dan perbuatan syirik lainnya demi memasang togel dalam perjudian, dan banyak juga orang yang mengorbankan kebahagiannya demi kenikmatan yang sesaat. Ini disebabkan keyakinan yang mendalam. Begitu juga dengan orang yang berqurban dengan harta mereka, ia menunjukkan keyakinan yang besar akan balasan kasih sayang dari Allah subhanahu wata’ala. Mereka yakin bahwa kebajikannya akan dibalas dengan sebaik-baik balasan. Mereka yakin bahwa harta yang dikeluarkannya itu tida sia-sia, karena itu kita pun sama harus lebih meningkatkan keyakinan kita kepada Allah walaupun tidak dengan jalan berkorban harta.

Tanda Cinta

Cinta butuh pengorbanan. kata-kata tersebut merupakan adagium yang sudah tidak asing di kalangan manusia, terlebih lagi di kalangan remaja yang lagi berbunga-bunga dengan perasaannya. Orang yang mencintai Allah dan Rasulnya, tidak akan memandang pengorbanan itu mahal, berapapun harta yang dikeluarkan akan terasa bahagia dan rela, karena pengorbanan itu didasari rasa cinta. Kita sering mendengar sahabat-sahabat Rasulullah yang mengorbankan hartanya tanpa batas, sampai tidak terhitung lagi harta yang dikeluarkan untuk perjuangan Islam, semuanya tidak dihiraukan. Bahkan yang lebih besar daripada harta pun, yaitu jiwa dan raga, semuanya dikorbankan dan rela mati demi menjaga akidah, demi cinta kepada Allah dan Rasulnya. Sama dengan saat ini, bahwa orang yang berkorban merupakan tanda cinta kepada Allah subhanahu wata’ala.

Artikel oleh Ustadz Encep Abdul Rojak, S.H.I., M.Sy.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X