Penyebab Disyariatkannya Ibadah

Ibadah merupakan kewajiban yang dilaksanakan karena Allah, karena Dialah Tuhan yang Maha Memiliki secara mutlak, sedangkan berhala-berhala yang disembah oleh para penyembahnya itu tidak mampu memiliki sesuatupun. Pada ayat-ayat berikut ini, Allah ta’ala menerangkan hikmah disyariatkan ibadah untuk membantah orang-orang kafir, Allah ta’ala menyatakan bahwa urusan ibadah ialah perintah yang sangat luhur, maka peringatan yang sangat keras bagi sesiapapun yang meninggalkannya. Sungguh, ibadah itu tidaklah disyariatkan semata-mata karena Allah memerlukan untuk disembah oleh hamba-hamba-Nya. Selanjutnya Allah ta’ala menjelaskan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas perbuatan dirinya sendiri. Sungguh, kabar gembira dan peringatan itu hanyalah berguna kepada orang-orang yang takut kepada Allah dan mendirikan shalat.

Allah ta’ala menerangkan tentang sifat-Nya yang Maha Kaya, sehingga Dia tidak memerlukan selain-Nya. Sedangkan makhluk-makhluk-Nya sangat bergantung kepada Allah dan membutuhkan-Nya. Allah ta’ala berfirman: Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. (QS. Fathir (35): 15). Maksudnya, wahai sekalian manusia, kalianlah yang sangat memerlukan Allah secara mutlak. Dialah yang telah memberikan kehidupan, Dialah yang Maha Mengatur di balik setiap pergerakan makhluk maupun diamnya. Dialah yang Maha Mengurusi dalam seluruh urusan agama maupun dunia. Oleh karena itu sembahlah Dia, karena buah ibadah itu kembali kepada kalian manusia itu sendiri. Dialah Allah yang Maha Kaya dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah yang Maha Terpuji, setiap makhluk bersyukur kepada-Nya atas limpahan nikmat, perbuatan, perkataan dan syariat-Nya. Terdapat kata asmaul husna pada penghujung ayat, yaitu Al-Hamiid (Maha Terpuji) menunjukkan bahwa Allah itu Maha Kaya dan Maha Memberikan manfaat kepada makhluk-Nya. Dialah Allah yang Maha Pemurah memberikan nikmat kepada mereka, maka atas limpahan nikmat-Nya tersebut sesungguhnya Dialah yang berhak untuk dipuji.

Kemudian pada ayat berikutnya, Allah ta’ala menerangkan sifat-Nya yang Maha Sempurna lagi Maha Kaya dan Maha Kuasa untuk memusnahkan dan menggantikan kalian para manusia dengan makhluk yang baru. Allah ta’ala berfirman: 16. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). 17. Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah. (QS. Fathir (35): 16 – 17). Maksudnya, bila Allah berkehendak, maka Dia akan memusnahkan sekalian manusia. Lalu Allah akan mendatangkan kaum yang lain. Mereka lebih tunduk, lebih baik dan lebih sempurna daripada kalian. Hal itu tidaklah sulit bagi Allah, melainkan mudah dan ringan bagi-Nya. Ayat ini merupakan peringatan, ancaman, dan sanggahan terhadap anggapan kalian yang keliru bahwa bilamana Allah memusnahkan seluruh manusia maka akan lenyap kekuasaan Allah dan kebesaran-Nya.

Selanjutnya, Allah mengajak mereka untuk memandang dan merenungkan peristiwa yang akan terjadi pada masa mendatang. Allah pun menjelaskan tanggung jawab perbuatan yang akan dipikul masing-masing manusia pada hari kiamat nanti. Allah ta’ala berfirman: Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain … (QS. Fathir (35): 18). Seseorang yang berdosa tidak akan pula memikul dosa orang lain. Maka ayat ini pun tidak menafikan dosa yang berlipat ganda yaitu dosanya para pemimpin kesesatan yang menunjukkan dan memimpin kepada perbuatan dosa dan kesesatan, sebagaimana firman Allah: Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan. (QS. Al-‘Ankabut (29): 13). Senada dengan ayat tersebut, Allah ta’ala berfirman pada ayat lainnya: Dan mereka berkata: “Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab. (QS. Saba (34): 35).

