Penyebab Gelapnya Hati

Hati adalah salah satu bagian penting dalam diri manusia yang merupakan pusat kehidupan. Bagaimana tidak? Hati bisa menentukan baik buruknya manusia, sehingga hati sangat menentukan kualitas kehidupan seseorang muslim. Hati bisa mengarahkan seseorang untuk melakukan kebaikan atau sebaliknya. Karena itu, penjagaan dan perawatan hati perlu dilakukan oleh seorang muslim dalam kesehariannya. Jika hati baik, maka baiklah anggota badan yang lain. Jika hati rusak, maka rusak pula yang lainnya. Baiknya hati dengan memiliki rasa takut, rasa cinta pada Allah dan ikhlas dalam niat. Rusaknya hati adalah karena terjerumus dalam maksiat, keharaman dan perkara syubhat (yang masih samar hukumnya).

Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu‘alaihi wasallam bersabda:

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).”

Seorang Shahabat Nabi yaitu Malik bin Dinar, beliau berkata, “Sesungguhnya badan apabila terkena penyakit maka akan sulit untuk menelan makanan dan minuman, demikian pula hati apabila telah tertutup dengan kecintaan kepada dunia, maka akan sulit menerima nasihat.” (Sifatus Shafwah 2/172).

Perlu diketahui, bahwa sebagaimana noda di atas baju jika dibiarkan akan membandel. Begitu pula halnya saat noda dalam hati tidak segera dibersihkan. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan,

“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristighfar dan bertaubat; niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa; niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka.’” (QS. Al-Muthaffifin: 4). (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Hadits ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi).

Imam Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nasha’ihul ‘Ibad menjelaskan bahwa terdapat empat penyebab gelapnya hati manusia. Abdullah bin Mas’ud ra. pernah berkata:

“Empat yang termasuk penyebab gelapnya hati, yaitu: perut yang terlalu kenyang, berteman dengan orang-orang zalim, melupakan dosa yang pernah dilakukan, dan panjang angan-angan.”

1. Perut Terlalu Kenyang

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menerangkan bahwa perut yang terlalu kenyang mengakibatkan penyakit fisik dan penyakit batin. Dikatakan bahwa orang yang terbiasa dalam kondisi kenyang akan merasa cukup, perlahan-lahan melupakan Tuhan yang memberi rezeki dan berpotensi membuat orang bermalas-malas untuk beribadah. Dari situlah hati mulai gelap, ia mengira bahwa makanan tersebut merupakan hasil keringatnya sendiri. Di zaman modern ini, pola makan bisa jadi tidak terkendali. Banyaknya makanan dan minuman siap saji dengan kalori dan gula yang tinggi menyebabkan munculnya penyakit. Kemudahan mendapatkan makanan dan minuman siap saji, jajan dan kue sebagai cemilan setiap saat juga menjadi pola hidup zaman modern. Tentunya manusia yang sangat minim bergerak karena dimanjakan oleh teknologi juga mendukung berbagai penyakit muncul dengan mudah. Dalam ajaran Islam yang mulia, manusia diperintahkan oleh Allah agar makan secukupnya saja dan tidak berlebihan. Allah berfirman:

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” (Q.S. Al-A’raf: 31).

Ibnu Katsir menjelaskan tafsir ayat ini, “Sebagian salaf berkata bahwa Allah telah mengumpulkan semua ilmu kedokteran pada setengah ayat ini.” Bahkan Nabi shallallahu‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa perut manusia adalah wadah yang paling buruk yang selalu diisi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihkannya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga lagi untuk bernafas” (H.R. At-Tirmidzi (2380), Ibnu Majah (3349), Ahmad (4/132), dan lain-lain).

Maksudnya, perut yang penuh dengan makanan bisa merusak tubuh. Syaikh Muhammad Al-Mubarakfury menjelaskan, “Penuhnya perut (dengan makanan) bisa menyebabkan kerusakan agama dan dunia (tubuhnya).” Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan bahaya kekenyangan karena penuhnya perut dengan makanan, beliau berkata, “Kekenyangan membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, menghilangkan kecerdasan, membuat sering tidur dan lemah untuk beribadah.”

Perut jika sampai terlalu kekenyangan yang membuat tubuh malas dan terlalu sering kekenyangan, maka hukumnya bisa menjadi haram. Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan, “Larangan kekenyangan dimaksudkan pada kekenyangan yang membuat perut penuh dan membuat orangnya berat untuk melaksanakan ibadah dan membuat angkuh, bernafsu, banyak tidur dan malas. Hukumnya dapat berubah dari makruh menjadi haram sesuai dengan dampak buruk yang ditimbulkan (misalnya membahayakan kesehatan, pent).” (Fathul Bari 9/528).

2. Berteman Dengan Orang-Orang Zalim

Banyak ayat dan hadis memerintahkan untuk berteman dengan orang-orang baik dan shalih. Karena teman seperti itu akan membantu dan mendorong kita berbuat baik. Berbeda dengan teman buruk, akibat buruk paling rendah mereka akan membuat waktu kita habis sia-sia tanpa berguna. Bahayanya terbesarnya, berteman dengan mereka bisa merusak iman dan agama kita, sehingga akan bersama mereka di akhirat kelak. Karena itu Al-Quran dan sunnah sangat-sangat melarang berteman dengan mereka.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Q.S. Al-Kahfi: 28).

Ini merupakan perkara penting dalam hidup, karena setiap insan itu harus berteman. Ia harus memiliki kawan dan sahabat. Ia harus hidup bersama orang lain untuk berinteraksi dan bahu membahu. Maka tepatlah sabda Nabi shallallahu‘alaihi wasallam sebagai peringatan bagi kita:

“Janganlah engkau berkawan kecuali dengan orang beriman dan janganlah memakan makananmu kecuali orang bertakwa.” (HR. Abu Dawud dan al-Tirmidzi).

