Ya Allah, Jadikanlah Kami Termasuk Orang Yang Sedikit

Ketika Khalifah Umar Ibn Khattab melakukan thawaf di Masjidil Haram, tiba-tiba beliau mendengar seorang laki-laki Arab yang sedang berdoa, “Ya Allah, jadikanlah aku golongan yang sedikit (minoritas).” Umar radhiyallahu ‘anhu terkejut mendengar doa tersebut dan berkata kepada ajudannya, “Bawa laki-laki itu ke hadapanku.” Maka laki-laki Arab itu dihadirkan di hadapan Umar, lalu Umar berkata, “Wahai saudaraku, sungguh doamu tadi belum pernah aku dengar sebelumnya. Apa makna doamu itu?” Laki-laki Arab itu berkata, “Orang sekaliber Tuan pasti hafal (maksud) doa tersebut, wahai Amirul Mukminin.” Pernyataan tersebut justru menambah keheranan Umar, lalu bertanya kembali dengan heran, “Bagaimana mungkin saya menghafalnya?” Laki-laki itu berkata, “Bukankah Tuan membaca Firman Allah subhanahu wata’ala dalam kitab-Nya, “Dan sangat sedikit hamba-Ku yang pandai bersyukur (QS Saba’ 31 : 34 ). Saya memohon kepada Allah supaya saya dijadikannya orang yang bersyukur.” Kemudian Umar berkata, “Saudara benar, saudara boleh kembali ke tempat. Orang-orang lebih tahu daripada Umar (dalam beberapa hal).”

Dari kisah di atas kita bisa mengambil satu pelajaran penting tentang syukur, yaitu, hanya sedikit sekali dari hamba Allah yang pandai bersyukur, sehingga Allah mengabadikannya dalam Al-Quran. Dalam kisah di atas, seorang lelaki Arab berdoa di depan Ka’bah agar dimasukkan ke dalam golongan minoritas, atau agar termasuk ke dalam golongan yang pandai bersyukur, karena ia sangat sadar dan mengetahui bahwa sangat besar balasan yang Allah berikan bagi mereka yang pandai bersyukur. Dan sebaliknya, sangat pedih hukuman dari Allah bagi mereka yang sulit mensyukuri nikmat Allah. Agar kita dapat tergolong kepada orang yang pandai bersyukur kita harus mengetahui makna syukur yang Allah harapkan dari hamba-hamba-Nya. Syukur memiliki beberapa makna, yaitu:

1. Menerima kebaikan dengan senang hati, sekecil apapun pemberian itu.

Banyak sekali nikmat yang Allah berikan kepada kita, baik yang kita rasakan ataupun yang tidak terasa, Allah berfirman, “(Dan jika engkau hitung-hitung nikmat-Ku niscaya engkau tidak akan mampu menghitungnya.” Kewajiban kita setelah menerima nikmat tersebut adalah menerimanya dengan senang hati, walaupun pemberian tersebut kita anggap kecil.

2. Memuji pemberinya.

Setelah kita terima pemberian tersebut dengan hati yang gembira, maka selanjutnya kita berterima kasih dan memuji pemberinya, dalam hal ini kita memuji kepada Allah dengan cara mengucapkan Alhamdulillah (segala puji bagi Allah) atau dengan cara memperbanyak ibadah kepada-Nya sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat malam hingga kedua kakinya membengkak, melihat hal tersebut Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Ya Rasulullah, mengapa engaku melakukan ini (shalat malam hingga kedua kakinya membengkak) padahal engkau telah dijamin masuk surga oleh Allah?” Maka Rasulullah menjawab, “Tidaklah boleh aku menjadi hamba yang bersyukur?”

Ibadah atau shalat malam tersebut adalah salah satu cara bersyukur kepada Allah terhadap nikmat yang Allah berikan kepada Rasulullah. Maka sebagai umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sudah semestinya kita meneladani beliau, khususnya dalam bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala.

3. Mempergunakan pemberian tersebut sesuai dengan kehendak pemberinya.

Ketika seseorang memberikan hadiah atau pemberian kepada saudaranya, maka sesungguhnya, sang pemberi menginginkan orang tersebut dapat memanfaatkan pemberiannya dengan baik. Oleh karena hal tersebut, tugas yang menerima hadiah tersebut adalah mempergunakannya sesuai dengan kehendak pemberinya. Begitu juga dengan nikmat yang Allah berikan kepda kita. Allah memberikan nikmat kepada kita agar memudahkan kita dalam beribadah kepada-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Tidak aku ciptakan jin dan manusia, kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (Q.S. Adz-Dzariyat: 56).

