Refleksi Maulid Nabi

Syeikh Shafiyyurrahman al-Mubarokfuri di dalam Sirah Nabawiyah menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan di tengah-tengah keluarga Bani Hasyim di Makkah pada Senin pagi, tanggal 9 Rabiul Awwal, bertepatan dengan permulaan tahun pada Tahun Gajah, dan empat puluh tahun setelah kekuasaan Kisra Anusyirwan, atau bertepatan juga dengan tanggal 20 atau 22 bulan April tahun 571 M. Data ini didasarkan kepada hasil penelitian dari ulama terkenal bernama Muhammad Sulaiman al-Manshurfury dan peneliti astronomi terkemuka bernama Mahmud Basya. Keduanya menyepakati bahwa kelahiran Rasulullah bertepatan dengan tanggal tersebut.

Dialah nabi akhir zaman yang lahir di dekat Ka’bah, diberi nama dengan panggilan yang belum pernah diberikan kepada manusia sebelumnya. Nama lengkapnya Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib (nama aslinya Syaibah) bin Hasyim (nama aslinya Amru) bin Abdi Manaf (nama aslinya al-Mughiroh) bin Qushoy (nama aslinya Zaid) bin Qilab bin Murroh bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr (berjuluk Quraisy dan menjadi cikal bakal nama kabilah) bin Malik bin Nadhr (nama aslinya Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (nama aslinya Amir) bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.

Banyak tanda-tanda nubuwah pada saat kelahiran Nabi yang agung ini. Di antara tanda-tanda tersebut banyak yang terjadi di luar nalar manusia biasa. Tetapi itulah karunia Allah subhanahu wata’ala bagi kekasihnya. Bertepatan pada saat kelahiran Nabi terakhir ini, terdapat cahaya yang menyinari istana-istana di Syam. Cahaya ini begitu indah dan cerah. Kemudian terjadi juga keruntuhan sepuluh balkon istana Kisra, serta padamnya api yang biasa disembah oleh orang-orang yang menamakan dirinya aliran Majusi. Selain itu, terdapat juga keruntuhan beberapa bangunan gereja di sekitar Buhairah setelah gereja-gereja itu amblas ke tanah. Hal-hal demikian itu diriwayatkan oleh Amam Al-Baihaqi.

Simbol-simbol agama, kepercayaan, dan ketundukkan yang dilakukan untuk selain Allah banyak yang hancur. Api kepercayaan orang Majusi yang tidak pernah padam sebelumnya tiba-tiba menjadi padam, gereja yang menjadi tempat ritual orang-orang yang berpaling dari Dzat yang maha segalanya diruntuhkan, serta beberapa balkon istana yang menjadi tempat kebanggaan dan keangkuhan dihancurkan juga. Ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad bin Abdulllah akan menyampaikan misi yang agung dan menumpas segala bentuk kepercayaan dan kebaktian yang dilakukan kepada selain Allah sehingga keberadaannya untuk menyucikan pribadi manusia itu sendiri.

Meningkatkan Cinta Kepada Allah

Mencintai Allah merupakan tanda orang yang beriman. Allah Tuhan semesta alam, yang menjadikan manusia, menciptakan seluruh alam, dan menjamin rezeki manusia dan makhluk hidup lainnya, serta adanya alam semesta merupakan tanda-tanda kebesaran-Nya. Sungguh naif apabila ada manusia yang tidak mencintai Allah subhanahu wata’ala, padahal dirinya berasal dari dan kembali kepada-Nya. Namun demikian, seberapa besarpun cinta manusia kepada Allah, apabila tidak dibarengi dengan kecintaan dan kepatuhan serta ketaatan akan sunnah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka itu sia-sia saja. Allah subhanahu wata’ala telah memaklumatkan dalam firman-Nya surat Ali Imran ayat 31 sebagai berikut:

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’”

Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dalam tafsirnya, bahwa ayat ini ditunjukkan kepada siapa saja yang mengaku cinta kepada Allah, namun tidak disertai dengan cinta kepada Nabi Muhammad maka itu adalah dusta. Maksud cinta kepada Rasulullah disini seperti apa? Ternyata bukan hanya dalam curahan perasaan saja, kalau seperti itu adanya, maka keluarga dan istri Rasulullah paling berhak mendapatkan derajat ini. Namun lebih daripada curahan perasaan saja, yaitu berupa mengikuti dan meniti jalan sunnah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan bukti kecintaan.

