Sikap Orang Berilmu Saat Menyaksikan Kebesaran Allah

Diriwayatkan dari Abdul Ghani bin Sa’id Ats-Tsaqafi dalam tafsirnya dari Ibnu Abbas bahwasannya Hushain bin Al-Harits bin Abdul Muthalib bin Abdu Manaf Al-Qurasyi ialah orang yang diturunkan kepadanya ayat berikut ini: Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. (QS. Fathir (35): 29).

Allah ta’ala mengingatkan pada ayat-ayat berikut ini perihal kesempurnaan kekuasaan pada ciptaan-ciptaan-Nya yang terbentuk dari air yang diturunkan Allah dari langit. Dari air tersebut kemudian muncul berbagai macam tumbuhan dan buah-buahan yang bermacam-macam warna dan bentuknya. Allah ta’ala berfirman: Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. (QS. Fathir (35): 27). Maksudnya, wahai manusia, apakah kalian menyaksikan bahwa Allah ta’ala menciptakan berbagai ciptaan-Nya yang berbeda-beda itu berasal dari satu yaitu air yang telah diturunkan Allah dari langit. Kemudian Allah tumbuhkan berbagai tetumbuhan dan buah-buahan yang berbeda-beda jenis, macam, makanan, bau, warna, dan lainnya.

Ayat tersebut senada dengan firman Allah: Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar-Ra’ad (13): 4).

Kemudian pada penghujung ayat, Allah ta’ala berfirman: Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. (QS. Fathir (35): 27). Demikian pula Allah ta’ala menciptakan gunung-gunung yang bermacam-macam warna, diantaranya gunung berwarna merah, putih, dan warna lainnya. Demikian juga diantara gunung-gunung itu ada jalan-jalan yang berbeda-beda warnanya.

Selanjutnya, Allah ta’ala berfirman: Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). (QS. Fathir (35): 28). Maksudnya, Allah pun menciptakan ciptaan-ciptaan lainnya, seperti manusia, binatang tunggangan, hewan ternak semisal unta, sapi, domba, dan binatang lainnya yang berbeda warna namun sama jenisnya.

Kata ad-dawabb (binatang melata) pada ayat di atas bermakna binatang yang berjalan dengan bertumpu pada kaki-kakinya. Sedangkan kata al-an’am (binatang-binatang ternak) untuk menunjukkan penyandaran kata (athaf) dari kata yang bermakna khusus kepada kata yang umum. Sedangkan kata kadzalika (itu) menunjukkan pembicaraan yang sempurna dan utuh dari kalimat sebelumnya. Maksudnya, demikian pula berbeda-beda keadaan hamba-hamba dalam tingkat ketakutan mereka kepada Allah.

Pada ayat-ayat tersebut, Allah ta’ala menerangkan perbedaan warna dan bentuk ciptaan-Nya, karena perbedaan ini merupakan dalil yang sangat besar yang menunjukkan kekuasaan Allah dan keistimewaan ciptaan-Nya. Pertama-tama disebutkan perbedaan warna pada buah-buahan dan tumbuhan, kemudian disebutkan pula perbedaan warna pada benda-benda padat (ciptaan-ciptaan) lainnya, kemudian perbedaan-perbedaan yang terdapat pada manusia dan binatang.

Kemudian pada penghujung ayat, Allah ta’ala menyebutkan keadaan orang-orang yang mengetahui keindahan dan betapa terperincinya ciptaan-ciptaan Allah, mereka ialah orang-orang yang berilmu. Allah ta’ala berfirman: Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Fathir (35): 28). Maksudnya, hanyalah orang-orang berilmu yang mengenal Allah sajalah, mereka yang takut kepada Allah. Mereka yang mengenal sifat-sifat mulia yang layak bagi Allah dan perbuatan-perbuatan-Nya. Allah Maha Besar kekuasaan-Nya dan Maha Berkehendak melakukan apa-apa yang dikehendakinya.