Kemudian Allah ta’ala berfirman: Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. (QS. Fathir (35): 18). Maksudnya, bila seseorang pendosa dengan dosa-dosanya yang berat itu meminta bantuan orang lain untuk memikulkan sebagian dosanya, maka orang yang dimintai bantuan itu tidak akan dapat memikulkan dosa orang tersebut. Sekalipun orang yang dimintai bantuan itu adalah kerabatnya sendiri satu nasab seperti ayah, anak, dan lainnya. Hal ini karena setiap orang saat itu sibuk dengan diri dan keadaannya masing-masing. Mereka pun dirundung kegelisahan dan kekhawatiran yang dapat menyibukkan dirinya.

Ayat tersebut dapat ditafsirkan dengan firman Allah: Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah. (QS. Luqman (31): 33). Dan juga dapat ditafsirkan dengan firman Allah pada ayat lainnya: 34. pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, 35. dari ibu dan bapaknya, 36. dari istri dan anak-anaknya. 37. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. (QS. Abasa (80): 34 – 37).

Berkenaan ayat: Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu … (QS. Fathir (35): 18), Ikrimah menuturkan bahwa ayat ini menerangkan bahwa tetangga dekat sangat berharap dapat mengandalkan dan bergantung kepada tetangganya pada hari kiamat kelak. Tetangga itu pun kelak berkata: Ya Tuhanku, mengapakah tetanggaku ini menutup rapat pintunya. Demikian pula orang kafir berharap dapat mengandalkan dan sangat bergantung kepada orang mukmin pada hari kiamat. Orang kafir itu pun berkata: Hai mukmin, sungguh aku telah membantumu dan kamupun telah mengetahui bagaimana bantuanku kepadamu semasa di dunia. Sungguh, hari ini aku pun memerlukan bantuanmu. Maka orang mukmin itu terus-menerus memohonkan syafaat baginya kepada Allah, lalu Allah pun membalasnya dengan menempatkan orang kafir itu di neraka. Demikian pula orang tua sangat berharap dapat bergantung kepada anak-anak mereka pada hari kiamat. Orang tua pun berkata: Hai anakku, apakah aku ini adalah orang tuamu? (Bila memang benar) maka sanjunglah aku dengan sanjungan yang baik. Lalu orang tua itu pun berkata: Hai anakku betapa aku sangat membutuhkan kebaikanmu sekalipun sebesar biji sawi yang dapat menyelamatkan aku dari kesulitan yang kamu saksikan ini. Anaknya pun berkata: Hai ayahku, betapa mudah permintaanmu itu, tetapi aku takut seperti engkaupun merasakan ketakutan. Sungguh, aku tidaklah mampu memberikan sesuatupun bagimu. Kemudian orang itu pun berharap bias bergantung kepada istrinya, ia pun berkata: Wahai istriku, apakah aku ini suami bagimu? Maka sanjunglah aku dengan sanjungan kebaikan. Orang itu pun berkata: Aku memohon sedikit saja kebaikanmu supaya aku selamat dari kesulitan seperti yang kamu saksikan ini. Istrinya pun berkata: Alangkah mudahnya permintaanmu itu, tetapi aku tidak dapat memberikan sedikitpun kebaikan kepadamu. Sungguh, aku pun takut seperti halnya ketakutan yang kamu rasakan. Allah ta’ala berfirman: Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu … (QS. Fathir (35): 18).