Salah satu cara mensyukuri nikmat tersebut adalah, kita jadikan nikmat tersebut sarana dan fasilitas yang menambah kualitas ibadah kita. Misalkan Allah memberi kita kelimpahan rezeki, maka kita gunakan rezeki tersebut untuk bersedekah, membantu sesama muslim, membangun masjid dan hal lain yang bermanfaat bagi agama Allah subhanahu wata’ala.

Suatu ketika, Nabi Sulaiman ‘alaihisalam bersama para tentara pengawalnya yang terdiri dari manusia dan jin mengadakan perjalanan jauh. Di tengah jalan, beliau bertemu dengan sekelompok semut yang sedang bekerja mengangkut makanan ke sarangnya. Seekor semut berseru kepada kawanannya:

”Wahai sekalian semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya sedangkan mereka tidak menyadari” (Q.S. Al-Naml: 18).

Nabi Sulaiman yang dianugerahi Allah kemampuan mengerti bahasa para binatang di antara kelebihan-kelebihannya yang lain hanya tersenyum demi mendengar perkataan seekor semut itu. Nabi Sulaiman pun langsung memanjatkan doa:

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku ilham agar tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku berbuat kebaikan yang Engkau ridhai masukkan aku dengan kasih-sayang-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih”. (QS. AL-Naml: 19).

Sungguh luar biasa sikap yang ditunjukkan oleh Sulaiman, seorang yang memiliki kekuasaan yang besar dan harta kekayaan yang berlimpah, dikawal oleh pasukan besar manusia dan jin, mengerti bahasa binatang, yang terpatri dalam kalbunya dan terucap dari mulutnya adalah rasa syukur atas anugerah yang dicurahkan Allah kepadanya. Kebanyakan manusia seringkali lupa bersyukur ketika ia mendapatkan sedikit saja kenikmatan, apalagi banyak. Berbeda dengan Nabi Sulaiman, yang karena sikap kerendahan hatinya pantas ditunjuk oleh Allah sebagai nabi yang harus kita teladani perbuatan dan tingkah lakunya, justru tak lupa bersyukur atas seluruh kenikmatan yang diperolehnya kepada Allah.

Syukur adalah seutama-utama tingkah laku. Jika kita membaca Al-Quran, membuka lembaran pertamanya, akan kita temukan bahwa kitab suci pun memulai segala pengetahuannya dengan ungkapan rasa syukur kepada Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dengan ungkapan alhamdu li Allahi Rabbi-l-‘alamin (segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam). Syukur adalah hikmah, atau sebagaimana diartikan para filsuf dengan “pengetahuan sejati”, pengetahuan sejati pertama yang diterima oleh Lukmanul Hakim. Allah subhanahu wata’ala menceritakan:

“Dia sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu ‘bersyukurlah kepada Allah dan barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.’” (Q.S. Luqman: 12).

Orang yang tidak bersyukur, atau mengingkari nikmat Allah seringkali disebut sebagai kufur, atau dijabarkan lagi oleh ulama dengan sebutan kufur nikmat. Kata kufur juga berarti ingkar terhadap Allah. Karena itu, orang yang tidak bersyukur berarti mengingkari bahwa pengetahuan, kemampuan, kekuasaan, harta dan segala kenikmatan lain yang diperolehnya berasal dari Allah. Dalam hatinya ia merasa bahwa nikmat yang didapatnya berasal dari usaha dirinya sendiri. Dengan ini maka orang yang tidak bersyukur disamakan Allah dengan orang yang ingkar terhadap Allah, atau kufur nikmat.

Rasa syukur mengandung unsur ketauhidan karena ia berhubungan dengan pengakuan akan kemahakuasaan Allah subhanahu wata’ala. Rasa syukur juga mengandung unsur ajaran akhlak dalam Islam, sebab ia berhubungan dengan perbuatan baik yang dilakukan orang bersyukur, jika dilakukan akan mendatangkan kebaikan dan kenikmatan yang lebih banyak lagi, begitu pula sebaliknya. Inilah nampaknya makna yang terkandung dalam firman Allah:

“Jika Engkau bersyukur atas nikmat-nikmat-Ku maka akan kutambahkan nikmat-nikmat itu, tetapi jika Engkau kufur (ingkar tidak mengakui bahwa itu semua dari-Ku) maka azab-Ku sangatlah pedih.” (QS. Ibrahim: 7).

Mari kita budayakan kebiasaan untuk selalu bersyukur kepada Allah. Semoga kita semua digolongkan oleh Allah termasuk dalam golongan hamba-hamba-Nya yang shalih sebagai mana doa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam tadi.

Allahu A’lam.

Editor: Fadil Ibnu Ahmad

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X