Dalam hadis lain, “Seseorang bersama orang yang dicintainya.” (HR. Muttafaq ‘Alaih). Dan dalam hadits lain lagi disebutkan, “Seseorang berada di atas agama teman dekatnya, maka hendaknya salah seorang kamu memperhatikan dengan siapa ia berkawan.” (HR. Abu Dawud dan al-Tirmidzi).

Sesungguhnya Allah telah memperingatkan hamba-Nya dari orang-orang buruk lagi jahat. Tujuannya, agar mereka tidak berteman karib dan berkawan akrab dengan mereka. Peringatan keras kepada orang yang masih berteman dengan orang jahat dan berperilaku buruk, “Maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (Q.S. Al-An’am: 68).

Janganlah duduk-duduk dan nongkrong bersama orang-orang zalim (pendosa), karena Allah telah melarangnya. Jika tidak, maka di akhirat mereka akan saling belepas diri dan menyalahkan. Salah seorang mereka berkata, “Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab (ku).” (QS. Al-Furqan: 28).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mencontohkan kepada kita doa berlindung dari kawan yang buruk.

اَللَّهُـمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ يَوْمِ السُّوْءِ، وَمِنْ لَيْلَةِ السُّوْءِ، وَمِنْ سَاعَةِ السُّوْءِ، وَمِنْ صَاحِبِ السُّوْءِ، وَمِنْ جَارِ السُّوْءِ فِيْ دَارِ الْـمُقَامَةِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hari yang buruk, malam yang buruk, waktu yang buruk, teman yang jahat, dan tetangga yang jahat di tempat tinggal tetapku.” (H.R. Al-Thabrani).

3. Melupakan Dosa Yang Pernah Dilakukan

Ini adalah sikap seseorang yang tidak lagi memiliki perasaan penyesalan setelah melakukan kesalahan. Dan ini salah satu indikasi dari matinya hati seseorang. Seharusnya ia berhijrah dari kesalahan yang ia lakukan, kemudian memilih untuk bergabung dengan teman yang bisa membimbingnya ke jalan yang benar. Allah berfirman:

“Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu Allah mengabarkan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, Padahal mereka telah melupakannya.” (Q.S Al-Mujaadalah: 6).

Maksud dari ayat tersebut,“Mereka telah melupakan dosa-dosa mereka karena meremehkan dosa-dosa tersebut tatkala mereka melakukannya. Mereka hanya mengingat dosa-dosa yang mereka anggap besar”, akan tetapi “Allah mengumpulkan seluruh dosa-dosa mereka, tidak ada sedikit dosapun yang terluputkan…” (Al-Bahr Al-Madiid 7/511). Al-Alusi rahimahullah menjelaskan bahwa sebab manusia melupakan dosa-dosanya di antaranya adalah karena kelalaiannya yang amat sangat,terlalu lama waktu yang telah lewat sehingga ia lupa, karena terlalu banyaknya dosa yang dilakukannya sehingga ia tidak mampu untuk mengingatnya, atau terlalu parahnya sebagian dosa-dosa yang ia lakukan sehingga melupakan dosa-dosa yang dianggapnya sepele (lihat Ruuh Al-Ma’aani 30/35). Di akhirat kelak kita akan diingatkan oleh Allah, maka tatkala itu:

“Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang. Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya.“ (Q.S. An-Naazi’aat : 34-35).

4. Panjang Angan-Angan

Tumpukan harapan keduniaan yang diharuskan menjadi kenyataan tersebut berpotensi dalam membentuk hati yang gelap. Jiwa yang terlena oleh angan-angan yang panjang menyebabkan seseorang bermalas-malasan dalam ketaatan. Dan itulah indikasi dari hati yang tidak menemukan kesedihan atas ketaatan yang terlewatkan. Hasan Al-Bashir berkata, ”Tidaklah seorang hamba berpanjang angan-angan melainkan akan merusak amalannya.” (Al-Bayan wat Tabyin, jilid III, hal 74). Ali Bin Abi Thalib berkata, ”Keberuntungan menghampiri orang yang tidak mencarinya, tamak menjanjikan sesuatu yang sulit dipenuhi, angan-angan membuat buta mata orang cerdik dan siapa yang panjang angan-angan pasti menuai amal yang buruk” (Faraidul Kalam li Khulafail Kiram, Qashim Ashar, hal 345).

Demikianlah untaian nasihat orang mulia para imam kaum mukminin betapa buruknya akibat panjang angan-angan. Sebuah penyakit kronis yang sering menimpa orang yang lemah iman dan tipisnya rasa takut pada Allah Ta’ala. Terlebih lagi setan laknatullah terus memprovokasi otak dan hati kita untuk merasakan kelezatan hingga ia seolah-olah akan hidup seribu tahun. Pikirannya disibukkan untuk merancang masa depan yang terlalu jauh seperti harus kuliah, lantas bekerja, kemudian memburu kain hingga kemuncak, memiliki fasilitas hidup seperti rumah mewah, perabot, kendaraan, baru menikah. Nyaris detik menit dan hari-harinya berputar sekitar dunia tanpa diiringi bagaimana merancang kehidupan dunia dan akhirat dengan berpedoman pada perintah-Nya.

Semoga kita semua bisa menjaga hati kita dari perbuatan-perbuatan tadi. Amin. Wallahu A’lam.

Artikel oleh Ustadz Fauzi Muhammad Arif, M.Kom.I.
Editor: Fadil Ibnu Ahmad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X