Oleh karena itu, sesiapa yang paling mengenal Allah, maka dialah yang paling takut kepada-Nya. Sesiapapun yang tidak takut kepada Allah, maka dia bukanlah orang yang mengenali Allah. Orang-orang berilmu yang dimaksud pada ayat tersebut ialah orang-orang yang mengetahui ilmu-ilmu alam, kehidupan, dan rahasia-rahasia alam semesta. Adapun penyebab takutnya orang-orang berilmu itu kepada Allah ialah bahwasannya Allah itu Maha Kuat dalam memberikan hukuman dan azab kepada orang-orang kafir, Maha Pengampun terhadap dosa-dosa orang mukmin yang bertaubat kepada-Nya. Dialah Allah yang memberikan hukuman dan pahala, oleh karena itu hanya Dialah semata yang berhak untuk ditakuti dan berhak disandarkan harapan kepada-Nya.

Allah Dialah yang Maha Mulia menimpakan hukuman dan siksa, karena itulah dia berhak untuk ditakuti. Allah Dialah yang Maha Pengampun, karena itulah dia saja yang berhak digantungkan segala pengharapan. Semua ini hanyalah diketahui secara rinci dan teliti oleh orang-orang berilmu yang khusus dan spesialis dalam keilmuan mereka.

Ibnu Abbas menuturkan bahwa Al-‘Alim (ulama) yang dimaksud ialah Al-‘Alim bir Rahman yaitu alim ulama yang mengenal Allah yang Maha Penyayang: seseorang yang tidak menyekutukan Allah, dia menghalalkan apa yang telah Allah halalkan dan mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah, dia pun menjaga pesan-pesan Allah, dia juga yakin akan menemui-Nya, dan Allah akan menghisab amal perbuatannya.

Menurut Al-Hasan Al-Bashry, Al-‘Alim (orang berilmu) ialah seseorang yang takut kepada Allah yang Maha Mengetahui perkara gaib, seseorang yang bersemangat terhadap kebaikan yang diperintahkan Allah, seseorang yang bersifat zuhud terhadap apa-apa yang dimurkai Allah, kemudian Al-Hasan Al-Bashry membacakan firman Allah tersebut: Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Fathir (35): 28).

Sa’id bin Jabir menuturkan bahwa al-khasy’yah (takut) ialah sifat yang menghalangimu dari berbuat maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ibnu Mas’ud mengatakan bukanlah ilmu itu karena banyaknya meriwayatkan hadits, melainkan ilmu itu karena banyaknya rasa takut (kepada Allah). Imam Malik mengatakan bukanlah ilmu itu karena banyak meriwayatkan hadits, melainkan ilmu itu ialah cahaya yang Allah pancarkan dalam hati seseorang.

Ar-Rabi’ bin Anas menuturkan rasa takut itu sebanding dengan seberapa besar pengetahuan orang tersebut. Orang yang berilmu itu mengenal Allah, maka dia akan takut dan hanya berharap kepada-Nya. Ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa orang yang berilmu mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada ahli ibadah, karena Allah ta’ala menerangkan bahwa kemuliaan itu sebanding dengan seberapa besar ketaqwaan seseorang, dan tingkat ketaqwaan seseorang sebanding dengan seberapa besar pengetahuan dan ilmunya.
Aisyah menuturkan bahwa Nabi Saw. bersabda: Mengapa ada orang-orang yang tidak menyukai apa yang aku lakukan? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling berilmu (paling tahu) di antara mereka tentang Allah, dan aku adalah orang yang paling takut di antara mereka kepada Allah.

Kemudian pada ayat berikutnya, Allah ta’ala menerangkan para ulama yang membaca kitab Allah dan mengamalkannya, Allah ta’ala berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. (QS. Fathir (35): 29). Sesungguhnya orang-orang yang merutinkan membaca dan mengkaji Al-Quran serta mengamalkan perintah-perintahnya seperti melaksanakan shalat fardhu pada waktunya dengan menyempurnakan rukun dan syarat disertai khusyu dalam mendirikannya, berinfak pada siang hari maupun malam dari sebagian karunia yang telah diberikan Allah secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Mereka itulah orang-orang yang mengharapkan pahala dari Allah atas ketaatan-ketaatan mereka.