Meniti jalan sunnah memanglah tidak mudah. Segala bentuk perbuatan manusia, baik secara lisan, perasaan, dan amalan harus menunjukkan kepada cintanya yang mantap. Tidak dianggap melakukan kesunnahan apabila tidak seimbang antara perkataan, perbuatan, dan perasaan. Melakukan salah satu sunnahnya, missal membina dan mendidik yatim dan dhuafa, diberinya bekal dari harta yang dimilikinya, diberinya pembinaan dan keilmuan agar bisa maju dan berkembang, dan diberinya tempat tinggal sebagai dasar dalam membina masa depannya. Kemudian ada salah satu unsur tidak sejalan, seperti sering memarahi yatim tersebut karena merasa kesal dan marah yang tidak berdasar, maka itu bisa dipastikan tidak sempurna mengikuti sunnahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Orang yang mencintai Allah dan dibarengi juga dengan kecintaannya kepada Rasulullah maka akan mendapatkan berbagai kelebihan dari Allah. Kelebihan ini merupakan hal yang sangat dibutuhkan oleh manusia baik di dunia maupun akhirat. Diantara kebaikan yang akan didapatkan adalah:

1. Akan dicintai Allah subhanahu wata’ala

Al-Azhari menyebutkan batasan-batasan mahabbah baik dari khaliq maupun makhluk. Cinta manusia kepada Allah dan Rasul-Nya adalah berupa ketaatan, ketundukkan dan kepatuhan atas setiap ajaran, perintah, dan larangannya. Setiap perintah dikerjakan dengan baik. Setiap larangan akan dijauhinya sehingga cinta kepadanya berupa ketaatan yang sempurna. Semakin meningkat kualitas taat dan meniti jalan sunnahnya, maka berbanding lurus dengan kualitas kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan berbanding terbalik dengan kemaksiatannya.

Adapun kecintaan Allah kepada makhluk-Nya berupa pengampunan. Urusan rezeki sudah diatur sedemikian rupa, dan kuantitasnya berbeda antara satu dengan lainnya. Ada yang mendapatkan lebih dan ada juga yang kurang. Banyaknya harta berlimpah bukan termasuk cinta Allah kepada hamba-Nya, namun itu semuanya adalah ujian. Namun kasih sayang Allah kepada hamba-Nya diwujudkan dengan pemberian ampunan atas segala khilaf dan salah. Dan inilah yang paling dinantikan oleh setiap manusia, yaitu ampunan. Karena dengan ampunan-Nya kita akan mendapatkan ridha-Nya.

Selain itu, Allah subhanahu wata’ala memiliki cara lain untuk mencintai hambanya yang mengabdi kepada-Nya. Hidup nyaman dan indah serta tentram adalah dambaan setiap manusia. Namun kenyamanan itu belum tentu kasih sayang Allah. Pun dengan orang yang selalu mendapatkan kesusahan dalam hidupnya belum tentu orang tersebut termasuk mendapat azab dan kutukan. Segala kesusahan yang didapatkan oleh manusia tidak selalu itu adalah azab dan siksa, bisa jadi ujian berharga. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah berikut ini:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seorang hamba-Nya, maka Allah akan mempercepat balasan kesalahannya di dunia. Dan sebaliknya, apabila Allah menghendaki keburukan kepada hamba-Nya maka Allah tidak membalas perbuatan dosanya di dunia hingga kelak Dia membalasnya nanti di hari kiamat.” (HR. Thabrani).