Kemudian pada lanjutan ayat tersebut, Allah ta’ala menerangkan sesiapa saja yang mendapatkan manfaat dari peringatan, Allah ta’ala berfirman: Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka mendirikan sembahyang. (QS. Fathir (35): 18). Sungguh, orang-orang yang dapat mengambil pelajaran dari ajaran yang engkau bawa ialah orang-orang yang berakal, orang yang takut terhadap azab Tuhan mereka dalam keadaan apapun. Mereka senantiasa melaksanakan perintah Allah dan mendirikan shalat yang telah diwajibkan kepada mereka dengan baik dan sempurna. Mereka pun jauh dari kesibukan duniawi yang melalaikan dan menyibukkan mereka dari ibadah kepada Allah. Ayat tersebut dapat ditafsirkan dengan firman Allah ta’ala: Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. (QS. Yasin (36): 11).

Kemudian pada penghujung ayat tersebut, Allah ta’ala menerangkan bahwa kegunaan ibadah itu kembali kepada diri mereka sendiri, Allah ta’ala berfirman: Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allahlah kembali(mu). (QS. Fathir (35): 18). Maksudnya, sesiapa saja yang membersihkan dirinya dari kemusyrikan dan kemaksiatan, serta dia pun melakukan amal shalih, maka hakikatnya dia mensucikan dirinya sendiri, bukan orang lain. Kepada Allah lah kem bali dan kesudahan, Dia Maha Cepat perhitungan-Nya, Dia akan memberikan balasan kepada siapapun atas perbuatan mereka. Bila perbuatan itu baik, maka baik pula balasannya. Namun bila perbuatan itu buruk, maka buruk pula balasannya.

Fiqih Amal

Dari pembahasan ayat-ayat tersebut di atas, terdapat beberapa hikmah dan pesan yang dapat dipetik sebagai petunjuk mengamalkan Al-Quran bagi manusia dalam menjalani kehidupan.

  1. Manusia seluruhnya sangat memerlukan Allah yang Maha Pencipta, Maha Pemberi Rejeki dalam setiap keadaan mereka. Sedangkan Allah Maha Kaya dan tidak membutuhkan makhluk-Nya. Dialah Allah yang Maha Terpuji dalam segala perbuatan, perkataan, dan nikmat-nikmat-Nya yang berlimpah dan tidak dapat dihitung. Allah Tuhan yang Maha Kaya, ibadah yang dilakukan hamba-hamba-Nya tidaklah kembali kepada diri-Nya semata, melainkan kembali untuk kemanfaatan hamba-hamba-Nya. Maka Dialah Allah yang berhak untu disyukuri dan dipuji secara sempurna dengan syukur dan pujian dari hati yang paling dalam.
  2. Allah Maha Kuasa membinasakan segenap makhluk dan Dia pun berkuasa menggantikan mereka dengan makhluk baru yang lebih taat, lebih baik dan suci. Maka hal itu bukanlah sesuatu yang sulit dan susah bagi Allah ta’ala.
  3. Di antara prinsip Islam ialah prinsip tanggung jawab individu di dunia dan akhirat. Maka manusia tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas kejahatan orang lain dan tidak pula dia dijatuhi hukuman pelaku kejahatan yang dilakukan orang lain.
  4. Di akhirat nanti, setiap orang akan sibuk dengan dirinya sendiri, dia tidak mampu menanggung sedikitpun dosa-dosa yang dilakukan orang lain. Sekalipun orang itu ialah orang terdekat dengannya, seperti ayah, ibu, suami, istri, anak dan kerabat lainnya.
  5. Peringatan Nabi Saw. dan Al-Quran hanyalah diterima oleh orang-orang yang takut kepada Allah dalam kesendirian maupun keramaian, dan mereka pun takut terhadap siksa-Nya yang keras.
  6. Sesiapa yang mensucikan diri dari kotoran maksiat, maka sesungguhnya dia mensucikan dirinya sendiri, serta kebaikannya akan tampak di akhirat nanti. Karena kepada Allah sajalah kembalinya semua makhluk, Allah akan menghisab dan memperhitungkan perbuatan-perbuatan mereka.

Allahu A’lam.

Artikel Oleh Ustadz Sandy Rizki Febriadi, Lc., M.A.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X