Pada penghujung ayat, Allah ta’ala berfirman: Mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. (QS. Fathir (35): 29). Ayat ini merupakan isyarat amal perbuatan yang mereka lakukan itu dengan penuh keikhlasan. Maksudnya, mereka berinfak bukan untuk disebut bahwa mereka itu orang yang dermawan, bukan pula untuk mengharapkan sesuatu selain keridhaan Allah.

Oleh karena itu, pada ayat selanjutnya Allah ta’ala berfirman: Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (QS. Fathir (35): 30). Allah ta’ala menyempurnakan pahala amal perbuatan mereka, melipatgandakannya dengan tambahan pahala yang tidak terlintas dalam benak mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun terhadap dosa-dosa mereka, Allah Maha Mensyukuri ketaatan mereka sekalipun amal perbuatan kebaikan mereka itu kurang dan sedikit.

Ayat tersebut selaras dengan firman Allah: 37. laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. 38. (Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (QS. An-Nuur (24): 37 – 38).

Fiqih ‘Amal

Dari pembahasan ayat-ayat tersebut di atas, terdapat beberapa hikmah dan pesan yang dapat dipetik sebagai petunjuk dan pelajaran dalam mengamalkan Al-Quran dan menjalani kehidupan.

  1. Di antara dalil-dalil yang menunjukkan keesaan Allah dan kekuasaan-Nya, yaitu turunnya air hujan, tumbuhnya berbagai macam tumbuhan, buah-buahan yang berbeda warna dan rasa serta bentuk dan baunya.
  2. Di antara dalil-dalil yang menunjukkan keesaan Allah dan kekuasaan-Nya, yaitu gunung-gunung yang kokoh, jalan-jalan yang terdapat pada gunung-gunung dengan warna dan bentuk yang berbeda, sekalipun materi dasar gunung-gunung itu terhimpun dari bebatuan dan tanah.
  3. Di antara dalil-dalil yang menunjukkan keesaan Allah dan kekuasaan-Nya, yaitu penciptaan manusia, binatang melata, hewan ternak dengan berbagai bentuk dan warna: merah, putih, hitam, kuning, dan lainnya. Semua itu merupakan dalil keberadaan Pencipta yang Maha Berkehendak, Dialah Allah yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya.
  4. Sesungguhnya orang-orang berilmu yang mengetahui kebesaran alam semesta dengan segala bentuknya yang terperinci, mengetahui sifat-sifat Allah dan perbuatan-Nya, mereka itulah orang-orang yang takut kepada Allah. Sesiapa yang tidak takut kepada Allah, maka mereka bukanlah orang-orang yang alim (berilmu).
  5. Sifat-sifat orang berilmu yang takut kepada Allah ialah mereka yang membaca Al-Quran dan mengamalkannya, mendirikan shalat fardhu dan sunnah, memberikan infak dari sebagian rejeki yang Allah berikan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Mereka itulah orang-orang yang mengharapkan pahala dari Allah atas ketaatan mereka, kemudian Allah akan menambahkan keutamaan dan karunia-Nya kepada mereka. Tambahan keutamaan itu ialah syafaat (pertolongan) Allah pada hari kiamat di akhirat nanti. Sesungguhnya ketika Allah memberikan limpahan pahala, maka Allah pun Maha Pengampun. Demikian pula, ketika Allah memberikan tambahan pahala, maka Allah Maha Mensyukuri menerima amal perbuatan yang tulus meskipun itu sedikit.

Allahu a’lam.

Artikel oleh Ustadz Sandy Rizki Febriadi, Lc.,M.A.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X