Selain mendapatkan ujian dan balasan durhaka secara langsung di dunia, Allah subhanahu wata’ala memberikan cara yang baik bagi seseorang agar dia tergolong orang yang selamat dunia akhirat. Keselamatan ini didasarkan kepada pengetahuan yang dimilikinya yang selanjutnya diamalkan dalam bentuk nyata. Karena ilmu tanpa amalan bagaikan pohon tikka berbuah. Hal ini sejalan dengan hadis Rasulullah berikut ini:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan atas dirinya, maka pastilah Allah anugerahkan pemahaman akan agama.” (HR. Bukhari).

Tidak ada yang membantah bahwa dengan ilmu orang yang menjadi tahu, perkataannya akan penuh dengan hikmah, perilakunya tidak akan ngawur, dan sikapnya pun akan terukur, sehingga dia menjadi pribadi yang baik. Selain itu, dia juga disenangi oleh orang disekitarnya dan dirindukkan ketidakhadirannya.

2. Mendapatkan ampunan Allah

Siapa yang tidak senang akan karunia Allah yang satu ini? Mendapatkan ampunan dari segala khilaf dan salah adalah cita-cita yang mulia diantara cita-cita dunia. Ketika kita masih hidup di dunia saja kita sangat mengharapkan ampunan itu, terlebih lagi ketika setiap makhluk tidak bisa berbicara lagi kecuali yang diizinkan, pada saat itu ampunan merupakan harta yang tidak ada bandingannya. Orang yang termasuk hamba Allah, serta dikategorikan hamba yang dicintai-Nya, maka akan tidak sulit mendapatkan karunia ampunan Allah subhanahu wata’ala. Sang kekasih Allah tidak akan sulit mendapatkan karunia-Nya, sehingga dalam potongan ayat tersebut, orang yang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, maka Allah akan menyayanginya, dan akan menerima taubatnya hamba, serta mengampuni setiap khilaf yang ada.

3. Selamat di dunia dan akhirat

Kita bisa memastikan bahwasanya setiap hamba Allah sering berdoa memohon keselamatan dunia dan akhirat. Sebagaimana doa tersebut yang sering kita bacakan, yaitu sebagai berikut, “Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka.” Doa ini diambil dari surat Al-Baqarah ayat 201.

Orang yang dicintai Allah subhanahu wata’ala dipastikan akan selamat dunia akhirat. Kenapa demikian? Bukan semata janji Allah saja, namun kita bisa menilai bahwasanya Allah subhanahu wata’ala yang Maha Suci tidak mungkin mencintai orang yang tidak beriman dan bertakwa, pasti hamba-hamba terpilih itu adalah orang yang sangat dekat kepada-Nya. Karena itu, jaminan ini sejalan dengan perbuatan yang dilakukan oleh hamba tersebut. Tidak mungkin ada orang yang beriman dan bertakwa serta patuh terhadap ajaran Allah berpaling dari Allah dan Rasul-Nya. Orang yang dicintai Allah pasti berada pada jalan yang baik dan benar, serta ada dalam keimanan selamanya. Hal tersebut sejalan dengan firman Allah dalam surat Al-Hadid ayat 28:

“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Orang yang beriman dan bertakwa akan selalu mendapatkan pancarah cahaya keimanan dan ketakwaan, dari cahaya tersebut Allah jadikan sebagai panduan hidup. Berbicara, berkata, dan berperilaku senantiasa akan bercermin dari cahaya tersebut, sehingga semuanya terjaga dengan baik. Dengan demikian, mari kita sama-sama meningkatkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dengan jalan melaksanakan setiap ajaran Islam, meningkatkan ilmu agama disertai dengan pengamalan yang sebaik-baiknya, dan berbahagia dengan Islam yang ada di dalam dada kita. Semoga Allah memudahkan niat baik kita semuanya. Aamiin.

Artikel oleh Ustadz Encep Abdul Rojak, S.H.I.,M.Sy.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X